Review: Madre

written by Rangga Adithia on March 31, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with one Comment

Bukunya bagus, tapi belum tentu filmnya, mengadaptasi novel laris memang butuh “resep” yang tepat. Formula membagi-bagi mana yang mesti dibuang dan mana yang harusnya dipertahankan, itu sangat penting, tidak semua yang tertulis bagus dalam buku bisa ikutan jadi bagus ketika dituangkan dalam media gambar bergerak. Resep itulah yang susah-susah gampang untuk ditemukan, apalagi menemukan bagaimana caranya untuk memasukkan “jiwa” novelnya ke dalam film. Adaptasi sebuah novel bukan hanya persoalan filmnya setia dengan apa yang ada di buku, tapi mentransfer imajinasi ke media yang berbeda tapi masih tetap menarik untuk “dibaca ulang”, yah tentunya bagi mereka yang sudah membaca bukunya. Apalah artinya mirip dengan buku, jika menonton filmnya sama saja dengan membaca bukunya, versi filmnya yah setidaknya harus punya sesuatu yang beda untuk disodorkan ke penonton, tentunya jangan melangkah terlalu jauh dari jalan cerita yang sudah dituliskan bukunya. Yah, improvisasi boleh, menambah satu atau dua karakter sah-sah saja, jika itu membuat filmnya makin menarik sambil tetap tunduk pada source novelnya. Sehabis “Perahu Kertas” yang maksa difilmkan menjadi dua bagian, dan hasilnya sama sekali tidak asyik, saya seperti dipaksa membaca buku yang tidak mau saya baca. “Rectoverso” sebaliknya, asyik untuk ditonton, walaupun satu-dua segmen terlibas oleh segmen lain yang lebih unggul dari segi penyutradaraan. Sekarang ada “Madre” yang sekali lagi diadaptasi dari novel laris karya Dewi “Dee” Lestari. Gimana hasilnya?

“Madre” mengawali ceritanya dengan memperkenalkan sosok anak muda berambut gimbal urakan bernama Tansen (Vino G Bastian), yang baru saja menerima warisan sebuah toples berisi madre. Apa itu madre? madre adalah adonan biang roti berusia puluhan tahun yang menghidupi toko roti Tan De Bakker milik mendiang kakeknya Tansen, Tan Sin Gie, sampai akhirnya toko roti tersebut bangkrut. Nah, Tanses pun jadi harapan satu-satunya untuk kembali menghidupkan Tan De Bakker, karena tak ada yang bisa kecuali keturunan langsung dari sang Kakek. Tentu saja, pada awalnya Tansen yang baru saja mengetahui silsilah keluarganya dari cerita Pak Hadi (Didi Petet), sang pengurus Tan De Bakker, tidak peduli dengan warisan dan kepercayaan Kakeknya, apalagi diberi tanggung jawab untuk mengurus toko roti. Tansen hanya ingin pulang ke Bali dan kembali bermain dengan ombak tercintanya, keinginannya adalah mencari ombak tertinggi untuk ditaklukkan, bukan mengurus toko roti yang sudah lama gulung tikar. Parahnya lagi, ia justru ingin menjual madre kepada Meilan (Laura Basuki) yang sanggup membayar seratus juta rupiah, tanpa mempedulikan sejarah di balik adonan biang roti tersebut dan nasehat Pak Hadi untuk tak menjual madre. Namun setelah bertemu dengan pegawai-pegawai lama Tan De Bakker yang terlihat begitu mencintai toko roti tersebut, khususnya madre, Tansen pun akhirnya mengurungkan niat menjual madre. Well, kehadiran Meilan mengubah segalanya, ya tidak hanya pada diri Tansen tapi mengubah jalan nasib Tan De Bakker.

