Review: 9 Summers 10 Autumns

written by Rangga Adithia on May 1, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with one Comment

Selepas “Sang Penari”, nama Ifa Isfansyah tampaknya makin jadi jaminan sebuah film bakal punya kualitas jempolan. Sejak “Garuda Di Dadaku” (2009) sebetulnya saya sudah suka dengan gaya penyutradaraan Ifa, filmnya dituturkan asyik dari adegan ke adegan, dan penonton mudah “akrab” dengan film. Begitu juga dengan “Ambilkan Bulan” (2012), film anak-anak yang memiliki jiwa film anak-anak, Ifa membuatnya tak hanya menghibur untuk ditonton anak-anak, namun penonton dewasa seperti saya pun ikut tercuri hatinya. Bagaimana dengan “9 Summers 10 Autumns” yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Iwan Setyawan? Well, saya bisa bilang Ifa tidak kehilangan momentumnya, malah makin memantapkan namanya sebagai salah-satu sutradara terbaik di negeri ini. Saya bukan pembaca novel “9 Summers 10 Autumns”, ketertarikan saya pada film ini jelas karena ada nama Ifa Isfansyah. Dan jujur, “9 Summers 10 Autumns” jika melirik sinopsisnya memang tidak lagi menawarkan sesuatu yang dibilang baru, film bertema from-zero-to-hero yang pernah diusung juga oleh “Laskar Pelangi” misalnya. Ya, untuk sebuah film yang berpotensi untuk ber-narsis-ria, film yang menceritakan kisah hidup penulisnya sendiri ini—pengalaman nyata seorang Iwan Setyawan yang hanya anak kampung bisa sukses sampai ke New York, justru diperlakukan tidak sebagai ajang pamer apa yang Iwan dapatkan, melainkan fokus pada prosesnya.

“9 Summers 10 Autumns” tetap rendah diri ketika melangkah, bercerita tentang sebuah pengalaman tanpa sedikit pun niat untuk menyombongkan diri. Inspirasi yang akhirnya didapat bukan dari sekedar deretan kata-kata motivasi ala Mario Teguh yang gampang dilupakan, namun dengan mengajak penonton—termasuk saya, untuk duduk bareng di sebuah kursi panjang dengan pemandangan apik, kemudian mendengarkan Iwan (Ihsan Tarore) mencurahkan hatinya. Begitulah, “9 Summers 10 Autumns” kemudian menyajikan kisah demi kisahnya, seperti mendengarkan seorang teman lama yang sedang curhat saja. Oleh Ifa, tentu saja “curhat” tersebut dikemas tidak hanya dengan tutur yang asyik diikuti, tapi juga divisualisasikan untuk indah dilihat, iyah seperti film-film Ifa sebelumnya. Saya beruntung lahir dari keluarga yang berkecukupan, dan kegiatan positif apapun yang saya lakukan selalu didukung oleh Bapak. Tidak dikungkung untuk jadi ini-itu, dibiarkan bebas memilih apa yang menurut saya baik. Well, hal yang serupa tidak terjadi pada Iwan, keluarganya hidup pas-pasan dari hasil kerja keras sang kepala keluarga sebagai supir angkot, menghidupi kelima anaknya. Satu-satunya anak laki-laki dari empat saudara perempuan, Iwan tak saja diharapkan tumbuh jadi laki-laki pemberani oleh Bapaknya—segala sesuatu harus “laki laki banget”, tapi juga bisa jadi tumpuan keluarga. Sejak kecil, Iwan memang disiapkan untuk jadi seperti Bapaknya, sayang semua yang dilakukan Iwan justru kebalikan dari harapan sang Bapak. Iwan lebih senang nongkrong di dapur, membantu Ibunya memasak, ketimbang memperbaiki angkot bersama Bapaknya. Berkelahi kalah, hari pertama sekolah minta ditemani Ibunya, Iwan bisa dibilang tak pernah buat Bapaknya bangga. Membuat Bapaknya bangga adalah jadi laki-laki sejati, bantu jadi kenek angkot, bukan malah menjadi juara satu di kelasnya.

