Review: Seven Something

written by Rangga Adithia on August 13, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Romance with one Comment

Membahas soal cinta dalam bentuk film, tampaknya memang tak akan ada habisnya sampai kiamat. Banyak yang bisa dieksploitasi dari setiap hurufnya, C-I-N-T-A, lima huruf yang masing-masing hurufnya, jika digali, sanggup mengungkapkan berbagai macam kisah, dari yang menyenangkan hingga yang berakhir pilu menyayat-nyayat hati penonton. Jika berbicara soal film ber-genre romansa, Thailand bisa dibilang adalah salah-satu produsen film cinta-cintaan yang paling “ngena ke hati”, dan juara-nya mereka selalu bisa menaikkan kualitas film cinta tersebut setingkat lebih tinggi dari tahun ke tahun. Keasyikan mereka untuk fokus pada genre ini bukan sekedar main-main, mengorbankan genre horor, sepertinya tak sia-sia (yah lihat saja film horor Thailand sekarang, makin menurun dan tak lagi seseram dulu). Karena lihat saja negeri gajah putih tersebut seakan sudah menjadi raja dan ratu prom di dunia film cinta, terutama di Indonesia.

Sukses merebut hati penonton dengan sebuah ciri khas yang tak akan ditemukan di film sejenis dari negara lain, “keunyuan” film dari Thailand unik, mereka tahu bagaimana meramu kisah yang seringan bulu menjadi sajian yang tetap menarik dan sekali lagi unyu, lengkap dengan deretan pemain yang mendukung status keunyuan tersebut. Indonesia bukannya tidak bisa membuat film cinta-cintaan, tapi kebanyakan terpoles “palsu” untuk mengejar obsesi menjadi film yang hanya ingin membuat penontonnya nangis saja. Padahal film jenis ini tak saja soal menggelitik sisi cengeng penontonnya, tapi juga soal chemistry antara penonton dan film yang terikat selama cerita bergulir. Gimana mau seperti Thailand jika cerita masih seputar orang yang batuk darah dan kanker otak. Nangis!

“Seven Something”, dengan 3 kisah tentang cinta-nya, seperti mewakili kisah-kisah yang mungkin pernah dirasakan penontonnya, kisah klise tapi yah bukankah sebuah cerita cinta memang kebanyakan begitu-begitu saja, tinggal bagaimana si filmmaker meraciknya menjadi tak membosankan dan membuat penonton merasa terikat oleh filmnya, yah sampai akhirnya di pertengahan film ada yang bilang: “cerita film ini gw banget”. Disutradarai oleh tiga sutradara yang berbeda, “Seven Something”, yang diproduksi oleh PH terkenal, GTH—yang biasa menelurkan horor-horor bangsat—sekali lagi mampu membungkus filmnya dengan ciri khas film cinta Thailand, unyu-unyuan tersebut bisa kembali dirasakan di ketiga ceritanya.

Well, film pertama yang berjudul “14” tampaknya ingin meledek generasi menunduk (meminjam istilah dari “Republik Twitter”), mereka yang tunduk pada ke-eksis-an dan memuja ke-populer-an, “penyakit” yang mewabah diantara ABG, tidak hanya di Indonesia, Thailand juga tak ada bedanya. Bagi Puan (Jirayu La-ongmanee) populer di dunia maya dengan bantuan sosial media begitu sangat penting, seorang cowok geek yang bisa dibilang tak punya status terkenal di sekolah. Tapi beruntung dia punya kamera dan sangat beruntung (lagi) memiliki kekasih yang cantik, Milk (Suthatta Udomsilp). Dari hanya semangkuk es krim sampai kegiatan ber-mesraan pada saat hari valentine, semua diabadikan dengan foto dan video, kemudian di-upload ke internet. Apapun yang ia lakukan bersama Milk, semua orang harus tahu. Milk pun mulai terganggu dengan ulah Puan, apalagi ketika video youtube-nya yang dianggap Milk tidak pantas dilihat banyak orang, ternyata sudah dilirik puluhan ribu orang, hubungan mereka pun terancam “terhapus”.

Dari ketiga kisah di “Seven Something”, segmen “14” yang disutradarai oleh Paween Parijtipanya ini bisa dibilang yang paling “rame”, karena memang ingin mewakili kehidupan remaja yang berwarna-warni dengan segala kelabilannya. Paween tahu bagaimana menghidupkan cerita antara Puan dan Milk untuk terlihat real sebagai kisah cinta ABG, tidak ada yang dilebih-lebihkan, memang seperti inilah kisah kasih disekolah, kadang kekanak-kanakan, wajar. Pemilihan karakternya pun tepat walau pada akhirnya saya tidak merasakan ikatan sama sekali pada hubungan mereka, ya kecuali tak bisa lupa dengan kelucuan Suthatta Udomsilp dan annoying-nya Jirayu yang berperan sebagai Puan, yang tak pernah lepas dari kameranya. “14” pun kian unyu ketika dibungkus dengan visual cantik, menambah nilai plus pada film yang juga ramai dengan efek-efek suara yang konyol, makin terasa unsur komedinya dan masih terasa wajar, walau terkadang memang agak berlebihan.

