Review: Paranormal Activity 4

written by Rangga Adithia on November 7, 2012 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 3 comments

Hmm, saya tidak akan kaget jika nantinya seri “Paranormal Activity” ada film ke-tujuhnya atau bahkan lebih, selagi masih bisa aji mumpung mendulang ratusan juta dolar dari bujetnya yang hanya “secuil” untuk ukuran film Hollywood sana, tidak ada alasan untuk menghentikan franchise horor bergaya mokumenter yang sekarang sudah menelurkan film ke-4 ini. Well, sama seperti “Saw” yang dari seri ke seri berikutnya semakin “tidak penting”, apa yang kemudian saya tunggu dari “Paranormal Activity” bukan lagi bagaimana cerita selanjutnya dikembangkan—saya tak sepenuhnya acuh pada cerita—tapi cara seperti apa lagi sih yang akan dipakai “Paranormal Activity” untuk membuat penonton menutup mata mereka, membuat saya harap-harap cemas berekspektasi macam-macam ketika tulisan night #1 dan seterusnya itu muncul di layar. Menurut saya, itulah satu-satunya yang membuat orang masih berbondong-bondong beli tiket untuk “Paranormal Activity”, walau tahu template-nya akan sama, walau pada akhirnya ketika sudah keluar dari bioskop, akan ada yang bilang “Paranormal Activity 4 adalah sekuel yang tidak penting”. Harus diakui, di setiap serinya, “Paranormal Activity” jelas selalu sukses membuat saya dan penggemar film horor penasaran, khususnya yang memang fans dengan “Paranormal Activity”. Harus diakui juga, saya belum bosan dengan franchise yang satu ini.

Sebelum menonton “Paranormal Activity 4”, tidak ada salahnya bagi yang belum nonton untuk maraton nonton film pertama sampai ketiga, kalau perlu “Paranormal Activity: Tokyo Night”. Jika tidak mau juga tak apa-apa, asalkan ketika menonton jangan sampai mengganggu partner nonton anda dengan pertanyaan-pertanyaan “ini siapa-itu siapa?”, seperti yang dilakukan teman saya yang notabennya memang belum pernah nonton seri “Paranormal Activity”, satupun. Tentu saja cerita yang akan dihadirkan Zack Estrin dan Christopher B. Landon (penulis di film ini), masih akan ada kaitannya dengan film-film sebelumnya. Tanda tanya seputar kemana hilangnya Katie (Katie Featherston) setelah menculik Hunter di film kedua, akan coba diungkap di film keempat ini, sambil bermain-main dengan keluarga baru yang malangnya akan menjadi korban keisengan berikutnya dari “Paranormal Activity”. Cerita berfokus pada Alex dan keluarganya, yang kedamaian rumahnya tiba-tiba terganggu oleh kejadian-kejadian aneh yang lambat laun menjurus ke supernatural. Rentetan keanehan di rumah Alex terjadi semenjak ada seorang bocah bernama Robbie tinggal di rumahnya. Robbie adalah anak seorang wanita yang tinggal di seberang rumah Alex, karena ibunya harus dirawat di rumah sakit, Robbie akhirnya dititipkan sementara waktu. Untuk memastikan apa yang sedang terjadi, Alex dengan bantuan temannya, Ben, memanfaatkan kamera di laptop untuk “mengawasi” rumah. Aktivitas-aktivitas gaib pun mulai berseliweran tertangkap kamera, sayangnya sudah terlambat bagi Alex untuk melambaikan tangannya ke kamera.

