Review: Mind Game (2004)

written by Rangga Adithia on January 17, 2013 in Animation and Asian Film and CinemaTherapy with 3 comments

“We’re playing those mind games together, pushing barriers, planting seeds…”, nah itu lirik dari lagu-nya John Lennon, yang akan saya review film animasi Jepang, ya mirip judulnya “Mind Game” tanpa (s). Memang tidak ada hubungannya dengan film yang akan saya bahas, hanya setelah menonton film yang disutradarai Masaaki Yuasa ini, saya langsung teringat lagu tersebut, dan sengaja diputar untuk menemani tulisan review ini. Walaupun sama-sama produksi Studio 4°C, tapi jangan harap jika “Mind Game” akan menawarkan gaya animasi yang se-realistis Steamboy (2005). Awalnya saya agak kaget sama visual yang disodorkan si Masaaki Yuasa, perlu beradaptasi, tapi tidak butuh waktu lama sampai akhirnya saya merasa “nyaman”, apalagi cerita di film ini ternyata agak-agak sulit dicerna otak cetek saya.

Jangan remehkan “Mind Game”, jangan juga men-judge film ini dari gambarnya yang terkesan konyol, tunggulah bersabar sampai Masaaki Yuasa benar-benar menguasai pikiran kita, setelah itu ia akan mengajak kita ke tempat yang belum pernah kita didatangi sebelumnya. Buang jauh-jauh logika deh, disini kita tidak memerlukannya, nikmati fantasi liar-seliar-liarnya dari Masaaki Yuasa. Menyuapi kita dengan ke-absurd-an sampai kenyang. Sekarang saya tahu kenapa almarhum Satoshi Kon (Paprika, Tokyo Godfathers), suka dengan “Mind Game”, karena animasi yang satu ini memang “taik banget”. Kita akan diperkenalkan dengan Nishi, tipikal cowok yang pecundang, berumur 20 tahun yang punya impian menjadi pengarang buku komik. Suatu hari, ia tidak sengaja bertemu dengan Myon, cewek yang dia taksir semenjak masa kecil. Sayang, walau sudah berani mengungkapkan, Myon akan menjadi milik orang lain. Mereka pergi ke restoran milik keluarga Myon, di restoran inilah takdir mempertemukan mereka dengan dua orang Yakuza, hidup Myon dan Nishi pun akan segera berubah. Dari dikejar-kejar Yakuza sampai masuk ke perut ikan paus.

Iya, perut ikan paus, dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kisah anak bertubuh kayu bernama pinokio, walaupun kita akan bertemu orang tua yang agak-agak mirip gepetto di dalam perut ikan paus nantinya. Fiuh, belum ada separuh film, tapi “Mind Game” sudah sukses menyeret saya ke dalam kegilaannya, membuat saya terkejut dengan momen-momen tidak biasanya yang what the f*ck sekali. Cukuplah untuk membuat otak ini sorong ke kiri dan ke kanan, tanpa perlu menyanyikan lagu potong bebek angsa. Belum selesai saya bengong dengan adegan di awal-awal saat Nishi tiba di “surga”, “Mind Game” tampaknya enggan bersabar dengan penonton, ya film ini langsung saja menarik tangan saya terburu-buru, tidak sabar ingin “pamer” adegan-adegan sinting lainnya. Myon, Nishi dan Yan (Kakak Myon) diburu oleh geng Yakuza—sebetulnya bagaimana Masaaki Yuasa menangani adegan kejar-kejaran di menit-menit awal saja sudah menyimpulkan gaya nyeleneh keseluruhan film. Semua jadi semakin absurd ketika Myon, Nishi dan Yan bisa lepas dari kejaran Yakuza, tapi masuk ke mulut ikan paus, cerita sesungguhnya ada di perut ikan paus. Edan.

“Mind Game” tidak saja menawarkan gambar-gambar menantang logika, tapi sejak awal memang berniat untuk mempermainkan saya lewat cerita, sama seperti visual, storytelling film ini juga tidak kalah ajaib, menarasikan cerita “semaunya” tapi masih tetap asyik untuk disimak, walaupun bobot cerita yang ingin disampaikan seberat berat ikan pausnya, hahahaha. Serius, jangan sampai lengah sedetikpun, jika tidak mau tertinggal satu petunjuk yang kadang terselip tidak terduga. “Mind Game” itu seperti permainan puzzle, ketika gambarnya masih utuh, tampak mudah, tapi sulit setengah mati ketika ingin kembali menyusun. Melelahkan, sudah pasti, tapi tidak serta-merta menjadikannya film yang membosankan. “Mind Game” tahu sekali saat dimana penontonnya lelah, film ini langsung punya sajian hiburan-hiburan aneh bin ajaib, yang kebanyakan atraksi joget-jogetan sinting. Dari visual yang absurd serta ceritanya yang mengorek-ngorek logika dan menantang pikiran, “Mind Game” yang dipenuhi simbol-simbol, setidaknya menjejalkan banyak pesan-pesan humanis dan kehidupan. Walau tidak menangkap keseluruhan ide film ini, pesan-pesan yang mau disampaikan jelas terbaca. “Mind Game” bukan soal bikin senang mata, cerita yang tidak serius dan tidak juga lempeng-lah yang akhirnya membuat saya betah, apalagi dengan storytellling-nya yang hebat, diikuti oleh perkembangan karakter-karakter utama yang hadir disini… yah sudah lama saya tidak menonton film animasi seperti ini, yang tidak saja menyenangkan tapi juga “mempermainkan” mereka yang nonton, ngehe!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Lights Out
Review - Warkop DKI ...
Review - Ouija: Orig...