Review: Mama

written by Rangga Adithia on February 4, 2013 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 2 comments

Kalau saya ditanya, film horor pendek apa yang akhir-akhir ini paling diingat karena menyeramkan? jawaban cepatnya tentu “Mama”. Sebuah film pendek horor ngehe dengan durasi kurang dari 3 menit buatan Andres Muschietti. Salah-satu short-film yang saya masukan dalam daftar 10 film pendek horor terngehe, yang bisa ditonton secara online. “Judul boleh pendek dan durasinya juga benar-benar pendek, tidak lebih dari tiga menit, tapi “Mama” tahu sekali bagaimana cara membuat saya tidak tidur dan tak ada habisnya parno setelah menonton film karya Andres Muschietti ini.”, itu komentar yang saya cantumkan di featured article tersebut. Jadi yang belum sempat menonton film pendeknya, buruan cari di youtube. Selang 4 tahun kemudian “Mama” dibuatkan film panjangnya, walaupun agak pesimis awalnya, tapi saya tetap penasaran apakah “Mama” masih akan menyeramkan setelah dipanjangkan menjadi 100 menit? Keyakinan saya bertambah ketika Andres akan menyutradarai filmnya sendiri, disana pun ada nama Guillermo del Toro, walaupun bukan jaminan film-film yang dia produseri bakal jadi sesuai ekspektasi. Tidak menyalahkan Del Toro, tapi sekali lagi semua berbalik tergantung kemampuan sutradara, kali ini apakah Andres Muschietti mampu melampaui ekspektasi tersebut, dibayang-bayangi pamor karya film pendeknya. Jangan sampai bikin Mama marah ya, Andres!

“Mama” versi film panjang ini memulai ceritanya dengan adegan seorang ayah yang stress berat akibat masalah finansial dan kemudian “menculik” anak-anaknya dari rumah, setelah sebelumnya membunuh istri dan rekan kerjanya. Di tengah pelarian, mobil yang ditumpangi mengalami kecelakaan, beruntung si ayah yang depresi dan kedua anak perempuannya selamat. Mereka kemudian menemukan sebuah pondok di hutan… lalu tidak sengaja membaca sebuah buku berisi mantra “pemanggil” yang membebaskan satu keluarga zombie yang haus darah—maaf, saya hanya bercanda! Hahahaha! yang benar setelah masuk pondok, sang ayah berniat membunuh kedua anaknya, tapi sebelum niatnya terlaksana, sosok penampakan membunuhnya lebih dahulu. Victoria yang masih berumur 3 tahun dan adiknya Lilly yang baru berumur 1 tahun pun diceritakan akhirnya diasuh oleh si “penghuni” pondok tersebut, Mama baru mereka. 5 tahun berlalu, paman Victoria dan Lilly yang tidak pernah menyerah mencari keponakannya akhirnya berhasil menemukan mereka. Tapi ada yang aneh dengan mereka, yang sekarang lebih mirip binatang. Dibawah pengawasan seorang dokter, Victoria dan Lilly diperbolehkan tinggal bersama paman mereka. Tentu saja sang “Mama” yang selama 5 tahun mengasuh Victoria dan Lilly pun ngikut dan tidak rela anak-anaknya direbut oleh orang lain. Lagipula Ibu mana yang rela…

Saya tidak pernah punya masalah dengan horor berbalut fantasi, apalagi bernuansa fairytale—silahkan saja jika kemudian Guillermo del Toro ingin campur tangan, yah walau akhirnya tampak terlalu banyak ikut campur dalam urusan kreatif, ayolah Mr. Guillermo kasih kesempatan Andres Muschietti untuk bikin film ini menyeramkan sesuai ekspektasi saya. Ujung-ujungnya saya memang punya masalah dengan film ini karena dari awal saya mengira akan disajikan horor minimalis ala-ala “Insidious” walaupun trailer dan tulisan once upon a time… itu memperlihatkan kenyataan jika “Mama” bukan horor yang saya bayangkan sebelumnya. “Mama” sudah sangat jelas arahnya kemana, dari awal memang di-treatment untuk menjadi fairytale… walau saya masih berusaha denial dan sebenarnya akan baik-baik saja dengan pendekatan horor yang disajikan “Mama”. Jika saja sosok hantu hasil cangkok antara hantu Asia dan monster-monsteran Guillermo del Toro tersebut tidak berusaha keras untuk, ah narsis sekali. Yup, familiar, saya seperti sedang menonton film horor Indonesia-nya Koya Pagayo, walaupun tidak se-disturbing penampakan 5 menit sekali. Film mulai melangkah beberapa menit, hantunya sudah tidak sabar eksis. Saya sebetulnya agak kesal, tapi masih mencoba mentolerir, mungkin Andres sedang iseng ingin mengetes reaksi penonton—memang lumayan bikin merinding sih.

Beberapa bagian kemunculan “Mama” memang saya akui cukup merepotkan detak jantung ini untuk kembali berdenyut normal. “Mama” juga memiliki momen-momen creepy dan spooky layaknya film pendeknya, minimalis tapi dosisnya cukup untuk membuat nyali saya mengendap-ngendap penasaran, sambil bersembunyi, namun tidak sampai membuat ciut. Beberapa kali juga saya merespon seru ketika “Mama” punya adegan-adegan “males banget nih”, adegan yang efektif dalam membangun atmosfir horor yang pas, kemudian pikiran memproses bayangan yang tidak-tidak, bikin takut duluan sebelum “ci-luk-ba” si hantu muncul, atau ternyata memang tidak ada apa-apa. Sayangnya “Mama” berhenti bikin saya takut sebelum paruh pertama berakhir, walaupun rasa penasaran tetap berlanjut sampai akhir film. Terlalu sering si hantu muncul dan terlalu banyak yang ingin dijelaskan, “Mama” akhirnya justru kerepotan sendiri, banyak “lubang-lubang” yang terlihat jelas seenaknya dilompati, karena sedang sibuk menambahkan adegan-adegan mengada-ngada yang jika tidak ada pun tidak mempengaruhi cerita. Alih-alih menakuti, Andres Muschietti seperti sedang mendongengkan penontonnya kisah cinta seorang Ibu yang tak akan pernah mati. Sebagai sebuah dongeng, “Mama” jelas dongeng yang cukup baik. Tapi sebagai sebuah film horor, “Mama” menyia-nyiakan 100 menit yang diberikan, saya malah lebih banyak tertawa ketimbang dibuat ketakutan. Mama oh Mama.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Ada Apa Den...
Review - Train to Bu...
Review - Warkop DKI ...