Review: Ice Age: Continental Drift

written by Rangga Adithia on July 15, 2012 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with 2 comments

Persahabatan Manny si gajah purba mammoth, Sid si kukang pemalas dan Diego si macan sabre-tooth, bisa dibilang persahabatan lintas jaman. Dipertemukan pertama kali di jaman es (Ice Age, 2002), persahabatan mereka diuji dari masa ke masa, dari jaman ketika es mulai meleleh (Ice Age: The Meltdown, 2006) hingga jaman dimana bumi dikuasai makhluk-makhluk raksasa bernama Dinosaurus (Ice Age: Dawn of the Dinosaurs, 2009). Kini Manny, Sid dan Diego harus kembali “dipaksa” melihat dunia mereka berubah untuk kesekian kalinya, persahabatan mereka pun kembali diuji saat bumi yang mereka pijak tiba-tiba bergoyang dan bergerak. Benua Pangaea yang menyatukan benua-benua yang kita kenal sekarang sedang “merenovasi” bentuknya (yah sekali lagi diceritakan karena ulah si tupai-bertaring, Scrat, yang tak sengaja jatuh ke inti bumi dan membuatnya berputar ketika sedang mengejar biji pohon ek). Selagi daratan terbelah dimana-mana dan lempengan bumi bergeser membentuk daratan-daratan baru, “Ice Age: Continental Drift” pun menyiapkan petualangannya yang baru untuk Manny, Sid dan Diego, walau tidak semuanya benar-benar baru.

Menguntungkan! dan satu-satunya franchise andalan, wajar jika Blue Sky Studios dan 20th Century Fox Animation masih menggantungkan nasib isi kantong mereka pada Manny, Sid dan Diego. Yah sambil menunggu lanjutan “Rio” yang rilis 2014 dan film-film animasi lain, termasuk “Epic” yang baru rilis tahun depan, tak ada salahnya mengumpulkan modal lewat “Ice Age: Continental Drift”. Walaupun tak lagi dapat respon “bersinar” dari para kritikus, dari segi pendapatannya, franchise “Ice Age” tak pernah “meleleh”. Sebaliknya sejak film pertama keuntungannya justru makin menanjak, puncaknya di film ketiga “Dawn of the Dinosaurs” dengan perolehan pundi-pundi uang hingga $800an juta, sebuah angka yang fantastis. Sayang sekali di film ke-empat, selain tak lagi disutradarai oleh Carlos Saldanha—yang tampaknya ingin lebih fokus membuat “Rio 2”—Continental  Drift tak lebih hanya sebuah mesin pengeruk uang yang tak lagi peduli pada cerita. Ciri khas franchise yang satu ini, yah sekali lagi bergantung pada kelucuan karakter lama yang sekarang harus berbagi ruang untuk karakter-karakter baru. Kelucuan khas “Ice Age” itu masih tetap ada, walaupun level kelucuan Manny dan kawan-kawan kian berkurang, tergerus oleh ombak humor slapstick berubi-tubi yang menurut saya sudah terlalu basi, tak lagi bisa membuat saya tertawa terbahak-bahak seperti seri-seri sebelumnya.

Setidaknya masih ada Scrat lalu-lalang, asyik sendiri (masih) mengejar biji pohon ek kesukaannya, maskot “Ice Age” yang satu ini memang sengaja di-bully di setiap film dan kemunculannya memang tak pernah sia-sia, selalu sukses menghadirkan tawa ditengah-tengah “garing”-nya cerita “Ice Age: Continental Drift”. Manny diceritakan terpisah dengan keluarganya ketika daratan tempat tinggalnya tiba-tiba terbelah, ia bersama Sid, Diego dan nenek Sid yang banyak tingkah mengapung bersama sebuah bongkahan es terbawa arus laut. Sedangkan Ellie, Istri Manny dan anak perempuan mereka Peaches, bersama binatang-binatang lainnya harus berjuang menuju tempat yang lebih aman, karena daratan besar yang baru terbentuk bergerak “memakan” daratan lama tempat mereka berpijak. Perjuangan Manny dan kawan-kawan untuk bisa kembali pulang tak hanya dipersulit oleh alam, tapi juga nantinya oleh kawanan perompak yang dipimpin oleh seorang kera bernama Kapten Gutt. Pertikaian antara kelompok Manny melawan perompak Gutt hanya segelintir plot “usang”, kehadiran karakter-karakter baru ini memang perlu untuk menambah “warna” dalam cerita “Ice Age: Continental Drift”, tapi petualangan baru Manny dan kawan-kawan tak lagi punya “rasa” yang baru, karena ceritanya memang hasil daur-ulang dari film-film sebelumnya. Seperti juga ceritanya yang “maksa” dan tidak berkembang, walaupun susunannya bisa dikatakan lebih rapih dari seri terbaru “Madagascar”, Banyaknya karakter baru di “Ice Age: Continental Drift” pun ikut-ikutan ditumpuk saja, saling timpa kekonyolan dan kelucuan tanpa ada ikatan yang kuat dengan penonton, wajar jika kehadirannya juga gampang dilupakan karena “numpang lewat”.

Dilihat dari sisi menghibur, “Ice Age: Continental Drift” masih bisa melakukan yang sudah pernah kelompok “Ice Age” lakukan di film-film sebelumnya, seri ke-empat ini masih bisa tetap menghibur. Tujuan untuk menjadi film animasi yang fun, terpenuhi dengan baik, Steve Martino dan Mike Thurmeier masih sanggup “memerintahkan” Manny dan kawan-kawan untuk melakukan atraksi-atraksi yang menyenangkan di petualangan baru mereka. Semua aksi mereka pun didukung oleh kualitas animasi yang tidak mengecewakan, karakter-karakter lama dan baru dibungkus dengan detil yang begitu rapih dan lanskap-lanskap “dunia baru” hadir memanjakan mata. Untuk urusan “menipu” dan membuat mata ini nyaman menonton, Blue Sky Studios sudah hafal betul bagaimana membuat dunia “Ice Age” yang dengan gampang tanpa maksa seperti ceritanya, untuk mengajak penontonnya ikut berpetualangan bersama-sama Manny dan kelompok “Ice Age”. Musik hasil olahan John Powell pun hadir “pas” di setiap adegan, membuat mood, emosi dan adrenalin ikut terombang-ambing dengan aksi-aksi seru yang disodorkan oleh “Ice Age: Continental Drift”. Sayang sekali, film ke-empat dari franchise “Ice Age” ini akan mudah dilupakan, tetap film animasi yang menyenangkan dan menghibur, jika tak peduli betapa usang ceritanya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Ada Apa Den...
Review - Blair Witch...
Review - The Girl wi...