Review: Cinta Dalam Kardus

written by Rangga Adithia on June 24, 2013 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia and Romance with 2 comments

Michael Cera akan tetap jadi Michael Cera, begitupula Jonah Hill, dalam film-film yang khususnya bertema komedi akan tetap menjadi Jonah Hill. Raditya Dika yah tetap menjadi Raditya Dika, tidak ada yang salah, jika “apa adanya” akting Radit bisa dibarengi naskah yang tidak amburadul, seperti dalam “Cinta Brontosaurus” misalnya. Baiklah tidak perlu saya kembali membahas film yang kodratnya sejak awal memang diperuntukan untuk mereka yang me-retweet twit “markitdur” si Radit—move on! Jeda sekitar sebulan, “Cinta Dalam Kardus” dirilis, masih tetap dengan memampang nama Raditya Dika untuk jualannya, well seperti yang saya singgung, jika naskahnya tidak berantakan, sebetulnya film Radit bisa lebih baik, itu dibuktikan lewat film yang disutradarai oleh Salman Aristo (Jakarta Maghrib) ini. Bahkan secara mengejutkan “Cinta Dalam Kardus” bisa dikatakan film yang cemerlang sekaligus sweet dalam mempresentasikan isi kardusnya yang terbalut komedi ala “Raditya Dika”, yang kali ini (untungnya) dipoles oleh Salman.

Konsepnya, itulah yang membedakan “Cinta Dalam Kardus” dengan film-filmnya Radit sebelumnya, dengan mengambil bagian dari sederhananya “Malam Minggu Miko”, yang memang dijadikan pondasi cerita dalam “Cinta Dalam Kardus”, Radit dan Salman mampu mengembangkannya menjadi sebuah sajian yang tidak saja menghibur tapi juga dipikirkan cara pengemasan seluruh cerita. Konsep matang tersebut pun diesekusi dengan tingkat kreatifitas yang jempolan, sebuah konsep “kardus” yang kemudian terlihat klop dipasangkan dengan cerita. Hasilnya tidak saja film yang bisa dinikmati—bukan sebaliknya dimaki—tapi juga sebuah film yang membuat saya peduli dengan karakternya, disini Miko, diperankan Raditya Dika dengan curhatan-curhatannya tentang masa lalu, tentang cinta-cinta yang sudah kadaluarsa yang disimpan dalam sekotak kardus. Bercerita dilatari konsep kardus tadi, “Cinta Dalam Kardus” pun disajikan dalam bentuk panggung stand up comedy—sekali lagi konsepnya membuat saya tersenyum lebar. Film komedi yang tidak saja memikirkan bagaimana membuat penonton tertawa, tapi punya waktu juga untuk membuat konsep film komedi yang berbeda. Untuk usaha film ini yang peduli dengan penonton, dengan menyajikan sebuah komedi yang cerita dan bungkusnya tidak kacangan, sudah sepantasnya saya sebagai penonton juga peduli…setidaknya saya akhirnya bisa ketawa nonton film Raditya Dika.

Kalau saya adalah tipikal orang yang akan membuang barang-barang mantan, ya walau tidak sekaligus, pelan-pelan dibarengi dengan meng-ikhlas-kan hati untuk bisa lepas dari orang yang disayang (semoga tidak berujung curhat pribadi). Nah beda lagi dengan Miko yang menyimpan barang-barang peninggalan mantannya dalam kardus, niatnya mau dibuang, tapi langkah menuntunnya untuk bercerita, yah ada cerita manis sekaligus pahit dari setiap barang yang sudah berdebu itu. “Cinta Dalam Kardus” menghadirkan masing-masing cerita barang mantan Miko dalam situasi yang menarik dengan konsep yang menantang saya untuk ikutan berinteraksi, tidak melulu sebagai penonton pasif yang duduk diam. Layaknya stand up comedy betulan, saya seperti duduk di depan panggung Miko, awalnya juga merasa garing, tapi lama-kelamaan kisah Miko tanpa sadar sudah membuat saya hanyut masuk dalam dunia kardus buatan film ini. Pertanyaan-pertanyaan saya tentang petualangan kisah Miko pun seperti diwakili oleh mereka-mereka yang memang duduk di cafe dimana Miko tampil, interaksi-interaksi antara Miko dan penontonnya tak hanya membuat mereka yang di dalam film jadi mengerti sekaligus kontra terhadap modus percintaan Miko yang selalu punya pandangan negatif pada sebuah hubungan, tapi membuat saya juga jadi dekat dengan kisah-kisah yang dilontarkan Miko. Kisahnya tidak palsu, satu poin peduli bertambah.

Curhatan-curhatan yang diceritakan apa-adanya itu dengan segala lebay-nya ala Raditya Dika, tetap menjadi tontonan yang menarik terlepas beberapa bagiannya yang garing. Sekali lagi konsep yang membungkus “Cinta Dalam Kardus” benar-benar membuat film ini terangkat, dari sekedar film komedi cinta yang biasanya disajikan gitu-gitu saja, jadi film komedi cinta yang tidak hanya porsi komedi-nya tersaji cukup cerdas, kemasannya pun langka untuk sebuah film Indonesia. Dari awal konsep kardus dan stand up comedy-nya membuat saya betah mendengar celotehan-celotehan Miko, sambil sesekali diinterupsi oleh penontonnya, yang dari beragam umur itu, dari anak ABG yang menggebu-gebu-alay mengkritik apa yang sudah diceritakan Miko, hingga pasangan yang sudah menikah, responnya pun beda. Menarik, secara tidak langsung “Cinta Dalam Kardus” memang tidak saja ditargetkan untuk remaja-remaja baru gede yang baru mengenal cinta, tapi memang ditargetkan untuk mereka yang pernah merasakan cinta dan tersakiti. Nyeleneh, tapi curhatan Miko berhasil membuat chemistry yang manis dengan penonton, dan itu terjaga dengan baik sampai film selesai. Terlebih saya sudah dibuat jatuh cinta dengan bagaimana film ini memperlakukan tata artistik, segala kardus yang disulap menjadi setting, tidak saja mempermanis film ini, melainkan juga membuatnya unik sekali, jarang-jarang film komedi-romantis-remaja kita di-treatment kaya gini. “Cinta Dalam Kardus” adalah contoh ketika konsep yang apik dipadukan dengan cerita yang ditulis manis, hasilnya film yang cocok…cocok dengan hati penonton. Curhatan Miko, curhatan kita juga.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Raksasa Dar...
Review - Cipali KM 1...
Review - Train to Bu...
Review - Lukisan Ber...