Review: The Texas Chain Saw Massacre (1974)

written by Rangga Adithia on January 26, 2013 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with no comments

Kalau disuruh memilih siapa icon film horor favorit, saya pasti langsung menyebut nama Leatherface ada di urutan paling atas, setelah itu ada Michael Myers, Freddy Krueger, Jason Voorhees, dan Petruk dari “Air Terjun Pengantin”, yang terakhir itu tentu saja hanya becanda hahahaha. Kenapa? Badannya gede, mukanya jelek, level gilanya 100%, senjatanya paling gede, brutal dan berisik diantara temen-temennya yang lain: gergaji mesin! cukuplah buat nge-bully mental penonton sampai akhirnya terkencing-kencing. “The Texas Chain Saw Massacre” bukan sekedar sebuah judul film horor yang hanya ngeri di judul, tapi isinya juga mengerikan. Film horor yang kemudian jadi semacam template untuk film-film horor sejenis, khususnya slasher—film ini jelas seperti sebuah alkitab, panduan bagaimana membuat film slasher yang t*ik banget. Mau se-modern apapun, se-gory apapun, kemasan film slasher sekarang tetap tidak keluar dari pondasi yang sudah “The Texas Chain Saw Massacre” buat, Formulanya jadi bahan daur-ulang banyak film horor, termasuk menginspirasi film horor pertama buatan Rob Zombie, “House of 1000 Corpses”.

Bagi yang sudah keburu banyak nonton film slasher modern, mungkin (mungkin ya) akan bilang “The Texas Chain Saw Massacre” versi 1974 itu cemen, tidak banyak mandi darah, tidak sesadis yang dibayangin, Leatherface-nya cupu. Hahahaha. Tapi bagi saya yang sudah entah berapa kali menonton (penting banget, sombong), film ini tetap bikin nyali bergidik ketakutan, mental ciut melihat visual-visual bangsatnya dan emosi berayun-ayun kesana-kemari melihat Sally Hardesty yang tidak berhenti teriak-teriak—sepertinya 40% dialog di film ini isinya teriakan dia. Sekuelnya yang kemudian dibuat pada tahun 1986, masih disutradarai Tobe Hooper, memang saya akui lebih banyak menghadirkan kekerasan yang tidak lagi “malu-malu”, tapi versi pertama jelas tidak terkalahkan, dan mari lupakan sekuel-sekuelnya yang kemudian bermunculan, termasuk “Texas Chainsaw Massacre: The Next Generation” yang bagi saya sangat menggelikan itu. Versi remake-nya pun hanya memuaskan dahaga yang haus adegan-adegan sadis, memperkenalkan lagi Leatherface dengan dua film untuk generasi 2000-an. Jelas, dipermak lebih modern, sadis-memanjakan adrenalin, tapi esensi horornya sudah benar-benar hilang. Versi 1974, tetap mimpi buruk sejati, oh siapa yang bisa lupa adegan pembukanya yang sangat menggiurkan itu.

Sally Hardesty (Marilyn Burns), adiknya, Franklin (Paul A. Partain), dan tiga teman mereka, Jerry (Allen Danziger), Kirk (William Vail), dan Pam (Teri McMinn), jalan bareng melintasi Texas, niatnya untuk mengunjungi makam kakek Sally, kemudian melanjutkan untuk menengok rumah tua keluarga Hardesty yang sudah lama tidak berpenghuni. Di tengah perjalanan, (bodohnya) mereka mengangkut seorang asing yang berniat menumpang—bukan cewek lugu yang kesasar, tapi pria setengah gila dan dekil mirip gembel. Awalnya semua baik-baik saja, sampai si penumpang jelek ini mulai mempraktikkan keahliannya dalam memainkan pisau, dia mengiris telapak tangannya dan dengan sengaja menyayat pergelangan tangan Franklin. Karena pada akhirnya Sally dan teman-temannya (baru) sadar nih hitchhiker ternyata sinting, ya tanpa basa-basi mereka mengusir dia dari mobil dan melanjutkan perjalanan. Nah, sesampainya di rumah yang dituju, Kirk dan Pam berpisah dari grup dan berakhir dengan menemukan sebuah rumah lain. Mereka disambut hangat oleh si penghuni rumah, pria bertubuh besar bertopeng kulit yang doyan getok kepala tamunya pakai palu, terus motong-motong mereka pakai gergaji mesin, mainannya.

“The Texas Chain Saw Massacre”, itu bukan soal adegan getokin-getokin pala orang, terus gelitik-gelitik pakai gergaji mesin, tapi bagaimana pada akhirnya Tobe Hooper sukses membuat saya serasa “dijedotin” dan “digetokin” secara psikologis juga. Kita tidak hanya ditawarkan adegan-adegan kekerasan ngehe, tapi juga dibuat gregetan kesal sama keluarga Sawyer yang sinting, dan gemes melihat Leatherface. Berdurasi 80 menitan, “The Texas Chain Saw Massacre” sudah menyodorkan apa arti dari sh*t happen yang sebenarnya, mimpi buruk yang benar-benar mimpi buruk, sesuai apa yang tertera di judul, ini adalah film yang menghadirkan pembantaian, membantai nyali penontonnya sampai tak berkutik. Ceritanya memang “gitu doang”, tapi yang penting adalah dampak setelah menonton, membayangi satu meja makan bersama dengan keluarga Sawyer + dikejar-kejar si Leatherface yang mengayun-ayunkan tuh gergaji mesin adalah mimpi buruk. Nonton “The Texas Chain Saw Massacre” (lagi) tuh kaya balik lagi mendengarkan lagu-lagu “Obituary” di album “Slowly We Rot”. Sama-sama brutal dan klasik, yang satu nostalgia untuk kuping, sedangkan melihat film yang memperlihatkan Leatherface “menari-nari” di ending ini adalah nostalgia untuk mata… Penasaran seperti apa “Texas Chainsaw 3D”?

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Juara (2016...
Review - Ouija: Orig...
Review - Before I Wa...