Review: Demi Ucok

written by Rangga Adithia on December 26, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Drama and Film Indonesia with one Comment

Ceritanya gitu doang?—iyah, emang! “Demi Ucok” memang hanya bercerita tentang pergulatan Ibu versus anak perempuannya demi mencapai apa yang diinginkan. Si anak, Gloria Sinaga atau Glo (Geraldine Sianturi), yang namanya suka diplesetkan ibunya sendiri menjadi “gorila” ini, bersikeras untuk bikin film kedua, ketimbang menikah lalu melupakan impiannya setelah berstatus ibu rumah tangga. Mak Gondut (Lina Marpaung), Ibu Glo, juga tidak mau kalah kerasnya terus meminta anaknya untuk menikah…dengan pria Batak. Masalah “kawin vs. bikin film” ini yang jadi pemicu keributan sehari-hari antara Glo dan Mak-nya. Bahan cerita “seadanya”, tapi oleh sutradara sekaligus penulis, Sammaria Simanjuntak, yang “gitu doang” itu diracik sedemikian rupa untuk jadi sangat-sangat menarik. Walau sudah mendengar dari sana-sini kalau “Demi Ucok” itu bagus, saya tetap menjaga ekspektasi agar tidak dulu meluap-luap, tapi setelah menonton, bohong kalau saya bilang tidak cinta sama Mak Gondut, cinta dengan “Demi Ucok” hahahaha.

Saya lupa kapan terakhir bisa tertawa ngakak di bioskop menonton film Indonesia, dengan genre yang memang niatnya dari awal komedi, dibumbui drama. Biasanya, kebanyakan bertumpu pada aksi-aksi bodoh yang mengandalkan karakter-karakter komedian, yang dikondisikan untuk “sudah jatuh tertimpa tangga pula”, itulah yang menjadi bahan untuk ditertawakan. Berlebihan dan tidak lucu. Untungnya, “Demi Ucok” lebih waras dan memilih untuk menggelitik penonton dengan dialog-dialog cerdas ketimbang menampilkan aksi-aksi konyol slapstick, komedi fisik berlebihan yang biasanya justru garing. Sammaria Simanjuntak tidak bertele-tele dalam urusan menyajikan bagian demi bagian “Demi Ucok”, membuatnya mengalir, layaknya saya sedang mendengar sebuah curahan hati. Sesekali ada becandaan di tengah seriusnya Sammaria bercerita, guyonan itu dilemparkan pas bikin saya ketawa. Paling penting saya dibuat peduli dengan kisah Glo melawan “kekuasaan” ibunya, ingin berontak salah takut kualat, tidak berontak juga takut mengkhianati impian.

Cerita yang disodorkan “Demi Ucok” bukan diambil dari dongeng asal comot, bisa dibilang “cerita semua orang”, ada banyak orang yang punya nasib sama dengan Glo, jadi itulah yang membuat “Demi Ucok” lebih dekat dengan penontonnya, karena ceritanya tidak jauh dari kisah hidup sehari-hari kebanyakan orang. Saya pun jadi ingat cerita seorang teman. Sammaria tidak perlu repot-repot lagi mendekati para penonton, karena begitu “Demi Ucok” mulai membagi curhatannya, penonton juga termasuk saya langsung peduli, merasa terikat dan hati tersentuh dengan hubungan Ibu dan anak ini. Ketika chemistry itu dengan mudah tercipta, Sammaria sekarang tinggal punya tugas bagaimana menjaga penonton tetap duduk betah di kursi, tidak kabur. Itulah yang jadi kelebihan “Demi Ucok”, walaupun cukup sering diperlihatkan wajah Mak Gondut yang menyeramkan apalagi ketika ngamuk, saya tidak merasa sedang dimarahi, saya betah karena film ini bukan film yang menceramahi. “Demi Ucok” juga bukan soal memihak pihak mana, saya peduli dengan Glo tapi juga tidak benci 100% sama Mak-nya, mengesalkan tapi sekaligus juga menarik simpati, belum lagi Mak Gondut memang sumber kelucuan dan kekonyolan di “Demi Ucok”. Ampun Mak!

Fight! Fight! Fight! Impian itu wajib hukumnya untuk diperjuangkan, Glo tetap terus berjuang mencari dana untuk film keduanya, walau beberapa kali dikecewakan, plus dapat tekanan batin dari Mak Gondut. Sedangkan Mak Gondut atas dasar insting Ibu yang kuat, terus memperjuangkan anaknya untuk mendapatkan jodoh yang sangat diinginkan, yaitu lagi-lagi cowok Batak. Terasa masih “indie”, “Demi Ucok” dengan kesederhanaannya justru lebih mampu menghibur ketimbang film Indonesia lain yang didukung bujet berlebih namun juga berlebihan juga pretensiusnya. Sambil mengajak menertawakan “pertempuran” Ibu dan anak, “Demi Ucok” juga ikutan sesekali menyentil isu-isu hangat, dari politik sampai perfilman nasional, tapi tentu sentilan-sentilan tersebut hanya berupa pernak-pernik tambahan, seperti layaknya kita sedang curhat, kadang suka ngomong kemana-kemana dulu sebelum balik ke topik curhatan awal. Asyiknya “Demi Ucok” bercerita, serunya perjuangan antara “kawin vs. bikin film” dan goblok-nya lelucon yang dilempar film ini, makin komplit ketika para pemainnya juga berakting tak setengah-setengah. Lina Marpaung pun jadi sorotan disini, karakternya Mak Gondut benar-benar dimainkan dengan sangat hilarious—didukung dengan baik juga oleh akting Geraldine Sianturi. Biar tambah lengkap Sammaria juga memboyong pemain dari film “cin(T)a” si cantik Sairah Jihan dan Sunny Soon, yang aktingnya tidak kalah seru menambah menarik “Demi Ucok”.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Warkop DKI ...
Review - Telaga Angk...
Review - Under the S...