Review: Husin, Mon dan Jin Pakai Toncit

written by Rangga Adithia on May 18, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Horror with 6 comments

Saya memang belum menonton semua filmnya si Mamat Khalid, tapi sejak dicekoki “Zombie Kampung Pisang”, “Hantu Kak Limah Balik Rumah” dan menonton “Rock” (walau tidak sampai selesai), saya ingin lari-lari sambil bawa sendal dan bilang kalo saya adalah penggemarnya. Film Mamat yang saya tonton mungkin terbilang tidak spesial buat sebagian orang yang menganggapnya tak beda jauh dengan film komedi kita yang punya status sampah, tapi buat saya Kampung Pisang dan penghuninya itu istimewa, mereka sudah membuat saya tertawa terguling-guling hahahaha. Dengan sesederhana zombie gondrong berpoles make-up tepung terigu, film zombie Mamat Khalid punya kadar keepikan tersendiri, yang tidak akan pernah ditemukan di film-film zombie-comedy manapun. Kata “epik” tersebut berlanjut di “Hantu Kak Limah”, hebatnya lagi Mamat Khalid bisa melipat-gandakan kualitas film horor komedinya, tidak hanya dikemas lebih lucu, tapi tata produksinya lebih diperhatikan, cerita pun bisa dibilang lebih rapih…dan secara mengejutkan horornya pun seram. Lengkaplah trilogi Kampung Pisang ketika “Hantu Kak Limah 2: Husin, Mon dan Jin Pakai Toncit” dibuat, saya tentu saja menunggu-nunggu kekonyolan apalagi yang akan disodorkan Mamat Khalid dan penghuni Banana Village tersebut.

Setahun setelah kejadian di “Hantu Kak Limah”, Husin (Awie) yang diceritakan kerja di Singapura, bangkrut karena ditipu dan pulang ke Kampung Pisang. Semua tampak normal, tidak ada zombie bedakan, apalagi hantu yang suka nyanyi injit-injit semut, yang ada cinta lama bersemi kembali antara Husin dan Mon. Namun beberapa hari kemudian mulai ada keanehan yang terjadi di Kampung Pisang, Husin hilang disusul dengan kemunculan mahkluk misterius nan menyeramkan yang meneror sekaligus mencuri hewan ternak warga kampung. Di tengah kejadian demi kejadian aneh ini, Kampung Pisang tiba-tiba kedatangan sosok pria tak dikenal, dari pria tersebutlah diketahui jika kejadian aneh yang terjadi di Kampung Pisang ada kaitannya dengan sejarah kampung 100 tahun yang lalu. Bermodal dua film sebelumnya, saya memang berharap “Hantu Kak Limah 2” bisa memberikan sesuatu yang lebih, lebih lucu dan lebih kacau lagi ketimbang dua film awal trilogi Kampung Pisang. Namun jika ingin dibandingkan, film ketiga ini justru turun tingkat, walaupun formula Mamat Khalid dalam menyajikan komedinya tetap masih bisa membuat saya tertawa. Kekonyolan Kampung Pisang yang saya kenal serasa berkurang, beberapa lawakannya ada yang hasil daur-ulang dari “Hantu Kak Limah” pertama dan “Zombie Kampung Pisang”, masih tetap lucu dan jadi semacam signature khas Mamat Khalid di trilogi Kampung Pisangnya, termasuk kehadiran si anak gendut sang zombie hunter itu.

Walaupun kekonyolan itu terasa mundur beberapa langkah, tidak selucu yang saya harapkan, Kampung Pisang tetaplah Kampung Pisang, penghuninya tetaplah kocak tiada duanya. Mamat Khalid mampu mempertahankan karakter-karakternya untuk tetap apa adanya, Pak Abu, Pak Jabit, Usop yang ngondek, tak pernah berubah sama seperti yang dulu saya kenal. Formula komedinya pun tetap tak keluar dari jalurnya, masih mengandalkan dialog-dialog lucu—yang terkadang saya tidak mengerti apa maksudnya hahahaha, ketimbang komedi slapstick. Gerak-gerik spontan penghuni Kampung Pisang juga masih jadi andalan Mamat Khalid di “Hantu Kak Limah 2” ini. Sayang memang beberapa lawakan Kampung Pisang ada yang meleset dan terlihat garing, apalagi jika berhubungan dengan sosok pria misterius yang tiba-tiba muncul membantu warga Kampung Pisang menghadapi teror mahkluk gaib, sekaligus juga mencari Husin yang hilang. Saya berharap ada ke-chaos-an total seperti di “Zombie Kampung Pisang” dan kekonyolan tak ada habisnya seperti di “Hantu Kak Limah”, sayangnya balik ke Kampung Pisang saya tak menemukan yang saya cari.

Saya suka kesederhanaan zombie-zombie bermuka bedak bubur, entah kenapa kali ini “Hantu Kak Limah 2” memaksa untuk memasukkan spesial efek kacangan yang justru membuat filmnya terlihat tak ubahnya sinetron-sinetron di salah-satu stasiun lokal kita (tak perlu disebut pasti sudah tahu, kan). Mamat Khalid sebetulnya sudah mencoba menyempilkan efek-efek CGI murahan di “Hantu Kak Limah”, tapi kali ini serasa maksa untuk membuat filmnya tampak lebih epik. Padahal sudah ada setan-setan yang cukup menyeramkan tapi Mamat Khalid seperti tak percaya diri dengan filmnya sendiri dan malah menambahkan monster-monsteran jelek hahaha. Untuk urusan cerita, seperti yang sudah-sudah memang tak ada yang masuk akal, jadi saat “Hantu Kak Limah 2” menjabarkan ceritanya yang konyol minta ampun, saya tidak akan pasang muka bingung, karena sudah bakal tahu cerita akan mengikuti orang-orang di Kampung Pisang yang juga konyol. Setidaknya ada yang tidak berubah, yah dempulan efek CGI murahan itu memang bikin mood saya drop, tapi untuk film yang berjudul sekonyol “Husin, Mon dan Jin Pakai Toncit”, Mamat Khalid masih bisa bikin saya tertawa (walaupun tidak terguling-guling lagi). Seperti pendahulunya, masih ada sisa-sisa ke-epik-an yang menjadi ciri khas Kampung Pisang, tidak banyak tapi cukup untuk pada akhirnya saya bilang taik banget. Saya tidak tahu apakah Mamat Khalid akan melanjutkan saga Kampung Pisang-nya? Jika ada semoga bisa lebih baik dari “Hantu Kak Limah 2”, saya tetap akan rindu dibuat gila oleh Kampung Pisang.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Cipali KM 1...
Review - Don't Breat...
Review - Rumah Malai...