Review: Iron Sky

written by Rangga Adithia on August 25, 2012 in Action and Cinema of Europe and CinemaTherapy and Comedy and SciFi with 2 comments

Sebagai momok yang menakutkan pada era perang dunia ke-2, Nazi-Jerman sudah sukses menyeret dunia ke dalam mimpi buruk paling buruk. Banyak film bertema perang yang mengingatkan betapa menakutkannya kekuatan perang mereka, Eropa berhasil diduduki dalam waktu singkat, dan kekuatan gabungan Amerika, Inggris, dan Rusia sempat kewalahan menghadapi Hitler dan pasukannya. Dengan segala macam atribut kejam yang menempel di sepanjang sejarah kelam berkuasanya Nazi di Eropa, wajar jika si kumis Jojon dan Nazi-nya selalu dijadikan simbol villain yang harus diperangi, penjahat yang harus diberantas demi keadilan. Tidak saja di film-film bertema perang yang kebanyakan berdasarkan fakta sejarah, tapi bahkan juga di film horor sekalipun, sosok menakutkan Nazi pernah dibaur dengan ide sebuah film zombie, dalam “Dead Snow”. Hasilnya Nazi paling menakutkan yang pernah ada di film, karena mereka semua mayat hidup, bersenjata, dan mukanya jelek banget. Eksploitasi Nazi-Jerman tidak berhenti sampai disitu, kali ini lewat sebuah film fiksi ilmiah karya Timo Vuorensola, “Iron Sky”, Timo kembali memakai “Nazi” sebagai momok menakutkan dalam filmnya, menambahkan unsur-unsur menarik tentang teori konspirasi yang memang banyak diperbincangkan orang selama ini, jika Nazi memiliki teknologi persenjataan yang mengungguli masanya, termasuk membuat pesawat super canggih yang terlihat seperti “piring terbang”. Benarkah?

Dan, jika kalian mengira hanya ada para robot-alien Decepticon di sisi gelap bulan pikir lagi, karena Nazi juga ternyata tinggal di bulan selama ini. Well, itu sekali lagi menurut “Iron Sky”, yang menceritakan setelah kalah perang di tahun 1945, tidak semua Nazi tertangkap, sebagian dari mereka justru melarikan diri ke bulan. Disana mereka menyiapkan sebuah rencana besar selama bertahun-tahun, membangun armada besar dan senjata, untuk satu tujuan: “pulang kampung” dan menaklukkan bumi. Barulah pada tahun 2018, orang bumi menyadari jika Nazi masih ada, ketika misi antariksa yang ditunggangi kampanye Presiden Amerika, mengantarkan dua orang astronot ke bulan. Tak sengaja mereka justru menemukan kehidupan disana, bukan alien tetapi para Nazi, lengkap dengan pangkalan militer dan tambang. Satu astronot dibunuh, dan satunya lagi James Washington dibiarkan hidup dan menjadi tawanan. Dari James-lah kemudian ilmuwan Nazi menemukan teknologi yang bisa melancarkan aksi invasi besar-besaran ke bumi, apakah itu? sebuah smartphone. Kok terlihat tidak serius? Lagipula dari awal, apakah dengan premis “Nazi di bulan menyiapkan penyerangan besar ke bumi”, kemudian “Iron Sky” punya tujuan untuk serius? Sayangnya jika untuk berserius-ria, tampaknya ini bukan film untuk kalian, tapi jika kalian ingin bersenang-senang, Timo menyiapkan sesuatu yang “spesial”, yang untuk menikmatinya memang diharuskan tidak serius.

Berpondasi pada genre fiksi-ilmiah, sebenarnya “Iron Sky” tidak saja melulu hanya soal piring terbang dan senjata rahasia Nazi, tapi juga dibangun brick by brick juga dengan segala komedi satir yang menghiasi 93 menit durasinya. Tidak dipungkiri, ini bukan film yang sempurna, tapi sebagai sebuah hiburan, saya rasa Timo mampu melakukannya dengan sebaik mungkin, yah dengan segala batasan dalam soal dana. Ada kalanya saya merasa bosan dengan “Iron Sky” di beberapa bagian, namun entah racun apa yang sudah masuk ke sistem syaraf tubuh saya oleh Timo, film ini selalu bisa “membangunkan” saya kembali dan seketika berteriak “ini film gila!”. Lupakan “Dark of the Moon”-nya Transformers, karena saya akui “Iron Sky” punya opening yang lebih mencengangkan ketimbang mengetahui jika di bulan ternyata ada robot-alien sedang “tidur”. Melihat serdadu-serdadu bersimbol Nazi di lengan, ber-helm khas itu, dan lengkap dengan topeng gas, saya langsung mencondongkan tubuh saya jauh ke depan, tanda jika “Iron Sky” sudah berhasil membuat saya tertarik.

Menarik bagaimana melihat “Iron Sky” mencoba menyindir Amerika, politik mereka dan cara-cara licik negara adidaya tersebut ketika berusaha “merebut” negara orang lain, atas nama “pembebasan dari diktator”, “senjata pemusnah masal”, dan “perang terhadap teroris”, pada akhirnya semua hanya “skenario”, berujung pada kekuasaan terhadap sumber energi, yaitu minyak. Centilan “Iron Sky” tersebut pun begitu jelas ditunjuk pada Amerika, walaupun dibalut dengan tidak serius, dan begitu konyol. Kekonyolan memang jadi salah-satu senjata rahasia “Iron Sky”, dan film ini memang tahu bagaimana membuat film yang murni konyol, tidak setengah-setengah dalam urusan menghibur penonton. Lucu, konyol, dengan sajian komedi yang tidak terlalu kacangan, “Iron Sky” dengan mudah membuat saya tertawa, semudah itu juga film ini membuat saya kembali terbengong-bengong. Okay, tak perlu membandingkan ini dengan film-film Hollywood yang punya efek-efek ber-bujet raksasa. “Iron Sky” bisa dibilang memiliki sajian visual yang sama menghiburnya dengan kekonyolan cerita, dan efek-efek yang memoles visual di film ini saya akui sangat niat sekali. Lanskap bulan dengan pangkalan militer Nazi terlihat nyata, armada perang Nazi saat nanti menginvasi bumi membuat saya merinding, dan pada saat “Iron Sky” menghadirkan “perang besar”-nya, itu adalah momen terkeren di film ini. Jika selama ini saya sabar menunggu film ini tayang, maka penantian itu terbayar sudah, “Iron Sky” membayar dengan kepuasan, sesuai ekspektasi, konyol dan menghibur!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Juara (2016...
Review - The Wailing...
Review - Rumah Malai...