Review: Flight

written by Rangga Adithia on February 28, 2013 in CinemaTherapy and Drama and Hollywood with 4 comments

Sejak terakhir kali membuat film live-action di tahun 2000, berjudul “Cast Away” tentang seorang pegawai FedEx bernama Chuck Noland (dibintangi oleh Tom Hanks) yang terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni, setelah pesawatnya mengalami kecelakaan. Robert Zemeckis bisa dikatakan juga ikut “terdampar” di genre film-film animasi berbasis motion-captured, dimulai dari 2004 dengan film The Polar Express kemudian berlanjut dengan Beowulf dan The Chrismast Carol. Setelah kurang lebih 12 tahun, barulah Zemeckis akhirnya kembali ke dunia live-action bersama “Flight”, yang sama-sama mempunyai unsur kecelakaan pesawat yang kemudian mengubah hidup seseorang di dalam ceritanya. Fokus pada Whip atau yang punya nama lengkap William Whitaker (Denzel Washington), seorang pilot yang sudah berjasa menyelamatkan banyak penumpang, ketika pesawatnya mengalami masalah dan dipaksa mendarat darurat. Jika bukan karena Whip dan aksi akrobatik-heroik saat menerbangkan burung besinya yang sedang “sakit”, kemungkinan tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan maut tersebut. Tapi sayangnya, status kepahlawanannya harus tercemar, karena setelah dilakukan pemeriksaan diketahui bahwa Whip dalam keadaan teler saat kejadian tersebut.

Sebetulnya jika Zemeckis mau, bagian yang mengungkap bahwa dalam tubuhnya Whip terkandung alkohol dan kokain bisa saja jadi twist di “Flight”, tapi film ini sedang tidak berbicara soal kebenaran teler atau tidak telernya Whip. Dari awal penonton sudah diberikan kebenaran itu, kita tahu kebejatan William Whitaker, sekarang pilihannya adalah apakah penonton mau mendukung seorang William Whitaker yang jelas-jelas alkoholik sekaligus pahlawan itu, atau justru mengutuk dengan tidak peduli padanya dan biarlah dia dihukum penjara, film selesai. Tapi disinilah aksi magis seorang Zemeckis sanggup menghipnotis penonton, kita tak bisa begitu saja memalingkan muka pada Whip, walaupun se-a**h**e apapun dia. Gerak-gerik Whip sulit ditebak, ketika penonton mengira dia akan melakukan A, dia justru melakukan yang sebaliknya, seperti itu seterusnya sampai penonton, termasuk saya dibuat jengkel oleh kelakuan Whip yang mengesalkan. Sekilas sih mengingatkan saya pada karakter Dicky Eklund yang dimainkan oleh Christian Bale di “The Fighter”, yang harus berjibaku dengan masalah kecanduan juga.

Yah, fokus “Flight” pada satu karakter Whip inilah yang kemudian pada akhirnya membuat film ini terkesan, well agak meng-anaktirikan karakter pendukung lain, termasuk Nicole (Kelly Reilly) yang sengaja disempilkan untuk menambah intrik pemanis dan membangun bagian drama romansa di film ini. Tapi hasilnya tidak saja chemistry-nya agak kurang ngena bersama Whip, namun karakter Nicole ini juga kurang tergali, karena Whip yang kerap selalu mendominasi layar. Dibilang sebuah one man show, ada benarnya, namun bukan berarti peran pendukungnya sama sekali teracuhkan dan tidak penting. Don Cheadle, Melissa Leo, Kelly Reilly, hingga John Goodman yang berperan sebagai Harling Mays si penjual kokain pun memiliki porsinya masing-masing dalam cerita, terbatas tapi tetap penting untuk menyokong “Flight” menjadi film yang menarik untuk ditonton. Walau sekali lagi nyawa film ini tetap mengandalkan permainan akting Denzel Washington, yang biasanya selalu bisa merebut simpati penonton sekaligus piawai mengajak emosi kita untuk ikut bermain…di “Flight” Denzel kembali menjadi Denzel.

Aksi cemerlang Denzel Washington tidak lepas dari skrip yang ditulis oleh John Gatins untuk karakter Whip sendiri, provokatif sekaligus memancing simpatik, di bawah arahan Zemeckis, seperti yang pernah dia lakukan kepada Tom Hanks di “Cast Away” maupun “Forrest Gump”, karakter Whip jadi benar-benar istimewa. Menghadirkan sebuah studi karakter yang menarik dari sosok Whip, sayangnya untuk sebuah film dengan durasi 139 menit, perjalanan film ini bisa dibilang yah agak melelahkan. Setelah aksi “lepas landas”  yang menegangkan, 20 menit awal film yang benar-benar membuat saya tidak bisa melepaskan tangan dari kedua ujung kursi. Paruh pertama “Flight” kemudian bergulir tanpa “goncangan” yang berarti, walaupun tetap menawarkan sepak terjang menarik sang pilot pahlawan dengan ego bangsatnya dan segala tingkah lakunya yang sok innocent tersebut. Ritmenya terjaga untuk tetap aman dan nyaman, membawa penonton ke paruh kedua film yang tensinya mulai “dipecut”, dengan intrik yang mulai berkobar-kobar serta diikuti oleh karakter Whip yang perkembangannya semakin menarik untuk dipelajari dan ditunggu bagaimana nasibnya di akhir cerita. “Flight” balik memberikan usaha terbaiknya untuk “membangunkan” penonton di penghujung akhir perjalanannya, saya bisa bilang “nice landing, Captain!”. Saya acungi jempol untuk filmnya dan dua jempol untuk Denzel yang sudah menghadirkan akting cemerlang untuk menghidupkan karakter yang kompleks seperti Whip, ini salah-satu film yang mampu mengangkat performa akting terbaik Denzel Washington.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Munafik (20...
Review - Train to Bu...
Review - Dukun Linta...