Dari “14” yang ababil, kita juga diajak move on ke segmen “21/28” yang tampaknya akan mewakili kisah cinta orang yang lebih dewasa. Berbeda dengan apa yang dilakukan Paween, pendekatan Adisorn Tresirikasem tentu tak lagi memakai pernak-pernik ABG, konfliknya pun lebih serius daripada sekedar video youtube. Jon (Sunny Suwanmethanont) dan Mam (Cris Horwang) dipertemukan di sebuah film berjudul “Sea You”, cinlok dan hubungan mereka berlanjut ke kehidupan nyata. Tapi memang happy ending itu hanya ada di film, hubungan mereka kandas, begitu juga karir mereka di dunia akting, ikutan “jatuh”. 7 tahun berlalu, tiba-tiba Mam datang menemui Jon yang sekarang sudah banting setir menjadi penyelam di wahana Sea World. Tujuan awal Mam hanya satu, untuk mengajak Jon kembali ke dunia akting, bermain lagi di sekuel film yang dulu menyatukan mereka. Mam yang ingin sekali jadi “aktris terkenal” lagi harus kecewa ketika Jon menolak, tapi ia tak menyerah, dan takdir pun sudah menyiapkan rencana untuk mereka berdua.

Jika segmen awal masih terlihat ceria dengan warna-warni cinta di sekolah, “21/28” ini bisa dibilang kelam dan “dalam”, berlumur kisah pedih yang menutupi masa lalu Jon dan Mam. Agar lebih menarik, Adisorn pun mencoba bermain-main dengan alur, yang ia buat maju mundur, beberapa bagian sempat membuat bingung tapi begitu cerita bergulir dari menit ke menitnya, tanpa sadar saya sudah “asyik” saja sedang mendengarkan Adisorn bercerita. Yah di segmen kedua ini “Seven Something”, tidak lagi mengajak kita “bermain” seperti segmen sebelumnya. “21/28” jelas dibuat agar penonton ikut terpancing dalam konflik Jon dan Mam, lihat saja bagaimana Adisorn begitu jeli memasukkan berbagai kisah melo-drama haru biru, berusaha menggelitik sisi sensitif penonton. Sayang usaha Adisorn terlampau berlebihan untuk membuat penontonnya ikut terbawa emosi, banyak adegan galau yang dipanjang-panjangkan malah justru membosankan. Saya akui, “21/28” cukup jleb apalagi dengan iringan musiknya yang ditempatkan di bagian yang tepat untuk mengajak hati penonton ikut meronta-ronta, menyaksikkan perjalanan cinta Jon dan Mam di masa lalu, dan kemudian menunggu akan dibawa kemana mereka oleh takdir.

Terakhir, dengan judulnya yang unik, “42.195”, bagi saya ini adalah segmen paling menarik dari ketiga segmen di “Seven Something”. Melibatkan percintaan antara dua orang yang terlampau jauh dari segi usia dan lari maraton, yang di film ini posisi maraton bukan sekedar penambah “seru” cerita, tapi punya nilai filosofis tersendiri. Sejauh apa kamu sanggup “berlari” demi cinta. Perjuangan move on karakter yang dimainkan Suquan Bulakul—yang diceritakan baru saja ditinggal mati suaminya—nantinya akan digambarkan oleh Jira Malikul dengan berbagai adegan latihan lari. Setelah ia bertemu pria yang jauh lebih muda darinya (diperankan oleh Nichkhun Horvejkul), Suquan memutuskan untuk ikut maraton, dengan maksud untuk move on dan mendapatkan kehidupan yang baru.

Berbeda dengan segmen kedua yang terkadang begitu memaksa-membosankan dalam urusan memompa emosi, kali ini Jira cukup bisa menjaga ritme cerita, untuk tidak terlalu berlama-lama dalam satu adegan tertentu. Alhasil saya masih bisa cukup nyaman mengikuti ceritanya yang tak terlalu meng-galau layaknya segmen kedua. Agar tidak cepat bosan, Jira pun jeli untuk menambahkan berbagai humor unyu, terselip diantara momen-momen yang bisa dibilang janggal, ketika kedua orang ini tak lagi bisa bohong kalau mereka lagi sama-sama jatuh cinta. Satu-satunya yang mengganggu dari segmen ini hanyalah suara narasi seorang perempuan yang sialnya selalu mengikuti kemana cerita pergi. Secara keseluruhan, “Seven Something” adalah film yang menyenangkan dengan visual ketiga segmen-nya yang sedap dipandang, walaupun tidak bisa disangkal jika saya benci durasinya yang terlalu lama. Sekali lagi Thailand mampu buktikan tak perlu batuk-batuk muntah darah untuk membuat film romansa yang bagus. Asal ingin move on dari plot yang itu-itu saja, saya yakin Indonesia juga mampu bersaing dengan Thailand, membuat film-film cinta-cintaan dengan cerita ringan yang masih enak ditonton, bukannya malah membuat penontonnya pusing kepala.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Juara (2016...
Review - Indonesia K...
Review - Dukun Linta...