Review: Pee Mak (2013)

written by Rangga Adithia on April 10, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Horror with 2 comments

Studio GTH, dikenal konsisten memproduksi film-film Thailand berkualitas dan menghibur, itu bisa dilihat dari deretan filmography-nya yang tidak saja tertera judul-judul film horor, tapi juga komedi romantis, yang akhir-akhir ini memang sedang menjamur di negeri gajah putih tersebut. Ketika film-film horor dari Thai bisa dibilang semakin payah dalam urusan menakuti, GTH punya “Laddaland” di tahun 2011, yang kembali mengingatkan mereka masih punya horor yang seram. Dan ditengah gempuran film-film komedi romantis sekalipun, GTH terkesan tak mau terjebak dan hanyut dengan tren yang ada, hadirlah “The Countdown” yang justru mengusung tema thriller. Mampu tampil beda dan konsisten, itulah faktor yang membuat saya menunggu-nunggu film keluaran studio yang berdiri sejak tahun 2003 ini. Walaupun tak dipungkiri, saya lebih kangen ditakut-takuti film-film horor mereka ketimbang dibuat galau oleh komedi romantisnya. “Pee Mak Phra Khanong” atau “Pee Mak” seperti sebuah jawaban atas kerinduan saya, yah walaupun lagi-lagi bukan horor yang saya tunggu. Namun melihat nama Banjong Pisunthanakun (Alone, Shutter, 4bia, Phobia 2), “Pee Mak” dengan genre horor-komedinya justru malah membuat saya makin penasaran, pastilah goblok!

“Pee Mak” dibuka dengan adegan seorang wanita hamil yang sedang mengerang-ngerang kesakitan, tampak ingin melahirkan, sambil memanggil-manggil nama suaminya Mak (Mario Maurer) yang sedang membela negeri di medan perang. Nak (Davika Hoorne) ternyata diceritakan sudah melahirkan, sambil memangku bayinya, dia setia menunggu kepulangan suaminya dari peperangan di pinggir sungai dekat rumah. Mak yang selamat dari perang, akhirnya pulang ke kampung halaman. Mak yang hanya ingin melihat Nak, istri tercintanya dan anaknya, tidak peduli ketika orang-orang kampung mendadak menjadi aneh, belum lagi desas-desus yang menyebar jika Nak sudah menjadi hantu. Well, jika ada yang merasa tidak asing dengan sepotong cerita dari “Pee Mak” tersebut, wajar kok, karena Banjong yang juga ikut menuliskan cerita bareng Chantavit Dhanasevi, memang mengangkat mitos legendaris tentang Mae Nak. Kisah dedemit perempuan dari Phra Khanong yang sudah terkenal di Thailand sana, khususnya di Bangkok. Mae Nak dan kisahnya yang tragis pun sudah beberapa kali difilmkan, termasuk Nang Nak di tahun 1999. Tentu saja, versi Banjong ini akan sedikit berbeda dan konyol disana-sini, dipermak sedemikian rupa menyesuaikan tema horor komedi yang diusung film ini, dengan masih tetap tidak keluar jalur cerita aslinya.

Apa yang saya harapkan dari Banjong, memang saya dapatkan ketika menonton “Pee Mak”, sebuah horor komedi yang kekonyolannya bisa dikatakan melewati batas humor-humor yang biasa disodorkan film-film Thailand. “Pee Mak” jelas membawa ciri khas Banjong sendiri, tidak saja dari cara film ini menghantarkan komedinya, tapi juga ketika menyodorkan bagian yang dikhususkan untuk bikin saya, yah ketakutan. “Pee Mak” membagi-baginya dengan porsi yang pas, walau sekali lagi jangan berharap film ini akan puas menakuti mereka yang doyan film horor, khususnya horor Thailand. “Pee Mak” tetap akan fokus menjungkir-balik-gulingkan penonton dengan kekonyolannya, dan saya akui dengan cara paling brengseknya, Banjong berhasil membuat saya terpingkal-pingkal ngakak keras di kursi penonton. Saya tidak peduli jika Banjong terkesan mendaur-ulang apa yang pernah dia tawarkan di “4bia”, segmen In the Middle dan “Phobia 2”, untuk segmen In the End, karena toh hasilnya bisa membuat saya gila selama hampir dua jam. Sumber kegilaan ini kebanyakan berasal dari aksi-aksi bodoh keempat sahabat Mak, Ter (Nattapong Chartpong), Aye (Kantapat Permpoonpatcharasuk), Puak (Pongsatorn Jongwilak) dan Shin (Wiwat Kongrasri). Habis-habisan, misi mereka untuk membuat perut saya sakit, berhasil. Goblok maksimal.

Menikmati “Pee Mak”, memang tidak perlu repot memikirkan logis tidak logis, ya seperti bagaimana mungkin 100 tahun yang lalu Puak dan yang lain ngomongin film “The Last Samurai”-nya Tom Cruise misalnya atau sempat menyebut-nyebut nama pesulap David Blaine. Dari awal “Pee Mak” jelas sudah tidak serius dibalik settingnya yang terbungkus abad ke-19 tersebut, dengan referensi-referensinya yang justru diambil dari abad yang lebih modern, termasuk celetukan-celetukan komedinya. Yah dalam bentuk lampaunya, “Pee Mak” memang tetap sebuah film yang kekinian, lihat saja pada bagian yang mengumbar cinta-cintaan antara Nak dan Mak, yang disajikan ala film-film remaja dengan latar belakang pasar malam, khas Thailand, dengan bungkus tetap masa lampau. Ketidakseriusan “Pee Mak” ada tujuannya, dibalik asyik sendirinya Banjong, film ini tetap serius, tidak main-main mempoles sisi artistiknya. Walaupun “area bermain” Banjong hanya di situ-situ saja, tapi semua dibangun sungguh-sungguh, departemen artistiknya rapih, dari lokasi kampung, pasar malam, rumah-rumahnya, sampai tata rias dan juga busana yang dipakai para pemainnya. Didukung gambar cantik, “Pee Mak” jelas jadi suguhan hiburan dengan standar studio GTH, dan Banjong tidak membuat kecewa mereka yang memang datang untuk menonton film ini karena namanya. “Pee Mak” tidak saja mengocok perut tapi dengan asyik mengajak penonton ikut bermain tebak-tebakan siapa sih yang sebenarnya hantu. Belum cukup membuat perut ini sakit, “Pee Mak” seperti halnya film-film Thailand lainnya, punya porsi drama yang tidak kalah “horor”, saya bisa bilang menampar hati siapa saja yang menonton. Jadi siapkan tisu buat jaga-jaga hahahaha. Lewat “Pee Mak”, Banjong tidak saja kembali memperkenalkan legenda Mae Nak (kalau di Indonesia kayak Sundel Bolong kali yah), tapi juga berhasil memperolok-oloknya dengan hilarious!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Lukisan Ber...
Review - Telaga Angk...
Review - The Girl wi...