Premisnya memang sederhana, sesederhana bentuk adonan biang roti yang selama ini tersimpan dalam toples di sebuah kulkas berkarat milik Tan De Bakker. Adonan yang tidak ada menarik-menariknya, tapi begitu selesai diolah, madre berubah dari adonan tidak menarik menjadi roti yang punya citarasa unik, tidak ada lagi roti yang rasa dan teksturnya sama. Sayang, tidak seperti roti madre disini yang digambarkan begitu enak ketika dicium dan dikunyah, filmnya justru terkesan mengolah “Madre” yang punya premis menjanjikan sebuah film yang enak tersebut, asal jadi saja. Benni Setiawan yang juga ikut menuliskan skrip seperti lupa menambahkan “soul” dalam filmnya. Ada yang salah pada resep buatan Benni, caranya mengolah, membuat film ikut-ikutan labil mirip tokoh utamanya, Tansen, dan juga hambar tanpa rasa. Hanya dua yang mungkin menyelamatkan film ini, yaitu selipan komedi tidak berlebihan yang dikomandani om Didi Petet dan kehangatan akting Laura Basuki, selebihnya ini adalah film yang sulit untuk dinikmati. Saya serasa dipaksa dijejali roti yang tidak enak. Di paruh awal saya masih bersabar untuk menunggu keajaiban, membiarkan Benni memperkenalkan karakter-karakternya, membangun jembatan chemistry, tak hanya antara Tansen dan Meilan, Tansen dengan toko rotinya, Tansen dengan Pak Hadi, Tansen dengan pegawai-pegawai Tan De Bakker, tapi juga adonan chemistry yang membuat penonton pada akhirnya tidak berhenti mengunyah cerita yang film ini sodorkan. Namun loncat ke paruh kedua “Madre” belum memperlihatkan tanda-tanda yang membuat saya bilang “akhirnya…”, adonannya tidak berhati dan tentu saja hasilnya rasa roti yang membosankan. Filmnya kosong tak ada rasa.

Kecuali Didi Petet dan Laura Basuki yang masih sempat memaksimalkan porsinya di film ini untuk menghibur penonton yang sudah lelah tertidur, hampir tidak ada lagi yang aktingnya mampu jadi daya tarik “Madre”. Vino G Bastian tetap menjadi Vino yang saya kenal di film-film sebelumnya, disini dengan rambut gimbal palsunya itu. Ketika karakter-karakter dalam “Madre” sepertinya terjebak dalam ruangan sesak, tidak bisa bebas dikembangkan. “Madre” justru tidak mau berusaha untuk membuat karakter-karakter tersebut jadi lebih disukai lagi. Didi Petet jelas terlihat berusaha untuk berimprovisasi dengan segala leluconnya, walau agak dipaksa tapi tetap saja lucu dan saya tertawa. Sedangkan Vino dan Laura yang seharusnya ditonjolkan, toh aktingnya begitu kaku dalam memerankan Tansen dan Meilan, alhasil chemistrynya hampir tidak ada, padahal yang paling dibutuhkan film ini disaat adonannya terlihat tidak akan berhasil. Laura jelas masih lebih baik, Vino terjebak dengan gaya akting yang itu-itu saja. Ibarat rambut gimbal Tansen yang kelihatan jelas fake, seriously kenapa harus dipaksakan rambutnya itu gimbal, kalau memang harus gimbal bikin yang agak meyakinkan sedikit apa tidak bisa. “Madre” juga di beberapa bagian jadi ikut-ikutan terlihat palsu, khususnya ketika porsi cinta sudah mulai dimasukkan ke dalam adonan, hasil jadinya tidak terlihat meyakinkan… lagi-lagi. Kenapa film ini tak fokus saja pada pembuatan roti dan kelahiran kembali Tan De Bakker, karena scene yang berhubungan dengan dapur, selalu bisa jadi hiburan tersendiri, seharusnya sih banyak yang bisa dieksplor lagi dari toko roti tersebut, karena saya lebih tertarik dengan Tan De Bakker ketimbang hubungan cinta Tansen dan Meilan. Well, sudah terlanjur, adonan sudah jadi roti… walaupun terlihat menarik dari luar, setting yang artistik khususnya toko roti dan sekitarnya, tidak demikian dengan isinya, “Madre” yang ngomongin soal cinta, justru begitu sulit untuk mencintai filmnya. Padahal saya sudah suka dengan Tan De Bakker, tapi rotinya tidak membuat saya ingin kembali beli roti lagi disana. “Madre” sudah mengecewakan pelanggannya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Surat Dari ...
Review - Ouija: Orig...
Review - Before I Wa...