Review: What They Don’t Talk About When They Talk About Love

written by Rangga Adithia on May 5, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with one Comment

“Burung camar…tinggi melayang. Bersahutan…di balik awan. Membawa angan-angan ku jauh meniti buih. Lalu hilang larut di lautan”, tembang “Burung Camar” dari Vina Panduwinata seolah menyambut langkah saya, ketika memasuki Sekolah Luar Biasa (SLB) yang kali ini jadi latar belakang film terbaru Mouly Surya (Fiksi.). Dari sebuah rumah susun yang punya kisah di tiap deret pintunya, yang lorong-lorongnya seolah menyampaikan cerita lewat gema. Mouly di “What They Don’t Talk About When They Talk About Love”, mengajak saya dari rumah susun tersebut untuk melompat, yah kali ini terdampar di sebuah SLB, dengan penghuni-penghuninya yang juga memiliki cerita yang luar biasa…soal cinta. Dari judul yang sependek “Fiksi.”, judul “What They Don’t Talk About When They Talk About Love” (selanjutnya akan saya sebut “Don’t Talk Love”) seperti cara Mouly untuk bilang “gw mao bikin yang beda dari film sebelumnya”, dan itu memang dibuktikan lewat “Don’t Talk Love” yang punya cara bertutur berbeda. Dipenuhi bahasa visual yang lebih mendominasi layar ketimbang bercerita melalui dialog-dialog, untuk mengerti “Don’t Talk Love” memang perlu usaha tersendiri. Tak semudah mencerna “Fiksi.” yang dari awal di-treatment dengan narasi terurut jelas, di “Don’t Talk Love”, Mouly seakan menantang saya untuk menangkap maksud dari tiap gambar yang terikat (untungnya) pada alur yang tidak lari-larian. Jadi saya bisa leluasa untuk mengerti tanpa dipaksa berkejar-kejaran dengan waktu.

Well, seperti juga “Fiksi.”, Mouly dengan mudah mengajak ke dalam dunia barunya, saya seakan diajak main berputar-putar mengelilingi sekolah, sambil diajak kenalan dengan penghuninya, sesekali ikut juga mengintip cerita mereka. “Don’t Talk Love” tetap asyik untuk ditelusuri, tak perlu kemudian jadi takut menonton karena status film festivalnya, tetek bengek arthouse, kesampingkan momok menakutkannya, yah “Don’t Talk Love” tetaplah film yang menghibur, dengan caranya yang unik, kadang dibarengi segala ke-absurd-nya. Film yang tak hanya menyuapi saya dengan gambar simbolik nan puitis, tapi meminta baik-baik perasaan untuk diajak mengenal sebuah arti cinta, dari sudut pandang mereka yang punya kekurangan. Di SLB ini, kemudian saya diperkenalkan dengan Diana (Karina Salim), pengidap low vision, yang diam-diam menyukai Andhika (Anggun Priambodo). Dengan segala cara, Diana coba menarik perhatian Andhika yang tidak bisa melihat itu. Lain lagi dengan cerita Fitri (Ayushita Nugraha), yang juga tuna netra, ia ditaksir Edo (Nicholas Saputra), anak pemilik warung jajanan di sekolah. Memanfaatkan mitos hantu dokter, Edo yang tuli dan bisu mencoba mendekati Fitri, yang sebenarnya sudah punya pacar. Bagaimana nantinya Diana yang pemalu bisa merebut hati Andhika, dan seperti apa Edo dengan dandanan berandalan punk-nya akhirnya bisa menyampaikan isi hatinya pada Fitri, tidak saja menjadikan “Don’t Talk Love” menarik untuk disimak, tapi juga memberi banyak bekal untuk disikapi oleh hati penonton. “Don’t Talk Love” memang bukan saja film untuk dilihat, melainkan juga untuk dirasakan…rasakan cinta.

