Review: Mika

written by Rangga Adithia on January 21, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

Oh…ya lagi-lagi film yang katanya diangkat dari novel best seller, sepertinya setelah mendadak “5 cm” dan “Habibie & Ainun” laris diserbu banyak penonton, produser-produser lokal makin sering nongkrong di toko buku sekarang. Makin banyak yang latah untuk memfilmkan novel berstempel laris, namun kadang yah, penonton kita pun tidak bisa ditebak, tidak semua yang laris dalam bentuk buku, bisa ikutan laris ketika dalam media film. Jadi seperti judi, untung-untungan. “Mika” beruntung rilis ketika momen perfilman nasional sedang bangkit, saat gairah penonton sudah balik untuk menonton film Indonesia, semoga memang tahan lama. Temanya memang tak baru, romansa yang dibumbui penyakit yang mematikan, pilihan favorit untuk main aman dan jika beruntung penonton berbondong-bondong tergoda. Premisnya juga tidak terlalu istimewa, dan jujur saya memang tidak punya alasan yang kuat, kenapa saya harus duduk selama 100-an menit nantinya, Velove Vexia (Cewek Gokil, 2011)? Tidak juga. Lalu apa? Simple, karena ini film Indonesia…klise ah.

Siapa sih “Mika”? saya sih tahunya dia cowo bertato nga jelas, diperankan oleh Vino G Bastian, tahu dong? itu yang main “Catatan Akhir Sekolah”. Mika juga diceritakan mengidap AIDS, terus berkenalan dengan cewek bernama Indi (Velove Vexia). Indi punya penyakit skoliosis semenjak SMP, apaan tuh skoliosis? Kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang, kata wikipedia—yang kemudian mengharuskan Indi mengenakan semacam besi penyangga tubuh, setiap hari. Jarang orang yang mau berteman dengan Indi, di sekolah dia hanya punya satu teman, yah karena menganggap Indi cacat. Jadi keberadaan Mika, jadi sangat berarti buat Indi, apalagi hanya dia yang mengerti, mau juga jadi temannya. Indi yang merasa dirinya “kurang” jadi lebih percaya diri sejak bertemu Mika, selalu disemangati, pertemanan mereka pun berlanjut semakin dekat, sampai akhirnya Mika “nembak” Indi. Tanpa ragu, Indi bilang “iya” walaupun tahu Mika itu AIDS, mereka pun pacaran. Dunia jadi serasa milik berdua, Indi tidak peduli orang mau bilang apa. Nasehat ibunya yang tidak senang Indi bergaul dengan Mika pun diacuhkan. Sampai tiba akhirnya tubuh Mika ambruk, dunia pun seakan runtuh, bagaimana nasib hubungan mereka?

Sejak “Mika” menginjakkan kakinya di menit-menit awal, saya sebenarnya sok tahu bisa menebak kemana arah film ini, dalam hati “semoga saya salah”, nyatanya tebak-tebak buah manggis saya tidak keliru. Termasuk juga menebak bagaimana ending-nya. Sebetulnya, jujur saya tidak peduli jika film yang saya tonton sudah tertebak duluan cerita, memang jadi kurang greget, tapi jika pembuat filmnya mampu cerita dari A ke B-nya asyik, tidak masalah. Penyampaiannya, cara bertutur, storytelling, nah itu yang paling penting. “Mika” sebenarnya punya kelebihan itu, caranya asyik ketika mulai bercerita, diselipi momen-momen canggung yang manis. Sudah berada di jalan yang benar pula, ketika film yang disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo ini tampaknya memang tidak serakah, untuk mengeksploitasi penyakit untuk menjadi bahan utama penarik simpati. Saya dibuat peduli justru dengan pribadi dari masing-masing karakter, Mika dan Indi. Interaksi keduanya mengalir, menjadikan hubungan mereka menarik…tapi tunggu, saya kok tidak merasakan apa-apa disini (sambil saya menunjuk ke arah hati), enak dilihat tapi hambar untuk urusan emosi.

“Mika” lama-lama memang pada ujungnya harus menyerah, tunduk pada tradisi film romansa sejenis yang mengemis rasa iba bermodalkan batuk-batuk darah. Padahal saya sudah menyukai setengah perjalanan film ini, walau beberapa kali sempat ada “batu” yang membuat tersandung. Namun lama-lama saya merasa bosan dengan si “Mika” ini, kok gini-gini aja ya. Velove dan Vino memang bisa mempertahankan sisi aktingnya untuk tetap baik sampai akhir film, tapi chemistry keduanya makin hilang begitu film mulai ngaco menyelipkan hal-hal yang tidak perlu ada, tapi dipaksa ada, karakter-karakter numpang lewat yang masih dipertahankan. Kenapa tidak fokus saja pada dua karakter utama, masih banyak yang saya tidak tahu dari mereka, saya kenal Mika hanya sebatas dia alumni SMA tempat Indi bersekolah, sisanya, apakah Mika ini kerja atau kuliah? Tak ada yang tahu. Indi yang awalnya bilang suka tari, ya tahu-tahu sudah diceritakan suka fashion. Saya yang awalnya seperti sudah kenal, jadi merasa asing (lagi) dengan Mika dan Indi. Filmnya lama-lama justru menjauh, apalagi ketika penyakit sudah mengambil alih, cerita tidak lagi menarik. Ya sudahlah saya tidak tahu lagi mau apa, tinggal menunggu film selesai, keluar dan  melupakan “Mika”, yang punya soundtrack cadas memikat telinga itu.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Bone Tomaha...
Review - Juara (2016...
Review - Lukisan Ber...