Review: Dead Mine

written by Rangga Adithia on January 4, 2013 in Action and Asian Film and CinemaTherapy and Horror with no comments

Sempat bercanda sedikit di twitter—kalau “film itu” bagus, baru klaim sebagai film Indonesia. Iya, yang saya maksud memang “Dead Mine”. Bukan sepenuhnya benar kalau menyebut film ber-genre action-horror ini film Indonesia, saya lebih memilih “setengah” film Indonesia. Walaupun produksinya ada di Indonesia, dikerjakan oleh  Infinite Frameworks Studios yang punya basis di Batam tapi pusatnya di Singapura, dan memakai aktor-aktor dari Indonesia, ada nama HBO Asia juga, yang bukan asal tempel biar terkesan keren, jelas mereka juga invest uang bukan daun. Dan pastinya tidak sedikit. Jika melihat sekilas saja, “Dead Mine” ini bukan film murah. Mungkin film joint venture Singapura-Indonesia lebih tepat namanya. Beda sama “The Raid”, walaupun ditangani oleh sutradara bule—yang ngakunya orang betawi (hahaha), filmnya dibiayai dan diproduksi oleh Merantau Films, yang notabennya rumah produksi asli Indonesia, trus kenapa “The Raid” tidak masuk FFI? Itu lain soal lagi.

Sudah…sudah, tahun 2013 masih saja ngomongin “The Raid”, basi! (ditendang sama Mad Dog). Seperti yang saya bilang sebelumnya, “Dead Mine” ini bukan film dengan bujet murah, kalau melihat production values-nya yang mumpuni, walaupun jadinya “pincang” sebelah dikarenakan skripnya yang serba tanggung. “Dead Mine”, sendiri akan mengajak kita ikut dalam ke sebuah aksi perburuan harta karun peninggalan jaman perang dunia ke-2, ada mitos yang mengatakan jika seorang Jenderal Jepang bernama Yamashita, menimbun hartanya di suatu tempat di Sulawesi, Indonesia. Berbekal peta dan data, sampailah satu kelompok ke sebuah tambang rahasia yang dulunya juga bekas bunker tentara Jepang. Mereka adalah, Price (Les Loveday) yang membiayai ekspedisi harta karun ini, lalu pacarnya Su-Ling (Carmen Soo), seorang mantan tentara Stanley (Sam Hazeldine), Rie (Miki Muzuno) seorang researcher, dan 4 tentara bayaran, Kapten Tino Prawa (Ario Bayu), Djoko (Joe Taslim), Ario (Mike Lewis) dan Sersan Papa Ular (Bang Tigor). Diserang oleh kawanan bajak laut, tim pemburu harta pun terpaksa masuk ke tambang dan terjebak disana. Tidak ada cara lain untuk keluar selain masuk lebih dalam ke tambang, yah sayangnya sesuatu yang mengerikan juga sudah menunggu mereka.

Saya memang keburu girang, tidak sabar menunggu “zombie-zombie” ber-cosplay kostum samurai muncul dan menebas Kapten Tino dan satu-persatu tim ekspedisi harta karun. Sayangnya film ini tahu bagaimana membuat saya seperti ikut depresi terjebak dalam tambang bersama para pemainnya, sebelum teror demi teror yang sebenarnya diikutsertakan dalam jalinan alur cerita yang sungguh merangkak. Saya biasanya akan maklum dengan film-film ber-pace lambat, film lambat bukan berarti jelek loh. Tapi batas toleransi saya untuk film ini sudah habis oleh paruh awal “Dead Mine” yang tampak “tersesat” dengan plot-nya sendiri. Untuk film seperti ini, urusan cerita memang tak saya pernah pedulikan, jika memang ternyata menarik, saya akan bersyukur, tak berharap akan ada twist yang sanggup memelintir kepala sampai 180 derajat, jika ada itu sebuah bonus. Apa yang saya harapkan adalah bagaimana sang sutradara, Steven Sheil, membimbing saya dari A ke B, menelusuri labirin tambang yang rumit, sayangnya sampai 40-an menit durasinya, film ini hanya memberikan saya rasa kantuk. Harus ekstra keras menjaga mata ini supaya tidak “menyerah”, bisa dibilang menuju setengah film hampir tidak ada apa-apa. Steven Sheil terus saja asyik memberikan harapan palsu, akan ada sesuatu di ujung terowongan, namun butuh waktu sangat lama untuk sampai ke ujungnya, merangkak dan hampir tidur.

Prok…prok…prok, eits itu bukan suara seorang kapiten yang punya pedang panjang sedang berjalan, namun pasukan “zombie” samurai yang baru saja aktif dan punya tugas untuk menyelamatkan “Dead Mine”. Sampai juga di ujung, dan yah setidaknya Steven Sheil disini bisa memaksimalkan filmnya menjadi adegan penuh darah, yang ternyata hanya dikepala saya saja, karena toh lagi-lagi “Dead Mine” mengecewakan. Setelah terornya yang bergerak lamban, sekarang giliran creature-nya yang pemalu. Untuk urusan make up, kostum dan spesial efek penunjang, film ini memang sangat niat untuk menyiapkan itu semua, para “zombie” samurai jadi terlihat meyakinkan dan mengintimidasi siapa saja yang menghalangi mereka, lalu ada tahanan-tahanan perang yang sekarang sudah bermutasi jadi semacam mutan… atau gollum? Polesan oleh tim artistik sukses membuat mereka menjadi sangat mengerikan. “Dead Mine” seharusnya bisa “menghajar” penonton di bagian ini, pace sudah mulai terasa agak lincah, teror sudah tidak malu-malu bersembunyi dibalik bayang-bayang tambang, tapi tetap saja Steven Sheil tidak mampu mengasah ketegangan lebih tajam, beraksi seadanya dan hanya membuat saya lelah ikut berlari-lari kesana-kemari. Beberapa bagian ketika mutan dan samurai menerjang dan menebas memang asyik, percikan ketegangannya terasa dan horornya juga ikut menyenggol-nyenggol. Tidak cukup, dosisnya kurang untuk mengajak adrenalin ini bersorak-sorai, tapi setidaknya mata saya tidak lagi dalam status merem-melek. Dengan artistik yang jempolan, film ini benar-benar telah menyia-nyiakan kesempatan dan sumber daya pemainnya untuk jadi film aksi-horor yang asyik. Keluar dari tambang, sangat mudah dilupakan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Deathgasm (...
Review - Bone Tomaha...
Review - The Invitat...