Review: Funky Forest: The First Contact

written by Rangga Adithia on January 9, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy with 3 comments

Dilihat dari judulnya, tak pernah terpikirkan sebelumnya jika film ini bakal gila, well walau sama-sama film Jepang, jangan dulu persepsikan kata “gila” yang saya maksud setara dengan kegilaan karya-karya si Yoshihiro Nishimura atau Noburu Iguchi. Film mereka memang gila, tapi kategorinya gila yang tidak perlu digubris, tidak perlu dipikirkan, film yang dibuat untuk menghibur tanpa otak, sedangkan “Funky Forest: The First Contact” justru malah membuat mikir, apa maksud dari deretan kisah-kisah yang kebanyakan sulit untuk dijelaskan, terbungkus dengan ke-absurd-an tingkat dewa. Trio sutradara, Katsuhito Ishii, Hajime Ishimine dan Shunichiro Miki, sepertinya bergabung memang sengaja untuk membuat kacau otak siapapun yang menonton film yang sempat tayang di “Toronto After Dark Film Festival di tahun 2006 ini. Ini pun jadi pengalaman pertama saya menonton filmnya Katsuhito Ishii, yang katanya memang “sinting”, mungkin setelah ini saya akan mencicipi “The Taste of Tea”, tidak sabar hahaha.

“Funky Forest: The First Contact”, terdiri dari banyak segmen/ episode, dan agak susah untuk mengingat satu-persatu segmen-nya, saking otak sudah melilit dan kusut. 20 lebih segmen yang what-the-f*ck, dari yang isinya hanya dance, sampai fiksi-ilmiah berbalut komedi. Dan untuk film yang punya durasi 150 menit, saya yang awalnya sudah gerutu “walah, lama banget nih film”, ternyata justru malah ketagihan dan meminta lebih ketika film sudah selesai, tidak kapok walau otak sudah berceceran kemana-kemana, dan jauh dari yang namanya membosankan. Saya pun bingung sebenarnya film ini bercerita tentang apa, ada satu kelas yang mata pelajarannya memaki-maki orang di depan kelas, muridnya pun beragam, dari anak kecil sampai bapak-bapak, ada di segmen “Home Room”. Beda lagi di segmen “Takefumi’s Dream”, dimana seorang cowok bernama Takefumi dipaksa untuk menari sebagai “ujian”, film aneh joget-jogetan-nya pun aneh, koreografi ajaib yang menurut saya lebih menghibur dari joget “Gangnam Style” itu.

Separuh pertama film, saya pikir sudah yang paling aneh, tapi ternyata setengah jalan belum ada apa-apanya, dibandingkan yang akan kemudian disodorkan oleh “Funky Forest: The First Contact” di paruh sisanya, yang dipenuhi oleh kumpulan kisah-kisah yang melelehkan logika dan menantang intelejensi untuk setidaknya menangkap apa yang mau dibicarakan film ini. Maunya apa sih nih film. Mungkin Katsuhito Ishii dan yang lain memang tidak mau filmnya dimengerti, cukup saja menikmati iring-iringan parade adegan aneh bin absurd. Saya yang biasa nonton film-film gila Nishimura saja masih dibuat shock, ketika “Funky Forest: The First Contact” mulai menjejali saya dengan adegan-adegan yang memelintir otak, well jika Nishimura punya mahkluk-mahkluk aneh yang biasanya mejeng di film-film-nya, “Funky Forest: The F irst Contact” juga ternyata memiliki mahkluk-mahkluk yang tidak kalah aneh, malah menurut saya bikin “binatang peliharaan” punya Nishimura atau Iguchi jadi terlihat biasa saja, tidak aneh lagi.

Jepang emang jagonya kalau bicara yang aneh-aneh, dan “Funky Forest: The First Contact” seperti kumpulan keanehan made in Japan yang dipaketkan. Untuk bisa seimbang, pemain-pemain yang meramaikan film ini juga ikut “freak”, tidak ada satupun yang dikondisikan seperti manusia normal, dari Ryo Kase yang punya peran sebagai Takefumi, sampai si cantik Erika Nishikado yang berperan sebagai Notti pun dipaksa untuk berakting se-absurd-mungkin. Menonton film ini tak ada bedanya dengan memasuki alam mimpi, kita dipaksa melompat dari mimpi yang satu ke mimpi aneh yang lain, setelah terbangun hanya bisa bengong berwajah bodoh, sambil mencoba mengingat-ingat apa yang barusan terjadi di mimpi. Yah “Funky Forest: The First Contact” mungkin juga “diadaptasi” dari mimpi-mimpi para pembuatnya. Film yang tidak perlu dijelaskan, biarkan saja kegilaan film ini menggerogoti setiap bagian otak yang berusaha menantang ketidakjelasan film dengan logika. Semakin dipikirkan malah semakin tidak mengerti, percuma, atau hanya saya saja yang terlalu bodoh untuk mencerna setiap segmen di film ini. Ah benar-benar sebuah pengalaman nonton yang tiada duanya, “Funky Forest: The First Contact” menjabarkan kata absurd dan bizzare dengan caranya sendiri, cara yang paling watdefak, ini adalah film yang gila sekaligus juga “indah”, serius!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Raksasa Dar...
10 Film Indonesia Te...
Review - Danur (2017...
Review - The Guys (2...