Review: Soegija

Jun 1, 2012 by Rangga    1 Comment     Posted under: Asian Film, cinematherapy, Drama, Film Lokal, War

“Kemanusiaan”, kata sederhana yang tampaknya kian sirna dari wajah negeri yang katanya terkenal ramah. Setiap huruf yang menyusun kata “ramah” itupun sekarang tersusun ulang menjadi “marah”, kita adalah bangsa yang pemarah. Tengok sajalah berita di televisi setiap pagi, siang dan malam, lebih banyak orang yang disorot oleh kamera sedang marah, dari skala kecil sampai tawuran, dari rakyat kecil yang sudah berada di titik didihnya sampai pejabat yang katanya wakil rakyat. Layar-layar tv itu lebih banyak menayangkan orang marah ketimbang nyengir, senyum yang membuat kita setidaknya lebih kelihatan manusia, bukan binatang yang berebut jatah makan. Ada apa dengan bangsa ini hingga begitu cepat marah dan kehilangan harga dirinya sebagai manusia, kemana kemanusiaan itu disembunyikan. Kasihan melihat mereka yang gugur sebagai pahlawan bangsa ini, dari surga sana mungkin mereka sedang meneteskan airmata, melihat negeri yang dulu mereka bela mati-matian sekarang justru dijajah oleh kemarahan, merdeka tapi tidak damai.

Saya baru melihat sebuah video miris kemarin, seorang suporter yang dipukuli dan diinjak-injak oleh puluhan suporter dari tim lain. Tubuhnya diseret (bernyawa atau tidak, saya tidak tahu) diiringi nyanyian dan sorakan suporter yang sepertinya puas sudah melakukan aksi biadabnya, “kemanusiaan” sudah mati di Gelora Bung Karno pada saat itu. Apakah tidak ada lagi contoh baik yang bisa dipertontonkan, kenapa harus melulu kemarahan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Jika ke toilet saja mesti bayar, apakah kebaikan itu juga harus punya nilai dan mungkin kebaikan di negeri ini lama-lama harganya akan semahal mobil-mobil ferrari, sampai tidak ada lagi yang sanggup membeli. Sebaliknya ada obral besar-besaran untuk “marah”. Film “Soegija” bisa jadi sebuah contoh yang bangsa ini cari, film yang mengingatkan betapa kemanusiaan itu indah, film yang memperlihatkan bangsa ini dahulu tak saja dibela dengan peluru tetapi juga oleh (hanya) kata-kata yang keluar dari mulut satu orang, seorang bernama Albertus Soegijapranata, uskup pertama asli Indonesia.

Lupakan kontroversi yang bilang “Soegija” ini dan itu, keluar setelah menonton film ini tidak akan mengubah level keimanan seseorang. Berlatar belakang tahun 1940 – 1949, kita akan diajak menelusuri jejak Soegija dari hanya seorang pendeta yang berdakwah di kampung-kampung sampai akhirnya diangkat menjadi uskup, dikala tanah air sedang akan berganti status, dari dijajah Belanda kemudian datang Jepang untuk meneruskan tongkat estafet dari mereka. Saya pikir Garin Nugroho sedang menyajikan film perang lengkap dengan ledakan sana-sini dan juga peluru yang berterbangan kesana dan kemari, “Soegija” bukan film perang yang saya bayangkan. Tapi tentu saja saya duduk bukan untuk menonton film perang tapi film Garin yang biasanya bikin saya merenung sambil asyik menyantap dan mencerna gambar demi gambar yang disodorkan sutradara “Mata Tertutup” tersebut. Drama yang biasanya oleh Garin dibuat untuk sanggup menggerakkan hati penontonnya, “Soegija” adalah film drama seperti itu dengan latar belakang perang yang tidak terlalu berisik.

Dampak perang tentu masih sangat terasa di “Soegija”, toh sekali lagi Indonesia kala itu sedang berperang tapi tidak banyak adegan perang yang diumpankan oleh Garin ke penonton. “Keseruan” perang dan juga sejarah yang hilir-mudik, hanya bisa kita dengar lewat radio berbahasa Jawa, lengkap dengan penyiarnya yang spektakuler dalam menyajikan beritanya. Salah-satu aksi di “Soegija” yang menyita perhatian saya, selain para pemain musik yang terus bermain musik pada saat ada bom jatuh di dekat mereka, mengingatkan saya pada “Titanic”. Ketika “Soegija” tidak ngomong banyak soal perang, Garin jadi leluasa bernarasi membicarakan kemanusiaan. Yah film biopik ini pun tak selalu memotret Soegija dengan segala kebaikannya kepada rakyat sekitar yang kala itu menderita akibat perang, tetapi juga karakter-karakter fiksi yang ditambahkan Garin dan Armantono dalam cerita untuk “menggairahkan” arti sebuah kemanusiaan. Bukan melulu soal memberikan kebaikan tetapi sisi-sisi manusia yang secara sederhana membuat mereka terlihat “manusia”. Bahkan satu orang tentara Belanda yang terlihat pecandu perang, benci sekali dengan pribumi, bisa terlihat “manusia” ketika Garin mempertemukannya dengan seorang bayi.

