Review: Tampan Tailor

written by Rangga Adithia on April 2, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with one Comment

“Orang bilang hidup itu selalu penuh kejutan…kadang kita diatas…kadang kita dibawah. Tapi tidak buatku, setiap hari bagiku selalu sama, tanpa kejutan.”, habis mencurahkan isi hatinya di ujung sebuah atap bangunan, orang yang berpakaian rapih komplit dengan dasi kupu-kupunya itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke bawah, memeluk gravitasi. Kita tidak diberitahu kelanjutan nasib orang tersebut, hidup atau mati, kita tidak tahu lagi. Film kemudian flashback, memperkenalkan Topan (Vino G Bastian)—dia orang berpakaian rapih yang kita lihat sebelumnya, seorang penjahit yang baru saja kehilangan segalanya, istrinya meninggal karena kanker, toko jahit sebagai penyambung hidup pun harus terenggut karena tidak lagi sanggup bayar sewa. Satu-satunya yang Topan punya sekarang adalah anak laki-lakinya, Bintang (Jefan Nathanio). Demi Bintang, Topan berjuang untuk tak kehilangan harapan, well yah harapanlah yang membuatnya bertahan dari hidup yang katanya “selalu sama, tanpa kejutan” itu. Apapun akan ia lakukan.

Beruntung, diantara rasa pahit kehidupan Topan, disana masih ada manis, masih ada orang-orang baik yang mau membantu Topan, seperti Darman (Ringgo Agus Rahman), sepupunya, yang memberinya tempat tinggal sementara dan sebuah pekerjaan sebagai calo tiket kereta. Kemudian ada Prita (Marsha Timothy), yang awalnya terkesan judes tapi beberapa kali jadi malaikat penolong. Walau semua kelihatan baik-baik saja, “Tampan Tailor” tetap akan menyajikan kisah pilu ayah dan anak untuk mewujudkan impian mereka, diantara kerikil-kerikil tajam yang menghadang. Yah mungkin kebanyakan dari kita, termasuk saya, sudah sok tahu menebak-nebak jika “Tampan Tailor” akan diisi oleh cerita cengeng yang tak ada habis-habisnya, dengan berlebihan dan memaksa tentunya, menjejalkan variasi kesialan yang akan menimpa Topan dan Bintang. Ala sinetron dengan formula brilian “sudah jatuh tertimpa tangga, tertabrak angkot dan tercebur ke got pula”. Ah ternyata tebakan saya agak meleset, film produksi Maxima Pictures ini secara mengejutkan jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Yah cukup terkejut apalagi ini film Maxima, yang biasanya lebih banyak mengecewakan ketimbang menghibur, khususnya judul-judul film komedi dan hantu-hantuannya yang bisa dibilang bikin kram otak yang menonton. “Tampan Tailor” sebaliknya, tidak saja film yang menghibur tapi “membangunkan” lagi kepercayaan saya, jika Maxima bisa membuat film drama yang bisa saya nikmati, niatnya pantas dihargai.

Ditangan seorang Guntur Soeharjanto (Purple Love), “Tampan Tailor” bercerita apa adanya, walaupun ada beberapa upaya untuk memaksakan emosi penonton lewat scoring-nya yang bisa dikatakan berlebihan itu, tapi cerita yang ditulis oleh duet Alim Sudio (Air Terjun Pengantin Phuket) dan Cassandra Massardi (40 Hari Bangkitnya Pocong) justru lebih bisa diterima akal sehat, membumi, dan mudah untuk dinikmati. “Tampan Tailor” memang tidak dipungkiri akan mengingatkan kita pada “The Pursuit of Happyness”, film yang dibintangi oleh Will Smith dan anaknya, Jaden Smith itu. Tapi percayalah ini bukan versi Indonesia-nya, bukan jiplakan, kesamaannya pun minor, “Tampan Tailor” mengalirkan ceritanya tanpa ingin ikut-ikutan seperti film Hollywood tersebut. Mewujudkan impian itu siapa pun tahu amatlah berat, bukan sesuatu yang digapai secara instant, dibutuhkan banyak pengorbanan dan sederet ujian yang sudah siap dalam usahanya untuk membuat kita menyerah di tengah jalan. “Tampan Tailor” menyodorkan semua itu dihadapan penonton, memperlihatkan kesialan-kesialan yang akan diterima juga oleh Topan. Jika biasanya film sejenis akan berusaha setega-mungkin untuk “menghabisi” karakter utamanya dengan berbagai kemalangan, berupaya keras untuk memeras air mata penonton dengan adegan-adegan pilu nan sadistis tidak manusiawi dan logis. Guntur untungnya masih “waras” dan tetap berhati dalam mengendalikan takdir Topan dalam filmnya. Hasilnya, saya pun ikhlas memberi hati saya untuk film ini, memberi simpati saya pada Topan dan Bintang.

“Tampan Tailor” bukan tanpa cela, apalagi ketika di pertengahan durasi menuju paruh akhir, film ini seakan ingin memanjang-manjangkan konflik namun tanpa penyelesaian yang lebih matang lagi. Agak mempermudah dan mengurangi efek konflik yang seharusnya membuat cerita lebih greget. Scoring-nya pun saya akui berlebihan di beberapa adegan, yang saya pikir walaupun tanpa alunan scoring yang terdengar menggebu-gebu tersebut, adegan tetap bisa membuat penonton tersentuh kok oleh chemistry apik yang dibangun oleh Topan dan Bintang sedari awal film. Untuk pencapaian itu, Vino G Bastian dan Jefan Nathanio patut sekali diacungi jempol, karena usahanya untuk memperlihatkan hubungan ayah-anak yang tidak mengada-ngada. Vino yang keluar dari zona amannya berakting amat meyakinkan sebagai seorang ayah yang berjuang untuk anaknya. Sedangkan si anak yang diperankan oleh Jefan, juga dilakonkan dengan cukup baik, walaupun sesekali Jefan terlihat kurang luwes. Berkat akting mereka, “Tampan Tailor” pun berhasil menampilkan sebuah kisah ayah dan anak yang tidak palsu. Ringgo pun sebagai pemain pendukung tidak asal diberi porsi numpang lewat saja, perannya sebagai Darman cukup menyita perhatian, apalagi dengan humor-humor segar yang memang sengaja ditempelkan pada karakternya. Marsha Timothy tak saja jadi pemanis, karakternya menambah menarik film ini, memberikan nyawa yang makin membuat “Tampan Tailor” terlihat hidup. Porsi romansa Prita dan Topan pun dibangun dengan manis, tidak menyek-menyek, menambah asyik film yang punya durasi 100-an menit ini. Semoga Maxima memang sudah “tobat”, melalui presentasi “Tampan Tailor” yang cukup memuaskan dari segi penyutradaraan, cerita, akting dan juga sinematografi, ini adalah langkah yang tepat bagi Maxima untuk melakukan perubahan…well kita lihat saja aksi “berhati” Maxima berikutnya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - The Green I...
Review - A Copy of M...
Review - Warkop DKI ...