Walau fokus “Don’t Talk Love” mengarah pada mereka yang punya kekurangan, tapi bukan berarti Mouly berniat untuk mengeksploitasi seenaknya disabilitas, menjadi sebuah konsumsi hiburan, apalagi mengemis simpati penonton lewat karakter Fitri dan kawan-kawan. “Don’t Talk Love” justru ingin menampilkan mereka terlihat yah setara dengan kita yang masih “lengkap”. Sekali lagi ini bukan film yang mengekspos kekurangan sebagai bahan meminta belas kasihan penonton, bukan film seperti itu, yang mengandalkan cerita pada penderitaan berkepanjangan karakternya. Mereka tak sedikitpun diperlihatkan mengeluh dengan keadaan, karena memang bukan itu yang ingin dibicarakan oleh Mouly. Tapi soal Fitri dan kawan-kawan yang juga bisa jatuh cinta, ketika salah-satu indera mereka meredup, indera lain justru bercahaya lebih terang…lebih peka, bahkan dari kita yang normal. Cinta itu tidak buta ketika “Don’t Talk Love” membicarakan soal cinta, lewat hatinya, Diana dan Andhika masih bisa saling tatap. Walau dibatasi kekurangan, Edo dan Fitri masih bisa saling curhat. Well itulah cinta, selalu mampu menemukan caranya untuk berbicara, walau tanpa kata-kata yang bersuara lewat mulut. “Don’t Talk Love” secara sederhana, mampu menyuarakan sebuah arti cinta dengan begitu indah, berdampingan dengan bahasa visual-nya yang juga mampu menterjemahkan rasa jatuh cinta, dengan serangkaian gambar-gambar nan puitis. Baik itu secara halus dan malu-malu diwakili oleh Diana, atau yang rada-rada nakal diwakili oleh hubungan Edo dan Fitri, film ini cemerlang dalam mempresentasikan keduanya, yang sama-sama bagian dari keindahan cinta.

Didukung oleh akting yang luar biasa dari para pemainnya, termasuk Karina Salim, penonton tidak saja dituntun mengenal siapa Diana, Fitri dan Edo, tapi juga terlibat untuk jauh menyelam ke dalam perasaan masing-masing karakternya, walau kadang harus menebas batas-batas ke-absurd-an yang menyelimuti mereka. Tanpa dibebani untuk menjelaskan, Mouly dengan bebas bermain-main, saya merasakan keasyikan tersebut dalam tiap scene di “Don’t Talk Love”. Kita sebagai penonton dibiarkan jadi pintar, menangkap setiap makna dan pesannya sendiri tanpa harus disuapi. “Don’t Talk Love” saya akui tidak se-clear “Fiksi.” dalam menyajikan ceritanya, penuh tanda tanya disana-sini, dan saya pun perlu waktu untuk mencerna beberapa bagian yang dirasa kurang jelas. Namun itu tidak membuat saya jadi kurang menikmati, toh film ini juga memberikan jawaban yang selama ini saya cari, diantara pernak-pernik soal cinta yang lalu-lalang kesana-kemari. Walaupun berbeda dengan film sebelumnya, saya masih melihat style “Fiksi.” yang ikut-ikutan nyangkut di “Don’t Talk Love”, yah tersamar mulus diantara eksperimen-eksperimen barunya. Beberapa gambar jelas mengingatkan saya pada “Fiksi.”, termasuk ketika Mouly menyajikan adegan-adegan “intim” dengan blak-blakan sekaligus terbingkai manis. Ditemani scoring yang masih ala-ala “Fiksi.”, film ini mengalir dengan kesederhanaannya, beberapa terlukis jelas, ada juga yang tak terjelaskan, beberapa absurd, tapi tetap membuat saya tersenyum. Bukankah seperti itulah cinta, tidak semua bisa dijelaskan, tapi apa yang dirasakan di dalam sini. “Don’t Talk Love” adalah film yang ingin berbagi rasa tentang cinta, rasanya tetaplah sama, indah, hanya cara mengutarakannya saja yang unik.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Indonesia K...
Review - Train to Bu...
Review - Warkop DKI ...