Review: Kisah 3 Titik

written by Rangga Adithia on May 8, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

“Bangsat! Babik! Tahik!!…Nga atasan, nga bawahan hobinya menjilat!!”, kira-kira seperti itu umpatan yang keluar dari mulut sang Ibu manajer, Titik Dewanti Sari, ketika sadar niatnya untuk merubah nasib para buruh menjadi lebih baik, malah ditentang oleh banyak orang, dia marah hanya dimanfaatkan, oleh mereka yang demi untung besar rela membunuh hati nurani dan rasa kemanusiaan. Bertema sama seperti “Minggu Pagi di Victoria Park” (2010), “Kisah 3 Titik” masih lanjut menyorot kehidupan kaum “terlupakan”, berbicara soal para buruh diwakili oleh tiga karakter utama yang sama-sama bernama Titik. Walaupun Lola Amaria kali ini hanya duduk dibangku produser—disutradarai oleh Bobby Prabowo, film ini tidak lari dari misi penting yang diembannya dan saya akui tetap terlihat seperti “film Lola banget”. Tentu banyak bedanya dengan “Minggu Pagi di Victoria Park” yang fokus pada lika-liku kehidupan tenaga kerja wanita di Hong kong tersebut, tapi selain semangat “meminta keadilan”-nya tidak luntur, “Kisah 3 Titik” pun ya tetap membuka mata kita yang berpikiran “para buruh ini maunya apa sih? bikin macet aja pake demo-demo segala…”, well kalau melihat “Kisah 3 Titik” memang demo itulah satu-satunya yang bisa mereka lakukan untuk berjuang, meneriakan aspirasi yang entah didengar atau tidak. Siapa sih yang mau panas-panasan atau hujan-hujanan di jalanan, tapi kalau demo bisa merubah nasib, teriknya matahari di siang bolong, yah nga ada apa-apanya dibanding apa yang diperjuangkan.

Sesuai judulnya, “Kisah 3 Titik” menghadirkan 3 kisah dari orang bernama Titik. Ada Titik Sulastri (Ririn Ekawati) yang harus banting tulang sendirian—setelah ditinggal mati suaminya, bekerja di sebuah pabrik pakaian sambil sembunyikan kehamilannya karena takut dipecat. Hanya itu yang bisa dilakukan Titik agar bisa melanjutkan hidup dan memberi makan anak perempuannya yang masih kecil, sekaligus menabung untuk biaya kelahiran. Upah rendah dan statusnya sebagai buruh kontrakan kemudian berbalik menyerang Titik. Beda lagi dengan kisah si Titik Dewanti Sari (Lola Amaria) yang begitu ambisius jika berbicara soal karir, apapun Titik lakukan untuk mengejar karir, bekerja terus, lembur terus, sampai tampak tidak peduli dengan kehidupan sosialnya. Sampai akhirnya Titik pun diangkat jadi manajer di perusahaannya, ditugasi untuk mengurusi pabrik yang baru dibeli. Bermodal jabatan baru, Ibu manajer pun ingin merubah peraturan yang selama ini justru menginjak-injak para buruh, tapi itu tidak mudah. Kisah ketiga berfokus pada Titik Tomboy (Maryam Supraba), aslinya bernama Kartika, bekerja di pabrik sepatu yang baru saja memecat bagian pengeleman. Titik yang punya hubungan yang istimewa dengan Anto (Donny Alamsyah) ini, rekan satu tempat kerja, kemudian berusaha protes ketika anak-anak sekolah dipekerjakan di pabriknya, sampai harus berurusan dengan preman. Diceritakan bergiliran, 3 kisah tentang perempuan-perempuan bernama Titik ini pun tak hanya bersuara lantang, menyuarakan nasib para buruh, tapi juga mengajak saya ikut marah.

Ketika para buruh “berpesta” di jalan pada 1 Mei lalu merayakan May Day, “Kisah 3 Titik” ini adalah cara Lola Amaria untuk ikut merayakan, berdemo lewat media film. Jika boleh membandingkan dengan “Minggu Pagi di Victoria Park”, filmnya kali ini memang rada kelam nan muram, “menjual” cerita miris dibalik seragam-seragam berwarna cerah para buruh. Dipercaya untuk menyutradarai, saya rasa Bobby Prabowo pun dengan baik menuturkan cerita hasil tulisan Charmantha Adjie tersebut. Dikemas apa adanya, terlepas dari dramatisasi yang memang juga diperlukan, film ini dengan mudah menguras emosi saya dari tiap kepedihannya, yang dicurahkan oleh masing-masing karakternya, tanpa adanya paksaan. Emosi benar-benar diaduk habis-habisan, cerita si Ibu Manajer bikin gregetan setengah mampus, Titik Janda jelas bikin hati saya menangis darah melihat bagaimana dia harus bertarung tiap hari dengan ketidakadilan, sedangkan Titik Tomboy ngajak saya ikutan marah-marah melihat anak-anak diperdaya untuk bekerja di pabrik. “Kisah 3 Titik” memang tampil untuk mengusik kenyamanan, dengan kisah-kisah yang sebetulnya juga bukan rahasia umum lagi. Lewat film ini, kita kembali lagi diingatkan untuk tidak lupa jika mereka, para buruh masih tertindas.

“Kisah 3 Titik” memang seolah jadi semacam film propaganda, keberpihakan kita dari awal sudah diarahkan untuk menyokong simpatik pada kaum buruh, lewat karakter dua Titik, terlebih Titik Janda. Namun bukan berarti film ini sesempit hanya untuk jadi sebuah kampanye menjatuhkan pihak yang punya kekuasaan, para bos, para manajer. Toh, lewat karakter Titik yang diperankan Lola Amaria dengan begitu cemerlang, atasan juga diceritakan ada yang masih punya nurani. Dari pihak mereka masih ada yang peduli pada nasib buruh, dan mau merubah sistem yang sudah bobrok untuk lebih berpihak pada buruh, mensejahterakan buruh. Penggambaran apa adanya di “Kisah 3 Titik”, yang membuat kita pun juga merespon dengan apa adanya—dalam artian respon sejujur-jujurnya, termasuk pengen sekali nonjok muka mandor pabrik. Dibungkus juga dengan production values yang mumpuni, tidak main-main dalam urusannya menghadirkan sebuah setting yang realistis mendampingi para Titik menceritakan kisah mereka. Itulah yang membuat “Kisah 3 Titik” terlihat real, dan dengan mudah membangun yang namanya chemistry dengan penontonnya, disokong juga oleh akting para pemain yang tak tampil palsu ketika memainkan karakter-karakternya. “Kisah 3 Titik” membungkus “misinya” dengan rapih, berteriak-teriak menyampaikan pesannya tapi tidak lupa menceritakan kisah yang utuh. Walau ending-nya ada yang bilang nanggung, tapi saya rasa tepat dibuat seperti itu. Cerita ketiga Titik yang tidak diberi titik, seolah kehidupan mereka terus berlanjut di luar film.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Aach... Aku...
Review - Warkop DKI ...
Review - Ouija: Orig...