Review: Thriller: A Cruel Picture (1973)

written by Rangga Adithia on January 8, 2013 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror and Thriller with 3 comments

Sempat disinggung oleh seorang teman, si empunya blog sigilahoror di twitter, saya jadi ingat lagi kalau sekitar 2 tahun lalu, ada salah-satu pembaca blog raditherapy yang komentar di review “I Spit On Your Grave” (setelah dicek lagi ternyata benar), menganjurkan saya untuk menonton “Thriller – A Cruel Picture” sekaligus direview. Fiuh, dan akhirnya baru sekarang saya bisa menonton film yang katanya di-banned di negaranya sendiri, Swedia. Setelah melihat isinya, sekedar info saya  menonton yang versi uncut, memang wajar jika “Thriller” dilarang tayang, belum lagi beberapa isu kontroversial yang menyelimuti film yang juga punya judul lain “They Call Her One Eye” ini, salah-satunya adalah penggunaan mayat betulan—untuk adegan yang menurut saya paling penting, adegan penusukan mata. Yah, satu-satunya adegan di film ini yang memang langsung saya respon secara spontan dengan memukul-mukul keyboard—punya kantor pula, hahahaha. Kalau dibandingkan sama “I Spit On Your Grave”, “Thriller” yang sama-sama masuk kategori rape and revenge ini memang tak melulu soal menyodorkan adegan shocking, tapi percayalah bagian-bagian pada saat si tokoh utama melakukan balas dendam, punya level mengasyikkan yang seimbang dan entah berapa kali saya menyebut kata “anj*ng”.

Belum apa-apa “Thriller” sudah memulai filmnya dengan biadab, awalnya memang indah, seorang gadis kecil sedang bermain-main di taman bersama seorang pria tua berjanggut, agak-agak mirip gelandangan, penuh canda-tawa, cerah dan riang. Tapi adegan selanjutnya sangatlah membuat hati ini kehilangan nafasnya, tercekik, pada waktu itu saya sempat ingin tidak melanjutkan film ini. Walaupun adegan pelecehan seksual tersebut tidak disorot secara terang-terangan, kalau iya terkutuklah orang yang buat filmnya, tetap saja shock mampus. Gadis kecil itu bernama Frigga, trauma masa kecil membuatnya tidak lagi bisa bicara. Frigga tumbuh menjadi gadis cantik, tinggal bersama orang tuanya, hidupnya bisa dibilang bahagia. Sampai pada suatu hari dia bertemu Tony (Heinz Hopf), Frigga yang saat itu berdiri sendirian di pinggir jalan setelah ketinggalan bis, ditawari untuk diantar. Saking lugunya, Frigga mau aja diajak om-om bermuka mesum ini, gregetan mau bilang ke Frigga buat turun dari mobilnya Tony, karena saya tahu pasti akan terjadi sesuatu yang ngehe. Benar saja, dengan modal keramahan palsu dan makan malam, Tony lanjut membawa Frigga ke rumahnya, yang belakangan diketahui ternyata semacam rumah pelacuran, Tony sendiri adalah seorang pimp. Singkat cerita, Frigga akhirnya jadi “budak” Tony, yah awalnya Frigga berusaha lari dan mencakar muka “tamu” pertamanya. Tapi dengan cara Tony untuk bilang “nurut nga lo sama gw” yang biadab, menusuk mata Frigga dengan pisau bedah, mau tidak mau, sekarang Frigga hanya bisa pasrah.

Tentu saja Frigga yang sekarang berjuluk “si mata satu”, punya rencana untuk balas dendam dibalik kepasrahaannya. Bagian balas dendam Frigga inilah yang memang saya tunggu-tunggu. Namun, sebelum beranjak ke aksi baku-hantam, tembak sana-sini, mobil meledak dan adegan slow-motion terbaik yang pernah saya lihat di film. Bo Arne Vibenius, menjejalkan saya dengan adegan “baku-hantam” di ranjang, yang jumlahnya sukses bikin “adik kecil” agak meronta-meronta meminta ruang bernafas. Belum lagi Christina Lindberg yang kebanyakan tampil frontal di depan kamera. Ya sebetulnya tidak apa-apa, menambah “seru” film yang katanya sih menjadi inspirasi Quentin Tarantino untuk membuat “Kill Bill” ini. Tapi karena saya menontonnya di saat jam kantor, memang agak tidak nyaman, hahahaha (bodoh). Duh, kalau nonton film-film model gini, saya tidak bisa tidak sensitif, walaupun pada akhirnya dikemas agak konyol. Kasus Frigga yang masa kecilnya terenggut, sampai akhirnya dia tidak bisa bicara, mengingatkan saya dengan berita yang baru-baru ini terdengar, seorang gadis kelas 5 SD yang berulang kali diperkosa, kemudian meninggal karena infeksi.

Teman si korban bilang, kalau korban tiba-tiba jadi pendiam. Tidak ada yang tahu kaya apa tuh perasaan seorang anak perempuan kelas 5 SD, yang harusnya sedang asyik-asyiknya menikmati masa anak-anaknya, harus memikul beban hidup yang lebih berat berlipat-lipat dari berat tubuhnya sendiri. Membayangkan kalau Frigga si mata satu menembakkan shotgun-nya tepat di selangkangan si pemerkosa, saya rasa itu satu-satunya keadilan untuk mereka, orang-orang bejat ber-t*t*t kecil yang tidak pernah berpikir sudah merenggut masa depan seorang anak, goddamn. Walau “Thriller” ini sebuah film hiburan, tapi tetap saja pesan-pesannya yang tersembunyi di balik “kegoblokkannya” itu tepat sasaran, padahal mungkin Bo Arne Vibenius pun tidak pernah terpikir untuk bawa-bawa “pesan moral”, atau memang sayanya saja yang terlalu sensitif hahahaha. Namun yang jelas film ini ingin meneriakkan sesuatu kepada publik, terlepas dari cara Bo Arne Vibenius mengemas filmnya yang justru terkesan tak layak ditonton bagi sebagian orang. Saya berada di pihak yang bilang ini film yang layak, ditonton dan “dinikmati”. Dan, hey Zack Snyder dan Michael Bay, kalian seharusnya belajar dari film ini bagaimana membuat adegan slow-mo, adegan gerak lambat terbaik yang pernah saya lihat di film. Didukung dengan banyak aksi balas dendam yang benar-benar badass, dilakukan oleh cewek yang juga badass. Yah “Thriller” itu badass, badass dan badass! Oh Christina Lindberg.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Ada Apa Den...
Review - Indonesia K...
Review - Dukun Linta...