Review: Deadball (2011)

written by Rangga Adithia on February 13, 2013 in Action and Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Nishimura Clan with no comments

Ketika sebuah film memiliki karakter yang salah-satu matanya selalu tertempel bola baseball, ini isyarat buat saya untuk segera mengeluarkan otak dan menaruhnya di lemari es. Karena saya yakin keseluruhan isi film “Deadball” pasti sama sekali tidak berotak, tontonan tak berlogika yang niatnya hanya ingin ditertawakan. Nga perlu ditanggapi serius, konyol juga kalau dibandingkan sama film yang niatnya serius, ini film bego-bego-an, saking begonya justru malah jadi keren. Guilty pleasure? Persetan dengan kalimat munafik-tahi-kucing itu, kalau suka yah tinggal bilang suka, dan saya selalu mengakui kalau cinta mati dengan film model-model begini, sampai-sampai di blog pun ada kategori khusus Nishimura Clan, yang isinya review-review film yang satu aliran dengan salah-satu sutradara favorit saya, Yoshihiro Nishimura. Film-film dari geng sushi typhoon memang tidak pernah membosankan, “goblok”-nya film-film mereka justru selalu bikin saya “ingin nambah”, setelah kekenyangan sampai ingin muntah. Bikin ketagihan, begitulah, thanks to “Tokyo Gore Police”.

Nama Yudai Yamaguchi—yang juga punya segmen di “The ABCs of Death”, bukanlah anak kemarin sore di dunia Japanese-splatter-comedy, apapun sebutannya. Filmnya “Deadball”, juga bukan film gobloknya yang pertama, bersama dengan si Nishimura yang kebagian urusan tetek bengek spesial efek, mereka juga pernah bikin film yang sama jenisnya, judulnya “Meatball Machine” (next time akan saya review di blog ini). Setelah menonton dua segmen goblok, “Kentut”-nya Noburu Iguchi dan “Zentot”-nya Nishimura (itu judulnya mengada-ngada) di “The ABCs of Death”, mengalahkan rasa kangen ketemu dengan pacar, saya benar-benar dibuat rindu nonton film beginian, kangen ketawa sampai berbusa kaya pas nonton “Mutant Girls Squad”. Jadilah saya mencari-cari film geng sushi typhoon yang belum pernah ditonton, dan tidak sengaja menemukan “Deadball”, ini yang namanya jodoh. Ceritanya sih awalnya agak mirip sama “Mean Machine”/ “The Longest Yard”-nya Adam Sandler, tapi karena ini film-nya Yudai semuanya dikemas konyol-berlebihan. Jubeh (Tak Sakaguchi) diceritakan jago dan punya masa lalu buruk dengan yang namanya baseball, sialnya ketika dia di penjara, Jubeh justru dipaksa untuk bermain dalam tim baseball.

Sekali lagi, “Deadball” jelas film yang niatnya dari awal memang ingin ditertawakan, lihat saja nama penjara dimana Jubeh ditahan, “Pterodactyl Juvenile Reformatory”, atau sekelompok tim baseball yang nantinya jadi lawan tim Jubeh, diberi nama St. Black Dahlia High School, lebih gilanya lagi isinya sekelompok cewek-cewek ala girl band yang katanya psikopat tukang bantai orang. Masih bertampang serius? tunggu sampai “Deadball” mengeluarkan jurus-jurus mautnya, yang dijamin bakal bikin tuh muka yang nonton jadi kaya muka samurai yang mau diesekusi di segmen ABCs of Death “J is for Jidei-Geki”-nya Yudai. Seperti juga film-film Nishimura, walaupun tak sedahsyat kegoblokan sutradara berkepala plontos tersebut, Yudai punya setumpuk adegan yang tidak masuk di akal, humor berlebihan, adegan mati yang hilarious dan banyak lagi adegan-adegan yang sukses bikin saya tertawa sambil guling-guling di lantai. Apa yang akan disodorkan Yudai benar-benar tidak pernah bisa diprediksi, saya tahu film ini akan menyajikan adegan-adegan konyol ngehe, tapi tidak mengira kalau Yudai mampu melampaui ekspektasi saya, dasar sinting…!

Setelah dijejali kekonyolan bertubi-tubi, dari pertarungan Jubeh melawan si kepala penjara sampai pertandingan kasti yang gobloknya bukan main. “Deadball” memang sudah memberikan suguhan hiburan terbaiknya. Kalau adegan bola baseball tiba-tiba berubah jadi roket dan menghantam pemainnya atau di lapangan secara konyol ditaruh jebakan tikus segede gaban, itu bisa disebut hiburan, maka “Deadball” sudah melakukannya dengan baik… baik dalam artian tahu bagaimana mengemas sesuatu yang dianggap lebay menjadi menarik untuk ditertawakan. Berlebihan? tidak juga, yah jika sudah sering menonton film-film sejenis, “Deadball” justru masih terlihat agak normal jika mau dibandingkan dengan dua teman Yudai di geng sushi typhoon. Sayangnya Yudai seperti tersandung lalu tersadar dari kegilaannya, bagian akhir di film ini justru membuat saya ikut “sembuh”, setelah hampir separuh film terus saja dijejali kegilaan, ending-nya justru tidak jelas dan mengecewakan. Seperti sedang asyik-asyiknya menghisap ganja, lalu tiba-tiba dikejar anjing gila yang datang entah darimana. Perumpamaan yang aneh, tapi intinya kalau kata teman saya bilang agak-agak gajebo hahahaha. Kekonyolan “Deadball” memang mematikan, menghibur saya yang sudah lama tidak menonton film konyol macam ini, sayang harus dikecewakan oleh ending, tapi secara keseluruhan Yudai emang tahik banget.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Don't Breat...
Review - Ouija: Orig...
Review - The Girl wi...