HorrorTherapy: 10 Film Pendek Horor Terngehe #2

written by Rangga Adithia on March 14, 2013 in CinemaTherapy and Features and Horror with 17 comments

Sebetulnya, awalnya nga ada niat buat nerusin “HorrorTherapy”, ngumpulin film pendek untuk bagian pertama aja udah bikin gw muntah darah (berlebihan). Nah karena gw kemudian menemukan masih banyak lagi film-film pendek khususnya horor, yang levelnya dari lumayan sampai ngehe banget. Akhirnya diputuskanlah “HorrorTherapy” ini jadi akan semacam menu wajib di blog raditherapy, sebuah feature yang dikhususkan bagi pecinta film horor, nga hanya yang isinya nakut-nakutin, setan-setanan, tapi juga yang berdarah-darah dan bikin ketawa. Untuk yang sekarang gw posting, beberapa film sempat gw share juga di twitter dengan tagar #HorrorTherapy tapi ada juga film yang belum pernah gw tweet, kaya dua film pertama, “Endless” dan “The Clown”. Seperti biasa, kalau penasaran pingin nonton, silahkan klik gambarnya… tanpa mau basa-basi lagi, selamat menikmati 10 film pendek horor yang menurut gw pantas disebut “ngehe”.

1. ENDLESS

Apa yang ngehe di “Endless”? bukan twist-nya yang bertumpuk sih sebetulnya, itu jadi semacam bonus. Tapi lihat bagaimana Matt Bloom menceritakan filmnya dengan kemasan teknis luar biasa, khususnya bagian yang membuat semuanya jadi bergerak lamban, sangat lamban. Yup kalau tidak di-slow-motion-kan film ini mungkin akan terlihat biasa saja, namun dibalut gerak lambat ala-ala pembuka di filmnya Lars Von Trier “Antichrist”, film ini tidak saja menjadi sungguhan yang beda, mendebarkan di setiap frame-nya, tapi juga jadi sangat artistik.

2. LE QUELOUNE (THE CLOWN)

Terserah pesan apa yang mau dibawakan “The Clown”, entah itu jangan pernah main sembarangan di kuburan dan numpahin sebotol soda ke makam orang. Yah yang jelas film buatan tahun 2008 ini tahu bagaimana cara menghibur penonton, dengan selipan komedi satirnya. Apa yang ngehe? Sudah jelas akting Dominique Pinon sebagai si badut zombie, aktor yang menjadi langganan main di film Jean-Pierre Jeunet tersebut memerankan perannya dengan gokil. Oh bagi yang takut atau phobia badut saya sarankan lewatin film ini deh.

3. TEA TIME

Waktunya minum secangkir teh dan bersantai, well “Tea Time” nga nyediain kita waktu buat sekedar santai-santai. Dari menit awal film ini sudah menyuguhkan suasana mood yang tidak menyenangkan walaupun adegannya hanya seorang ibu tua yang sedang asyik membuat teh di dapur, karena gw udah nebak pasti adegan-adegan berikutnya bakal ngehe. Benar saja, apa yang kemudian dikasih ke penonton sukses bikin kita tidak santai, apalagi dengan scoring musiknya.

4. EATEN

Pernah nonton film asal Israel berjudul “Rabies” (Kalevet) di INAFFF, saya akui cukup sinting. Nah film pendek buatan Elad Rath, yang juga dari Israel ini tidak saja menjabarkan kata ngehe dengan fasih, tapi juga memberikan gambaran lain tentang seperti apa sih yang namanya kecanduan itu, sesulit apa sih untuk keluar dari jeratan “setan” bernama narkoba. Well, “Eaten” akan mengajak kita untuk jalan-jalan ke dalam pikiran seorang pecandu, lewat percakapannya dengan sang setan. Dikemas tentu saja absurd, “Eaten” adalah hidangan yang sinting.

5. FIST OF JESUS

Mengingatkan akan kegilaan film-film Noburu Iguchi dan Yoshihiro Nishimura, menonton “Fist of Jesus”, kita memang dipaksa harus melepas segala macam tetek-bengek atribut logika. Nga perlu serius yah nontonnya… dikemas dengan niat untuk gila-gilaan, Adrian Cardona dan David Munoz tahu bagaimana sih cara untuk bersenang-senang. Pala pecah, isi perut terburai dan bergalon-galon darah bohongan jadi atraksi menyenangkan bagi mereka yang memang senang dengan film-film “cerdas” kaya gini, termasuk orang yang sedang nulis ini.

6. TUFTY

Aha! Saatnya untuk istirahat dan nonton yang lucu-lucu.

7. MERRY LITTLE CHRISTMAS

Aha! Saatnya untuk balik lagi nonton yang nga lucu! Kalau di bagian pertama ada film macam “Snip” dan “Cutting Moments”. Ehem, “Merry Little Christmas” bisa jadi film tandingan dua film itu. Ok filmnya emang gw akuin rada ribet dicerna, tapi percuma kalau sudah dicerna tapi terus dimuntahin lagi gara-gara deretan adegan disturbing-nya yang kelewatan. Shock! Sudah pasti bikin tak hanya nyali yang deg-deg-deg-an tapi juga hati nurani juga ikutan dibuat terkejut. Manuel Marin sudah berhasil memperkosa rasa kemanusiaan, batin seolah terkoyak. Yah emang orang lain tidak akan pernah mengerti dan tahu apa rasanya pahit, walau mereka selalu berkata kaya orang yang paling tahu dan mengerti. Ini film yang menampar mereka yang suka sok tahu… yang pada akhirnya hanya bisa diam.

8. TELL

Gw tahu Ryan Connolly dari kanal youtube-nya Film Riot, yang isinya bermacam tips dan trik tentang membuat film, dengan tambahan bagaimana cara membuat peralatan untuk syuting dengan biaya murah. Lewat filmnya “Tell”, Ryan kayak ngasih contoh sebuah film horor yang minimalis penampakan tapi efisien dalam urusan bermain dengan psikologis penontonnya, tahu bagaimana caranya untuk nakut-nakutin penonton juga. Dengan hanya memanfaatkan karakter utama dan satu lokasi, Ryan memainkan dua elemen tersebut dengan baik, hasilnya horor yang terbilang ngehe… ngehe ketika gw sampe neken tombol pause.

9. 444-444-4444

Halo Toshio! *tiba-tiba ada suara kucing*

10. TREEVENGE

Gw nyimpen yang paling ngehe di nomor terakhir, “Treevenge” buatan sutradara gila, Jason Eisener (Hobo with a Shotgun). Mungkin greenpeace sudah waktunya bikin film kaya gini untuk mengkampanyekan anti penebangan hutan. Yah pohon yang sudah ditebangi gantian balas dendam, “menebang” satu-persatu manusia. Mirip aksi bangsa Ent yang menyerang Isengard di “The Lord of the Rings: The Two Towers”, hanya lebih berdarah-darah saja. Well, itu hanya pikiran jorok gw, “Treevenge” jelas sangat Jason Eisener sekali, dan film ini tambah ngehe dengan selipan scoring dari “Cannibal Holocaust” di awal dan akhir film. Sinting!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Iblis (2016...
Review - Indonesia K...
Review - Train to Bu...