Review: Project X

written by Rangga Adithia on June 6, 2012 in CinemaTherapy and Comedy and Hollywood with no comments

“Project X” adalah sebuah “peringatan” bagi orang tua untuk tidak meninggalkan anak remaja anda dirumah, apalagi jika anak tersebut tidak populer, bersahabat juga dengan anak yang cupu di sekolah, jangan percayai mereka jika bilang “tidak akan melakukan apa-apa, hanya nonton dvd dan main video games”. Karena bisa saja apa yang terjadi di “Project X” terjadi di kejadian nyata, mungkin saja akan ada yang terinspirasi oleh Costa (Oliver Cooper) dan kawan-kawannya. Terlepas dari “contoh buruk” apapun namanya, “Project X” bisa jadi juga sebuah alternatif yang baik bagi mereka yang disekolah dicap sebagai murid tidak populer, cupu dan sering di-bully. Bikinlah sebuah pesta teman-temanku! ketimbang membeli senjata terus datang ke sekolah bukan untuk belajar, tetapi menembaki dengan membabi-buta ruangan kantin, ini baru gila. Untuk jadi populer tidak harus jadi pembunuh berdarah dingin, untuk mendapatkan cewek terseksi di sekolah tidak perlu masuk berita karena perbuatan kriminil. Jonah Hill dan kawan-kawan tahu harus melakukan apa di “Superbad” untuk sekedar melepas keperjakaan mereka. Dibalik ketololan yang disodorkan oleh “Project X”, setidaknya Costa dan kawan-kawan sudah memberitahu kita untuk tidak setengah-setengah dalam bertindak, apalagi jika itu menyangkut perubahan, walau sekedar ingin populer di sekolah atau dapat pacar super-seksi.mari mulai pestanya!

Siapkan dirimu untuk pesta tergila tahun ini! nga perlu repot-repot membawa minuman dan cimeng, disarankan juga jangan bawa pacar apalagi istri, karena Costa, J.B (Jonathan Daniel Brown) dan Thomas (Thomas Mann) mengundang penonton untuk datang ke pesta ulang tahun yang tidak seperti pesta lainnya, yang sudah menyediakan semuanya, dari berbotol-botol minuman keras sampai sekampung cewek-cewek seksi yang tanpa disuruh akan telanjang. Yeah! bersiap untuk mabuk dan menggila bersama 1500 orang yang hadir di pesta ulang tahun yang awalnya hanya ingin mengundang 50-an orang, itupun hanya dari sekolah dimana Thomas dan kawan-kawannya bersekolah. Yah thanks to ulah “jenius” Costa yang mengirimkan pesan sms ke semua orang, menyempilkan iklan pesta di radio sampai website macam Craigslist. Bukan saja undangan yang “meluber”, tapi rencana yang sudah dibuat Thomas akhirnya berantakan, pestanya jadi tak terkontrol, chaos sampai akhirnya ikut mengundang pihak berwajib. Well bukan ingin berlebihan dan saya tidak dalam pengaruh ekstasi, setengah horny iya, film ini bisa dibilang sebuah “disaster” yang menyenangkan. “Project X” seolah-olah mencekoki kepala kita dengan film yang menggabungkan “Carrie” yang sedang ngamuk-ngamuk dengan film invasi alien, begitulah gambaran kekacauan film yang diproduseri oleh Todd Phillips (The Hangover) ini.

Tidak ada kalimat sederhana dan sopan untuk mendeskripsikan “Project X”, yah selain film tolol yang menyenangkan. Tolol karena memang film ini sama sekali tidak menyodorkan cerita yang “pantas”, isinya hanya bagaimana merencanakan pesta yang gila dan diakhiri dengan brutal. Menyenangkan karena sutradara debutan, Nima Nourizadeh, punya formula instan yang epik bagaimana membuat film pesta yang walaupun berlebihan tapi masih berada di koridor yang benar. Tidak sulit untuk menikmati “Project X”, asalkan dari awal kita sudah menerima apa yang nantinya kita tonton, tidak berekspektasi macam-macam akan disuguhi film berotak, lupakan karena “Project X” dari awal hanya ingin bersenang-senang tanpa memikirkan film ini punya cerita ataupun berotak, apalagi bermoral haha.

Dikemas dengan mokumenter layaknya franchise “Paranormal Activity”, “Project X” oleh Nima tidak dibuat untuk menakuti-nakuti penontonnya, itu jelas karena ini bukan film horor dan mokumenter memang bukan milik genre horor doang. Lewat kamera yang setia dipegang oleh Dex (Dax Flame), kita akan diajak untuk bersenang-senang selama 80-an menit dan Nima sanggup menterjemahkan apa yang sudah ditulis oleh Matt Drake dan Michael Bacall menjadi sajian yang kadar gilanya tidak ada habisnya. Mokumenternya memang tidak sebaik itu, tapi film ini tahu bagaimana membuat saya untuk tidak bosan dengan kemasannya yang ala dokumenter (tapi palsu) tersebut. Mata kita tidak hanya “dihibur” oleh sudut pandang kamera amatiran yang dipegang oleh Dex tapi juga kamera televisi dan bahkan kamera di mobil polisi, semua menjadi semakin seru. Keahlian Nima yang sudah terbiasa menyutradarai video musik tampaknya berpengaruh besar kepada visualnya yang memang diakui “memanjakan” mata. Beberapa adegan memang dibuat layaknya video musik berlatar belakang musik dance bertempo tinggi lengkap dengan cewek-cewek tanpa atasan yang meloncat kesana–kemari. Tanpa disadari atau tidak, film ini dengan mudah mengajak kita untuk “gila” dan adrenalin dihibur maksimal oleh hentakan musik yang asyik. “Project X” berhasil membuat saya “mabuk” walaupun nyatanya tidak meminum apa-apa, membuat saya “giting” walau sayangnya tak menghisap apapun. “Project X” menginjeksi kita dengan suntikan hiburan yang menyenangkan. Film pesta yang gila, lupakan “Superbad” dan “The Hangover” (saya hanya bercanda).

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Lights Out
Review - Warkop DKI ...
Review - The Girl wi...
Review - Before I Wa...