Review: Madagascar 3: Europe’s Most Wanted

written by Rangga Adithia on June 14, 2012 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with 5 comments

DreamWorks Animation hanya perlu satu alasan untuk melanjutkan petualangan Alex si singa dan kawan-kawan “Madagascar”, seperti juga studio-studio lainnya, yakni “masih menguntungkan, sayang untuk dihentikan”. Jadi wajar saja jika film animasi yang film pertamanya rilis pada tahun 2005 silam tersebut, dibuatkan film kedua dan kemudian tahun ini tayang film ketiga, “Madagascar 3: Europe’s Most Wanted”. Potensi untuk sekuel memang selalu memungkinkan untuk film-film animasi macam “Madagascar” ini, formulanya (biasanya) tak mementingkan isi cerita tapi lebih fokus ke sisi hiburannya yang harus sukses meledakkan mata penonton, dan itu terjadi pada “Madagascar 3”. Walau “aji mumpung” tapi DWA tidak seserakah itu, buktinya mereka bisa move on dan melepas satu franchise-nya, yaitu “Shrek” di film ke-empatnya di tahun 2010. Mati satu, tumbuh seribu, karena kenyataannya DWA masih punya simpanan film-film lain yang berpotensi menjadi franchise yang lebih besar ketimbang “Shrek” (saya pribadi tidak terlalu menyukai film ogre hijau itu), termasuk “Kung Fu Panda” dan juga “How to Train Your Dragon”, dua film animasi terbaik yang dimiliki DWA sampai saat ini.

Setelah Alex (Ben Stiller), Marty (Chris Rock), Melman (David Schwimmer), dan Gloria (Jada Pinkett Smith) kabur dari kebun binatang di New York, “nyasar” ke Madagascar, hingga akhirnya sampai ke Afrika, tempat yang dari awal mereka tuju dan sebuat sebagai “rumah”. Di “Madagascar 3” Alex dan kawan-kawannya memutuskan untuk kembali ke kota New York. Bukan sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah, kawanan binatang nyeleneh ini sampai membuat kekacauan di sebuah hotel di Monaco hanya untuk bisa menemukan para penguin, yah karena hanya mereka yang punya “tiket” untuk pulang. Malangnya pesawat yang Alex dan yang lainnya naiki lagi-lagi harus mendarat darurat alias terjun bebas, kali ini untungnya tidak lagi di hutan antah berantah, tapi di Perancis. Untuk lari dari kejaran polisi, Alex dan teman-teman pun harus mengaku sebagai grup binatang sirkus, dan akhirnya diselamatkan oleh grup sirkus beneran yang sedang menuju ke Roma dan London untuk tampil disana. Namun bahaya belum selesai, karena Alex dan kawan-kawan sekarang diburu oleh Kapten Chantel DuBois (Frances McDormand) dan tim animal control-nya. DuBois yang gemar mengkoleksi tropi kepala binatang tangkapannya ini bisa dibilang adalah mimpi buruk bagi geng Madagascar, karena dia orang yang tahu bagaimana menangkap buruannya.

Sebaliknya, jika DuBois adalah sebuah mimpi buruk bagi geng Madagascar, lain halnya dengan filmnya sendiri, “Madagascar 3” ini adalah mimpi indah bagi para penonton yang memang ke bioskop untuk mencari sebuah hiburan. Formulanya tidak baru tapi sanggup dikreasi-ulang untuk tidak terlalu tampak “usang” dari film-film Madagascar sebelumnya. Cerita film yang sekarang di-kerebuti oleh tiga orang sutradara sekaligus, Eric Darnell, Tom McGrath dan Conrad Vernon ini memang boleh dikatakan hanya numpang lewat di otak, tapi berbeda dengan sisi visualnya. Karena ini film ketiga, tidak ada alasan untuk Alex dan kawan-kawan untuk buang-buang waktu memperkenalkan ulang siapa mereka, mereka hanya tinggal ditempatkan di dalam cerita untuk beraksi dan beraksi, didukung oleh plot yang bergerak dengan pace cepat. Tak perlu perkenalan karakter lagi, geng Madagascar kini punya waktu lebih banyak untuk mengajak penonton lari-larian kesana-kemari, sesekali saya merasa “lelah” dan bosan, tapi dengan cepat geng konyol kita yang satu ini selalu punya sesuatu untuk ditertawakan.

Kelucuan khas “Madagascar” masih akan terlihat, terutama dari Marty si Zebra dan geng penguin yang memang disorot untuk jadi maskot franchise ini. Walau tak sampai tertawa terbahak-bahak, Alex dan kawan-kawan masih bisa dibilang berhasil menghantarkan aksi-aksi komedi yang tak hanya untuk konsumsi anak-anak tapi juga orang dewasa yang mendampingi mereka. Yah film animasi yang belakangan muncul memang tak lagi milik anak-anak kecil, tapi seperti juga “Madagascar 3”, sisi kekanak-kanakan itu tak perlu harus hilang. Nah anak kecil akan senang jika disodorkan permen berwarna-warni, begitu juga film ini yang tahu bagaimana melayani mata-mata penonton kecil dan dewasa dengan gambar beraneka warna. Ketika “Madagascar 3” menambahkan karakter-karakter yang terdiri dari binatang-binatang sirkus, sepertinya itu langkah yang tepat dan film ini tahu untuk melangkah ke arah mana. Tak hanya menghadirkan konflik, intrik dan kekonyolan yang lebih fresh, tapi gabungan geng “Madagascar” dan grup sirkus ini sanggup menampilkan atraksi-atraksi visual yang ajaib. Untuk kreasi visual yang memanjakan kedua mata tersebut, “Madagascar 3” bolehlah saya beri acungan jempol. Adegan sirkus dengan iringan tembang “Firework” yang di-remix tersebut benar-benar sukses menempel di kepala sampai saya menuliskan review ini. Well, sekali lagi walau tak menawarkan sesuatu yang baru dari segi cerita, kita boleh berharap banyak untuk sajian visual “Madagascar 3” kali ini. Sebuah film animasi yang menghibur semua, petualangan yang menggemaskan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - The Green I...
Review - Ada Apa Den...
Review - Munafik (20...