Seperti juga “Mata Tertutup” yang dikemas Garin untuk tidak seserius itu, “Soegija” juga tidak larut dalam keseriusan perang, masih ada lelucon terselip, kebanyakan datang dari seorang Butet Kartaredjasa yang melakonkan Toegimin, asisten Soegija yang diperankan dengan cemerlang oleh Nirwan Dewanto. Mereka berdua tidak saja berduet saling berbalas dialog serius tapi sesekali bercanda, menghadirkan situasi segar di tengah perang yang berkecamuk dan tentara-tentara Jepang yang dengan seenaknya memenggal kepala orang-orang yang tidak mau “nunduk”. “Soegija” pun tidak hanya indah dari bagaimana Garin melontarkan doktrin-doktrin kemanusiaan yang diwakili oleh karakter-karakternya, tetapi juga indah secara visual. Teoh Gay Hian apik menuntun kameranya untuk “nurut” menangkap keindahan film yang katanya film termahal Garin ini, memanjakan mata dan membuat saya betah duduk manis sampai “Soegija” menuliskan kalimat terakhir di buku catatannya. “Soegija” bisa dibilang film Garin yang juga gamblang dalam bercerita, tidak banyak sembunyi dalam simbol-simbol. “Soegija” pun bukan film yang ingin berceramah tapi sekedar mengingatkan kita betapa kemanusiaan harus tetap ada, dalam kondisi negara yang seburuk apapun. Ditambah musik pengiringnya yang luar biasa indah, “Soegija” ada dibarisan depan film Indonesia yang sukses menunjukkan kualitasnya yang tidak main-main.

1 Comment + Add Comment

  • Pertama, menonton film Soegija, ekspektasi kita dalam melihat film harus dirubah. Ini bukan film “cerita”, melainkan film yang sering disebut sebagai nonlinear narrative, disjointed narrative atau disrupted narrative. Artinya, kita tidak dapat melihat ini dengan kerunutan cerita secara linier, bahkan bisa dikatakan jika ekspektasi kita adalah “narasi konvensional”, dengan pengenalan masalah, masalah, klimaks dan anti klimaks, maka dapat dikatakan ekspektasi kita keliru. Film ini adalah sebuah film yang bisa dikatakan sebagai film “portrait”, mengungkap dimensi “event” dalam kemasan-kemasan pendek yang bermakna, “where events are portrayed out of chronological order”. Walaupun ada dimensi koronologisnya, namun itu jangan semata-mata memandangnya secara konvensional. Coba kita lihat, film ini ditutup dan diakhiri dengan “portrait” yang begitu memukau dan menyentuh.

    Kedua, menonton film Soegija, ekspektasi kita jangan berharap ini sebagai film “sejarah”. Ini semata-mata bukan film “mengenai sejarah” atau “biografis” semata, melainkan film yang sering disebut sebagai “sub-conjungtive history”. Artinya, ada sebuah telaah, pandangan, dan makna-makna yang seakan dirajut untuk mempercantik sebuah peristiwa sejarah, walaupun itu bersifat fiktif, namun kepentingannya menyuguhkan makna yang mendalam. Maka ini, bukan film mengenai “biografis Soegija”, melainkan sebuah kisah-kisah yang seakan merangkai figur Soegija, sebagai kisah-kisah kemanusiaan. Maka, ketika Garin, selaku sutradara memasukkan “anak-anak Papua” dalam film, tolong ini jangan dilihat sebagai “kesalahan film”, ini memang disengaja, untuk sebuah “petisi” publik yang ingin mengatakan “Tanah Papua” adalah Tanah Indonesia yang ikut andil mengisi kemerdekaan, dan tentu masih banyak lagi “petisi-petisi” yang diangkat, termasuk mengenai “Keistimewaan Yogyakarta”. “Sub-conjungtive history” ini dipadu dengan sebuah “narator” yang coba dihadirkan dengan tokoh “Pak Besut”. Dan, cara menghadirkannya pun, terasa apik , menyentuh. Menariknya, “narator” yang coba dihadirkan melalui tokoh “Pak Besut” ini, mencoba membingkai viewpoint dalam kontekstualitasnya yang digagas semacam sembrono parikeno, membincangkan apa saja yang sedang populer di kalangan masyarakat dalam semangat dan tawaran nilai-nilai kejawen yang kental. Melalui sapaan, “Nuwun paromiarso . . . “, narator ini, menjadi semacam penghubung antara “makna” kekinian dengan sebuah konstelasi zaman.
    Ketiga, rasa-rasanya, dalam film Soegija ini, Garin ingin bermain dengan apa yang sering disebut sebagai omnibus film, package film, atau portmanteau film. Kita dapat melihat betapa dihadirkannya sosok Soegija sebagai “top-level” story-nya, kemudian ia coba lakukan a framing, terhadap sebuah “sub-stories”, melalui Mariyem, Robert, Ling-Ling, Broto dan lain sebagainya. Maka, saya menyadari, betapa ada banyak tanggapan penonton yang cukup kebingungan dengan ini. Namun, inilah masanya intertextuality dalam sebuah film. Saya melihat, hal ini selayaknya seperti saya memasuki “museum”, ketika saya mencoba menelaah berbagai rajutan “portrait” dengan “labellingnya”. Labelling ini muncul dalam setiap ungkapan-ungakapan yang artistik, melalui kata-kata tokoh yang dihadirkan.

    Keempat, terlepas dari berbagai kelemahan tehnis film, misalnya karakter pemain dan lain sebagainya, menonton film Soegija, perlulah ditempatkan dalam intertextuality. Maka, Garin seakan menggabungkan berbagai “feature film” dalam satu kesatuan Soegija. Bisa dikatakan ini sebuah anthology, “An anthology film is a fixed sequence of short subjects with a common theme”. Untuk itu, betapa sulitnya jika kita mengkaitkannya sebagai “dramaturgi” yang konvensional. Saat ini, masanya “garda depan” dalam film. Dan, film Soegija, tentu kita tempatkan dalam poststructuralist nya.

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Categories