Review: Pacarku Kuntilanak Kembar

written by Rangga Adithia on October 24, 2012 in CinemaTherapy and Film Indonesia with no comments

Entah hantu penunggu pengkolan mana yang telah merasuki Nuri Dahlia, setelah “meracuni” saya dengan “Mama Minta Pulsa” dan “Kakek Cangkul” (sayangnya, saya belum sempat menonton “Nenek Gayung”), Dahlia kembali mencekoki saya dengan “Pacarku Kuntilanak Kembar”, yang jika disejajarkan dengan ketiga film sebelumnya, kualitasnya semakin terperosok jatuh ke lembah kenistaan. Ok saya menonton film ini setelah “Tali Pocong Perawan 2”, yang tidak disangka-sangka ternyata bagus, yah untuk ukuran film yang memajang judul terkesan film kacrut dan dari rumah produksi yang selalu gagal menakuti penonton. Jika TPP 2 diluar ekspektasi ternyata memuaskan, sebaliknya PKK hanya menghasilkan (lagi-lagi) senyum kecut dan 6 kantong muntah yang sudah terisi penuh. Bermodalkan, ya untuk keseribu-kalinya Rizky Mocil dan kebodohan-kebodohannya, serta si seksi  Nikita Mirzani, yang kali ini “dipaksa” untuk memerankan lakon manusia dan err kuntilanak. Serasa belum cukup membuat otak penontonnya mimisan, tak hanya Nikita sang kuntilanak dibuat “dobel” alias kembar, tapi juga kebodohan di film ini pun yang dipaketkan combo! berantakan sejak dari menit-menit awal.

Nikita Mirzani akan memerankan Rosa dan Rosi, yang tak sengaja mati terbunuh dan kemudian menjadi kuntilanak, gentayangan untuk menuntut balas. Nantinya kedua kuntilanak ini (malangnya) akan bertemu Budi (Niki Tirta) dan Bodo, yak sesuai dengan filmnya “bodo”, diperankan oleh Mocil. Diperdaya oleh kuntilanak kembar, Budi dan Bodo yang ngaku anak paling gaul se-ibukota ini tak melihat Rosa dan Rosi sebagai hantu buruk rupa tapi cewek cantik nan seksi. Mungkin ya hanya iseng, Rosa dan Rosi pun mau saja jadi pacar Budi dan Bodo, entah setelah saya pikir-pikir lagi dengan serius layaknya mau resign dari kantor (eh, kok saya curhat), apa hubungan macarin dua orang bego sama balas dendam? atau kaitan lomba minum sama sundel bolong dengan balas dendam? atau nyomblangin ibu kos sama dosen, hubungannya apa sama balas dendam kuntilanak? kenapa juga saya harus repot-repot mikirin kejanggalan film ini, toh dari awal film ini emang sudah punya niat untuk membuat otak saya “berantakan”.

Bermodalkan si Mocil untuk memancing tawa penonton jelas gagal, lelucon yang ditebarkan di film ini tak ada bedanya dengan tukang tambal yang menebarkan paku ke jalanan, pengendara motor yang kena paku pastilah kesal, tukang tambal yah enak-enakan pura-pura bodoh tapi dalam hati senang dapat pelanggan. Nah, komedi ala Mocil di film ini yah seperti itu, entah pakai skrip atau tidak, lelucon-leluconnya asal tebar saja, mau lucu atau tidak itu urusan belakangan, sekarang yang penting adalah bagaimana mengisi 80 menit durasinya, jadilah Mocil yang dibiarkan berkoar-koar sampai berbusa. Sayangnya, penontonlah yang akhirnya jadi korban, saya bukannya tertawa malah seperti ban yang tiba-tiba kena paku, mood langsung “kempes”. Niki Tirta yang dilakonkan menjadi cowok kampungan juga tak bisa menyelamatkan rekannya yang sudah telanjur berstatus: annoying, Budi dan Bodo adalah salah-satu duet terburuk yang ada di film horor, ok boleh dibilang saya salut dengan kekompakan mereka membuat penonton cemberut di bangkunya. Well, mereka hanyalah karakter random yang berkeliaran tak jelas, sudah baik ada Budi dan Bodo, jika mereka dihilangkan dari film ini entah apalah jadinya nasib saya yang harus dipaksa menonton adegan berisi setan-setan yang punya muka lebih jelek dari hantu propertinya KKD, di zoom in-zoom out hanya untuk memamerkan kalau riasannya tak kalah dari film horor Hollywood. Ciyus? Miapah? *lempar hantu muka bubur basi*

Komedi “hancur”, bagaimana dengan horornya? apa perlu dibahas? PKK tak jauh beda dengan horor-horor terbelakang yang biasa saya review dengan cap kancut di blog ini, mungkin tak akan separah “Kutukan Arwah Santet”, tapi tetap saja ya parah, hahahaha. Sundel bolong adu minum, pocong dugem, dan dua kuntilanak yang membunuh korbannya dengan cara bergantian menusukkan konde karatan benar-benar spontan membuat tekanan darah saya naik drastis, kayanya mereka yang punya tekanan darah rendah “berobatlah” dengan nonton film kaya gini, eh jangan—saya hanya bercanda. KKD mungkin sedang tersenyum tersipu malu, ah ada orang yang bikin film jiplak gaya dia, saya tidak tahu dimana letak horor dan ngerinya melihat setan dengan polesan “ala kadarnya” trus dengan percaya diri zoom in-zoom out, dan tidak hanya sekali tapi diulang berkali-kali sampai saya kehabisan stock kantong muntah (tetap saja besok kalau ada film kacrut ditonton juga, bego!). Nikita Mirzani bisa kok di film “tetangga” bermain “layak”, kalau ada kemaluan… eh kemauan alias niat, seorang Nikita bisa dipoles untuk berakting beneran, dan kayanya film horor kita juga bisa berubah. Sayangnya kebanyakan masih bergentayangan untuk mencari untung saja, tidak dibarengi dengan kreativitas mumpuni. Kasihan kalau penonton harus terus jadi korban, dijejali film-film yang bukannya menghibur tapi justru men-tolol-kan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Surat Dari ...
Review - Raksasa Dar...
Review - Lights Out