Review: Les Miserables

written by Rangga Adithia on January 13, 2013 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Drama and Musical with 4 comments

Hanya sempat tahu dari versi film tahun 1998 yang dibintangi Liam Neeson, belum pernah menyentuh novelnya apalagi nonton pertunjukkan drama musikalnya, tidak berarti saya tidak penasaran dengan “Les Misérables” (Les Mis) versi terbaru yang disutradarai oleh Tom Hooper (The King’s Speech). Apalagi “Les Mis” versi baru ini memang akan dikemas full musikal dengan cerita yang setia pada novelnya. Berbeda dengan versi 1998-nya yang dibalut cerita lebih “pop”, drama romansanya pun lebih diangkat, sambil tetap fokus pada karakter Jean Valjean dan Javert. Saya menyukai versi Bille August tersebut, tidak saja karena ceritanya yang dibangun apik, “hangat” dan dijejalkan intrik-intrik menarik, tapi juga jajaran cast-nya yang tampil luar biasa memainkan masing-masing karakternya, termasuk Liam Neeson dan Geoffrey Rush. Sudah tahu garis besar cerita “Les Mis”, tidak membuat ekspektasi saya lesu, justru semakin semangat ingin tahu. Cerita apa yang nantinya akan ditambahkan ke dalam film yang diadaptasi dari drama musikal yang ditulis oleh Alain Boublil dan Claude-Michel Schönberg ini—masih berdasarkan novel Perancis tahun 1862 karya Victor Hugo. Saya mengaku bukan orang yang mudah suka dengan film-film musikal, tapi begitu melihat beberapa menit opening “Les Mis”, saya sudah dibuat menyerah dan memberikan hati saya pada film ini. Tidak sia-sia juga saya memaksa untuk nonton pertunjukkan midnight-nya, sambil berlari-lari di tengah guyuran hujan dan sampai ke meja pembelian tiket dalam kondisi lumayan basah kuyup…Duh!

Karakter Jean Valjean yang dulu dimainkan oleh Liam Neeson sekarang digantikan wolverine…maksud saya Hugh Jackman, seorang napi berkepala plontos yang punya kesalahan mencuri sepotong roti, tapi dihukum sampai hampir 20 tahun. Ya, setelah merasakan hidup di “neraka”, termasuk menarik sebuah kapal segede gaban, yang diperlihatkan di pembuka film, Valjean akhirnya bisa menghirup udara kebebasan. Tidak sepenuhnya bebas, karena dia harus tetap melapor setiap saat, jika sekali saja “bandel”, dia bisa kembali ke penjara. Kembali ke tengah-tengah masyarakat yang kala itu kondisinya sangat-sangat susah, dibebani status mantan narapidana, tidak mudah bagi Valjean untuk hanya sekedar mendapat tempat mengistirahatkan kaki-kakinya, apalagi mendapat pekerjaan, setiap orang memandangnya hina. Diusir jadi santapan sehari-hari. Beruntung akhirnya Valjean bertemu dengan seorang pendeta, yang memberinya makan dan kasur untuk tidur. Namun karena dasarnya pencuri, Valjean “silau” melihat barang-barang berharga milik sang pendeta, mencurinya dan kabur. Sayangnya, tertangkap lagi oleh pihak berwajib dan dibawa ke hadapan sang pendeta, yang kemudian mengatakan kalau barang-barang itu bukan dicuri, namun memang hadiah untuk Valjean. Tersentuh oleh kebaikan pendeta, Jean Valjean pun bertobat dan berniat untuk membuka lembaran baru dengan melanggar kebebasan bersyaratnya. Penegak hukum berwujud Javert (Russell Crowe) yang “mencium” adanya pelanggaran, langsung memburu Valjean. Selama bertahun-tahun, Valjean dan Javert akan main kucing-kucingan, di tengah revolusi yang terjadi di Perancis.

Mereka yang tidak suka dengan film nyanyi-nyanyi, saya sarankan menghindari film ini, ketimbang nantinya justru mengganggu penonton lain di bioskop yang memang sedang “khusyuk” menonton. Kecuali nontonnya sendiri di rumah, di DVD, terserah mau ketawa sambil jungkir-balik pun. Seperti penonton di sebelah saya, yang tidak ada hentinya tertawa setiap pemainnya mulai berdialog dengan bernyanyi, tak ada yang lucu padahal, kecuali ketika nanti keluarga Thénardier (Sacha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter) muncul, yang memang dijadwalkan untuk tampil kocak. Mungkin karena sudah tahu filmnya tidak menarik, sepanjang film pun si penonton di sebelah ini asyiklah menerangi studio yang gelap dengan cahaya smartphone-nya, dan mengobrol dengan suara cukup keras, beberapa kali “ssssttttt” dari penonton lain yang terganggu, tidak digubris…ampun deh. Untungnya, saya masih bertahan di kursi berwarna merah bertuliskan angka delapan itu, karena sejak awal “Les Mis” sudah “memenjarakan” saya dalam dunianya yang cantik luar biasa. Bolehlah mulut ini beberapa kali menguap, tapi percayalah kedua mata ini seakan sudah lupa cara untuk mengedip. “Les Mis” bukan saja soal bernyanyi dengan mengagumkan, namun juga menyuarakan arti sebuah kebebasan dengan sangat-sangat lantang. Meneriaki hati untuk ikut juga tergerak, berjalan di tengah-tengah kisah tentang impian, cinta, harapan dan juga perjuangan. 158 menit jadi tidak terasa…ajaib!

Bebas dari perbudakan yang diperlihatkan film ini ketika Valjean membeli Cosette kecil yang cantik. Ingin bebas dari dosa-dosa, itu digambarkan dengan perjuangan sengit Valjean untuk bertobat dan menebus segala kesalahannya. Ada juga harapan dari rakyat yang ingin merdeka dari tirani, revolusi untuk kebebasan. Cinta pun juga akhirnya terbebas ketika Cosette yang beranjak dewasa (Amanda Seyfried) bertemu dengan Marius Pontmercy (Eddie Redmayne). Dan apakah seorang Javert pun akan terbebas dari kebencian yang mengurungnya? “Les Mis” menceritakan itu semuanya dengan sangat apik. Dengan dukungan seting Perancis abad ke-19 yang juga tidak kalah menghipnotis mata, kelam, gelap, sekaligus juga indah. Awalnya memang agak aneh mendengar para karakternya mulai bicara dengan nada, tapi dengan tawaran komposisi musik yang sama-sama indah, setiap dialog yang dinyanyikan itu malah jadi semakin enak di kuping. Benar-benar seperti sedang menonton drama musikal di teater, dialog “normal”-nya bisa dihitung jari, hampir semua dinyanyikan. Semua lagu, yang semuanya berjumlah hampir 50 lagu itu, mungkin akan biasa saja jika tak didukung oleh cast-nya yang tampil amazing. Russell Crowe, walau agak aneh, Hugh Jackman, dan Anne Hathaway yang berperan sebagai Fantine, serta jajaran pemain lainnya benar-benar bisa bernyanyi, sekaligus diseimbangkan juga dengan kualitas akting yang sangat baik. Terlebih Anne Hathaway dengan porsi mengoyak-ngoyak, di bagian dia menyanyikan “I Dreamed A Dream”. “Les Mis” benar-benar sebuah film yang spektakuler, Tom Hooper sekali lagi mempersembahkan sebuah pertunjukkan yang berkelas…dan berhati.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
20 Film Indonesia Wa...
Review - Lukisan Ber...
Review - Before I Wa...