“9 Summers 10 Autumns” bukan sekedar film yang menjajakan kisah kesuksesan belaka, ada proses banting-tulang, jatuh bangun dan perang batin yang juga film ini selipkan dalam cerita. Dibungkus untuk tidak jadi semacam seminar motivasi oleh Ifa Isfansyah, film yang skripnya ditulis keroyokan oleh Ifa bersama dengan Fajar Nugros (Cinta di Saku Celana) dan Iwan Setyawan ini, menggaris-bawahi juga bagaimana Iwan nantinya berdamai dengan Bapaknya, hubungan dengan si Ibu, sekaligus kerinduan pada kampung halaman ketika Iwan berhasil mendapat apa yang diinginkannya di New York. Dan kerinduan Iwan tersebut benar-benar disampaikan dengan jelas, dinarasikan oleh Ihsan Tarore yang bermain mantap sebagai Iwan, begitu juga bahasa gambarnya yang seakan mengajak kita ngobrol membicarakan kesepian Iwan di kota yang punya julukan Big Apple itu, lihat saja pembuka “9 Summers 10 Autumns” yang memperlihatkan Iwan sedang berjalan menuju subway, tidak saja sepanjang jalan sepi, di dalam kereta pun ikut kosong. Kesepian begitu membingkai perjalanan Iwan untuk menggapai mimpinya, film yang berdurasi 114 menit ini pun akhirnya justru tak terlalu banyak ngomong soal kesuksesan Iwan, yang saya rasa juga tak perlu banyak dipamerkan. Namun fokus pada memperlihatkan batin Iwan yang terus berontak untuk pulang, serta kenangan-kenangan Iwan—kebanyakan sih pahit, yang diceritakan dengan pola maju-mundur antara masa lalu dan masa sekarang dimana kesepian itu tengah membelenggu Iwan. Kenapa Iwan baru bisa pulang setelah sekian lama?

Di negara yang punya ritual mudik setahun sekali, apalagi Iwan bisa dibilang yah punya uang untuk pulang, kenapa dia baru bisa pulang setelah menunggu sampai bertahun-tahun, melewati 9 musim panas dan 10 musim semi ya? Well, mungkin di novel lebih banyak alasan untuk pertanyaan ini, apa yang bisa saya tangkap di film adalah dia baru bisa pulang setelah berdamai dengan hatinya, walau sudah bertahun-tahun rindu, itu belum cukup ketika hati masih bergejolak diombang-ambing oleh masa lalu. “9 Summers 10 Autumns” oleh Ifa memang dijadikan film yang saya harapkan, bukan tipikal film yang menjual harapan kosong, motivasi-motivasi bualan, mengeksploitasi kesuksesan seseorang dengan berlebihan, dan mengkomersilkan kisah-kisah inspiratif. Seperti yang saya singgung, “9 Summers 10 Autumns” adalah sebuah curhatan seorang teman lama yang diceritakan apa adanya—ada dramatisasi yang wajar untuk sebuah film yang niatnya juga ingin menghibur. Jika dirasakan konfliknya terlalu bisa, saya bisa maklum, karena ini bukan sinetron yang konfliknya bisa dilebih-lebay-kan seenaknya, saya rasa apa yang disajikan sudah cukup untuk memicu emosi saya, bukan sekedar menonton tapi melibatkan perasaan untuk ikut turut campur. Ada interaksi antara film dan penonton, kita dibiarkan untuk merasakan apa yang terjadi tanpa dipaksa-paksa. Beberapa adegan pun sanggup membuat air mata ini pada akhirnya menetes. Ya, “9 Summers 10 Autumns” dengan segala keindahannya, yang sukses ditangkap oleh Gandang Warah selaku DOP, berakhir tidak saja mempesona lewat gambar-gambar tapi juga indah “di dalam sini”, film ini ikut menyapa juga hati. Didukung oleh permainan akting luar biasa tak hanya Ihsan Tarore, tapi juga Dewi Irawan dan Alex Komang, sebagai Ibu dan Bapak, “9 Summers 10 Autumns” mengajak saya untuk menoleh, mengingat jasa Ibu dan Bapak yang luar biasa.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Lights Out
Review - Blair Witch...
Review - Dukun Linta...