Jika di film ke-3, duo Henry Joost dan Ariel Schulman tampaknya begitu semangat untuk membuat penonton takut, semangat tersebut terkesan kendur di Paranormal Activity 4. “Payahnya” Henry dan Ariel dalam mengesekusi momen-momen horor di film ini tentu saja akibatnya terasa langsung ke penonton, tidak hanya cara-cara menakutinya yang bisa dibilang ikutan “loyo”, tetapi juga sensasi harap-harap cemas “udah takut duluan” yang biasa saya rasakan di seri-seri “Paranormal Activity” sebelumnya mulai “hambar”, seperti sebuah ciuman yang sudah tidak ada rasanya lagi (agak berlebihan). Memang tidak keseluruhannya hilang, masih ada satu-dua adegan yang bisa dikatakan berhasil memacu jantung berdegup lebih cepat, dan memaksa otak saya untuk colong start, mengolah dan mengirim “gambar-gambar seram” ke mental yang belum siap, akhirnya nyali ini sudah ciut duluan sebelum “Paranormal Activity 4” benar-benar beraksi. Lalu sisanya, hanya permainan kaget-kagetan khas “Paranormal Activity” yang untungnya masih bisa menciptakan momen slow-motion saya loncat dari kursi. Namun sekali lagi jika dibandingkan dengan seri-seri sebelumnya, “Paranormal Activity 4” adalah yang terpayah dalam urusan menakut-nakuti ketika tulisan “malam pertama dan seterusnya” muncul di layar, yang artinya penonton harus siap untuk apapun yang tiba-tiba nongol dari kegelapan. Sayangnya begitu saya sudah siap lahir dan batin untuk dibuat kencing di celana, “Paranormal Activity 4”-lah yang justru belum siap untuk nakutin, hidangan horornya bisa dibilang setengah matang. Bersyukur saya tidak jadi membasahi celana, toh saya tidak sedang bawa celana cadangan malam itu.

Jadi apakah “Paranormal Activity 4” masih punya sesuatu yang menarik selain satu-dua adegan yang di paragraf sebelumnya saya bilang “berhasil” itu? saya harus bilang “iya”. Well, jika film ke-3 punya “kamera kipas angin” yang brilian, film ke-4 memanfaatkan teknologi webcam di laptop dan kinect, sebuah perangkat yang memanfaatkan teknologi laser untuk membaca gerak, dipasangkan pada konsol game x-box. Siapapun, apabila masih dalam radius kinect, akan terbaca gerakannya, sayangnya termasuk juga mahkluk halus yang berkeliaran di rumah Alex. Webcam dan kinect benar-benar jadi penyelamat “Paranormal Activity 4”, tidak saja membuat nuansa found footage di film ini menjadi semakin menarik, tetapi juga menolong beberapa adegan nakut-nakutinnya jadi makin seram. Untuk pola nakut-nakutinnya, “Paranormal Activity 4” masih tetap setia memilih template dari film-film sebelumnya, tidak semua dan diracik lagi untuk menghadirkan sesuatu yang tidak benar-benar baru. Tahapan menakuti dari suara-suara aneh sampai akhirnya “main fisik”, masih seperti itu, lagipula bukannya pola film-film horor biasanya juga tak jauh beda dengan yang disodorkan “Paranormal Activity 4”. Mungkin yang bisa dibilang paling membedakan “main fisik”-nya kali ini sudah semakin kasar ketimbang seri-seri pendahulunya. Jadi “Paranormal Activity 4” adalah sekuel yang tidak penting? saya mengangguk, tapi bukankah dari sekuel pertama memang sudah “tidak penting”. Walaupun cerita dimainkan sedemikian rupa dan agak dipaksakan untuk punya benang merah dengan film pertama, kedua dan ketiga, pada akhirnya “Paranormal Activity 4” bukan lagi soal cerita, saya menganggap hanya bonus, toh saya ke bioskop hanya ingin ditakut-takuti. Dan “Paranormal Activity 4” masih bisa melakukan itu, walau sudah agak kepayahan. Selagi saya masih penasaran dengan “Paranormal Activity”, sampai sekuel berapapun saya pasti nonton.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Juara (2016...
Review - Lukisan Ber...
Review - Dukun Linta...
Review - Before I Wa...