Review: Hansel and Gretel: Witch Hunters

written by Rangga Adithia on January 27, 2013 in Action and CinemaTherapy and Fantasy and Hollywood and Horror with one Comment

Setelah ditinggalkan orang tua mereka di hutan, Hansel dan Gretel tergoda untuk masuk ke rumah terbuat dari gula-gula, yang ternyata dihuni oleh penyihir. Hansel dan Gretel pun ditangkap untuk dijadikan makanan sang penyihir, sayangnya kedua anak yang akan jadi santapannya justru melawan dan memasukkan si penyihir ke dalam oven. Berita Hansel dan Gretel yang berhasil memanggang penyihir tersebar luas, layaknya mereka seorang pahlawan. Tumbuh dewasa, Hansel dan Gretel (yang diperankan oleh Jeremy Renner dan Gemma Arterton) memang nyatanya menjadi pahlawan beneran, kedua kakak-beradik yang entah kenapa jadi kebal dari mantra-mantra penyihir ini, sekarang terkenal sebagai pemburu penyihir (bayaran). Dengan dilengkapi senjata-senjata canggih, Hansel dan Gretel siap memburu para penyihir, klien mereka kali ini adalah walikota Augsburg, Englemann. Mereka diminta untuk menolong anak-anak yang sudah diculik penyihir. Seperti biasa, Hansel dan Gretel menganggap misi kali ini tak ada bedanya dari pekerjaan sebelumnya, datangi sang penyihir dan bakar. Tapi yang tidak diketahui adalah lawan mereka sekarang bukan penyihir biasa—banyak kejutan menanti… tapi tidak terlalu banyak untuk penonton, yah setidaknya ada bagian yang melibatkan Gemma Arterton, yang pastinya sukses bikin cowok-cowok menahan nafas hahahaha, termasuk saya.

Setelah sebelumnya dongeng tentang si Putri Salju diceritakan ulang dengan versi yang berbeda oleh Hollywood di dua film, yakni “Snow White and The Huntsman” dan “Mirror-Mirror”, pada 2012 silam. Tahun ini giliran Hansel dan Gretel, sebuah kisah fairytale karya Brothers Grimm tersebut dikemas menjadi suguhan aksi-aksi berselimutkan horor, ala “Van Helsing”-nya Hugh Jackman. Tentu saja dengan modal premis yang menjanjikan, ditambah nama Tommy Wirkola di bangku sutradara, ya wajar sekali jika saya agak berekspektasi lebih, apalagi jika kembali melirik seperti apa Wirkola membesut film zombienya, Dead Snow (2009). Film yang bisa dibilang menyenangkan, berisi dark comedy, salju, zombie berseragam tentara nazi, bergalon darah, dan banyak isi perut yang terburai. “Hansel and Gretel: Witch Hunters” masih mewarisi gaya “semaunya” Wirkola, tapi tentu saja sekarang ada batasnya, apalagi dia bukan lagi berada di kandang, di negerinya Norwegia, tempat lahir aliran musik black metal. Sebagai anak baru di negeri para begundal, Hollywood, termasuk film panjang pertamanya yang didanai bujet besar $50 juta, tentu saja Wirkola tidak bisa lagi seenaknya, “tunduk” pada mereka yang punya duit. Bukan berarti “Hansel and Gretel: Witch Hunters” berakhir sampah, masih bisa dibilang film menyenangkan, ya tapi rasa khas Wirkola harus mengalah dengan rasa yang lebih menjual.

Manis, tapi mudah hilang dari lidah. “Hansel and Gretel: Witch Hunters” jelas dibuat untuk hiburan… doang—jadi mari tidak perlu serius membicarakan ceritanya yang ya begitulah, lagi-lagi kebaikan melawan kejahatan yang dikemas menggampangkan semuanya, lurus-lurus saja tidak banyak kelokan, ringan dan lebih banyak fokus di visual. Untuk urusan visual, ini film yang membuat mata keluar sebentar dari sarang dan kemudian jingkrak-jingkrak. Saya datang ke bioskop untuk itu, melihat Wirkola bersenang-senang lagi, menyiram layar lebar dengan warna merah, iya alasan saya secetek itu. Tapi walau sudah datang dengan alasan cetek, “Hansel and Gretel: Witch Hunters” belum mampu memuaskan hasrat saya untuk melihat yang sadis-sadis ala Wirkola. Saya tidak peduli jika pada akhirnya disuguhkan adegan seorang penyihir yang menembakkan senjata macam gatling gun, toh dunia “Hansel and Gretel: Witch Hunters” memang dari awal dibuat untuk sama sekali tidak masuk diakal, lagipula ini cerita fantasi, tendang jauh-jauh logika ketika menonton film ini. Apa yang saya pedulikan adalah ketika Wirkola jauh lebih “bersahabat” disini, tapi setidaknya saya masih disodorkan adegan-adegan seru, banyak kepala hancur disini.

Kepala diinjak sampai hancur, hati saya tepuk tangan, adrenalin ini berdiri sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi, aneh. Walaupun di beberapa bagian efek visualnya agak kurang halus, film ini masih cukuplah memanjakan mereka yang datang untuk melihat visual doang, termasuk melihat Gemma Arterton menenteng-nenteng asyik senjata berat. Tidak perlu akting bagus, bersama dengan Jeremy Renner, keduanya mampu menampilkan sosok jagoan yang diinginkan, tapi juga tetap terlihat manusia dibalik keahliannya membunuh para penyihir. Chemistry-nya juga cukup, setidaknya kita tidak pernah menaruh curiga mereka saling suka, sayangnya sebatas hubungan kakak-beradik, mendukung mereka yang digambarkan sebagai duo pemburu yang selalu kompak dalam setiap misi. Tampil konyol pun sepertinya tidak masalah, ada beberapa bagian yang memaksa Gemma Arterton dan Jeremy Renner untuk melucu, mereka mampu melakukannya dengan baik. Filmnya jadi agak konyol, wajar karena “Hansel and Gretel: Witch Hunters” oleh Wirkola disajikan dengan kemasan tidak serius, menyelipkan humor-humor kelam didalamnya, pokoknya sadis tapi tetap bisa diketawain, iya lihat kepala hancur tapi masih bisa tertawa, itulah ulah Wirkola. Tidak perlu serius untuk menikmati film yang kapasitasnya hanya untuk menghibur seperti “Hansel and Gretel: Witch Hunters”, saya memang kecewa, tapi semata-mata bukan karena cerita, tapi Wirkola jadi terkesan terlalu “baik” di film ini.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Lights Out
Review - Blair Witch...
Review - The Void (2...