Review: I Miss U

written by Rangga Adithia on July 17, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

Mungkin jika saya tak menyapa terlebih dahulu trailer atau sinopsisnya, saya tidak akan pernah tahu kalau “I Miss U” besutan Monthon Arayangkoon ini adalah film horor, judulnya yang terdengar menyek-menyek lebih cocok untuk sebuah genre film drama romansa. Terlepas dari judulnya yang meng-galau, sebelum film mulai pun saya memang sempat takut “I Miss U” justru akan membuat hati saya mengkerut, ketimbang bulu kuduk ini merinding. Apalagi akhir-akhir ini Thailand memang lebih senang membuat film romantic-comedy dan horor mereka bisa dibilang tidak lagi semenakutkan dulu, terakhir sih ada “Laddaland” yang masih membuktikan negeri gajah putih tersebut tetap jagoan dalam urusan membuat nyali ciut. Ketakutan saya ternyata menjadi kenyataan, “I Miss U” adalah pengalaman menonton saya paling tak enak sepanjang tahun ini, sebuah film romansa berbalut horor yang “miskin” adegan-adegan seram, sebaliknya terlalu bertele-tele ketika berbicara soal cinta. Ya memang tidak ada salahnya horor dibumbui hal-hal berbau romantis, tapi jika porsi romansa-nya terlalu banyak dan terlihat berlebihan, dipanjang-panjangkan sampai dua jam lebih dihabiskan untuk adegan-adegan menyek-menyek, lalu melupakan jika “I Miss U” adalah tetap film horor, lalu mana setannya??

Dr. Tana (Jessadaporn Pholdee) kehilangan tunangannya, Dr. Nok—yang bekerja di rumah sakit yang sama—dalam sebuah kecelakaan yang merenggut nyawanya. Dua tahun berlalu, namun Dr. Tana seperti belum rela melupakan tunangannya tersebut, Tana pun sering kembali ke lokasi kecelakaan untuk menaruh bunga disana, sampai media pun ikut menyorot kelakuan Tana. Bee (Apinya Sakuljaroensuk) kemudian hadir di tengah-tengah kegalauan Tana, Bee sendiri adalah dokter baru di rumah sakit. Klise, awalnya perkenalan mereka tidak mulus, Bee yang masih “hijau” sering dimarahi oleh dokter seniornya yang memang terkenal tidak ramah itu. Lama-lama ada semacam rasa suka diantara keduanya, walau Bee dan Tana masih saling pura-pura bodoh tak mengakui. Bee masih segan untuk melangkah lebih jauh, melihat Tana yang masih “asyik” dengan memori lamanya dengan Nok. Tana sendiri seperti makin tak bisa lepas dari tunangannya yang sudah lama tiada, dengan bermacam ritual aneh seperti memesan dua kopi, salah-satunya kopi kesukaan Nok. Kehadiran Bee tampaknya membuat Tana lebih terbuka, sebuah tanda yang makin membuat Bee juga dengan leluasa masuk ke kehidupan Tana. Namun sepertinya Bee lupa, jika Tana belum melupakan Nok, dan tidak hanya Tana yang tampaknya rindu Nok, dari alam dedemit sana Nok pun “terpanggil” untuk menjaga tunangannya, dia pun rindu dan tak ada seorang pun bisa merebut Tana darinya. Bee pun mulai diteror!

Kalau yang baca sinopsis (terlalu) panjang diatas dan bisa menebak twistnya, berarti jagoan sekali, dan sayangnya saya tak peduli jika twist “I Miss U” tertebak di awal cerita. Percuma jika film ini mampu memelintir kepala saya 180 derajat pun, karena “I Miss U” tampak tak peduli dengan penontonnya yang sudah “disiksa”, padahal film belum sampai kemana-mana, masih berputar pada kegalauan Tana yang selalu disorot berlama-lama sedang melamun, parahnya lagi adegan yang dikemas se-menyek-menyek-maksimal-tak-penting ini, dipaketkan pula dengan lagu pengiring yang tak kalah menyiksa, lagu yang sama akan diulang-diulang sampai ribuan kali jika adegan menyek-menyek khas “I Miss U” mulai tampil kembali. Saya akui jika Monthon Arayangkoon tahu bagaimana membuat adegan-adegan ngelamun, meng-galau dan melamun lagi menjadi sedap dipandang mata. Namun untuk urusan ingin mengajak penonton larut dalam kesedihan dan kegalauan Tana, tunggu dulu. Dalam tahap awal cerita, saya memang bersimpati melihat kelakuan Tana dengan segala cerita sedih tentang tunangannya, tapi usaha Monthon Arayangkoon mulai menjadi sebuah obsesi tak berarah, ketika ia “memaksa” emosi saya untuk ikut terjun bebas dalam suramnya kisah cinta Tana. Segala macam adegan menyek-menyek-lebay itu justru menjadi bumerang bagi “I Miss U”, bukannya asyik dinikmati, justru bikin saya sebal setengah mampus. Ingin rasanya keluar dari bioskop, atau mendatangi ruangan proyektor dan menekan tombol “dipercepat sampai ending”, emang bisa??

Percaya deh, bukan berarti saya tidak doyan segala macam yang berbau romantis, tapi “I Miss U” memang sudah keterlaluan “menyiksa” penonton untuk mewek, eh tapi malah salah kaprah, dan menganaktirikan horornya sendiri. Jika saya saja lelah menunggu sosok hantunya muncul, mereka para hantu sepertinya juga ikutan kesal karena dipaksa menunggu porsi mereka tiba, sambil menunggu, sama seperti saya, mereka juga dipaksa menonton segala sajian melodrama murahan. Hasilnya ketika adegan horor itu akhirnya dimunculkan, setan-setan yang sudah jengkel dicekoki adegan mewek yang tidak bikin mewek pun tampil asal-asalan di depan kamera. Yah “I Miss U” yang dari awal sudah membuat saya tak peduli, tak pernah berusaha memperbaiki kesalahannya dan semakin menjadi-jadi, ditambah seupil horor-nya pun tidak seram sama sekali, setan-setan dengan make-up hasil polesan komputer hanya bisa memperlihatkan wajah jeleknya, namun tidak berhasil membuat sehelai bulu kuduk ini berdiri. Satu-dua adegan serem sih masih ada, tapi itu pun hanya bisa bikin bulu kuduk setengah berdiri dengan males-malesan. Horor memang tak selalu harus ada setan setiap menitnya, Nayato melakukan itu dan dia adalah orang yang pertama kali masuk neraka karena banyak disumpahin penonton. Namun apa yang dilakukan “I Miss U” juga sama nga bener-nya, Romantis dalam film horor tak ada salahnya, tapi porsi keduanya di film ini tidak berimbang dan membuat horornya terlentang “impoten” tak berdaya, Monthon Arayangkoon justru menyiksa penonton selama dua jam dengan adegan-adegan menyek-menyek, yang membuat saya ingin mengencingi layar bioskop. Well, setidaknya “I Miss U” masih memiliki Apinya Sakuljaroensuk, yang jadi alasan kenapa saya masih duduk manis sambil terus tak ada habisnya menggerutu. Setelah “I Miss U”, saya benar-benar dibuat “rindu” dibuat takut lagi oleh film-film horor Thailand.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Deathgasm (...
Review - Raksasa Dar...
Review - Before I Wa...