Review: Brave

written by Rangga Adithia on June 23, 2012 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with no comments

Mari lupakan “Cars 2” dan move on, please! saya tidak benci Lightning McQueen dan Mater, tak peduli juga dengan tanggapan mereka yang terlalu lebay mencemooh film buatan Pixar ke-12 tersebut, tapi saya setuju sih bila ada yang menyinggung “Cars 2” tak istimewa dan terlalu biasa untuk ukuran standar Pixar. Bagaimana pun walau dikecewakan, saya tetap menyempilkan kata-kata pujian di review “Cars 2”. Dengan cerita yang mudah dilupakan, setidaknya Pixar masih memukau dengan kualitas animasinya, dunia mobil-mobilan itu dipoles sampai “mengkilat”. Lalu bagaimana dengan “Brave”, apakah dengan embel-embel film ke-13 dari Pixar, film ini “sial” dan terparkir di tempat yang sama dengan “Cars 2”. Saya jamin bilang ini “Brave, adalah bukti jika tahta per-animasian belum bisa menggeser nama Pixar”. Pixar lewat film animasi terbarunya ini tidak saja menunjukkan jika mereka masih “berkuasa”, tapi juga menegaskan sebuah perubahan, mungkin setelah menonton “Brave” kita tidak lagi melihat Pixar yang sama. “Brave” adalah cara Pixar untuk mengumumkan jika mereka bisa berkembang, meninggalkan “cara lama” dan memulai sesuatu yang bisa dibilang baru, fresh—termasuk menghadirkan petualangan di dunia yang baru, yah semoga perubahan ini baik untuk Pixar. Apapun yang mereka lakukan, saya selalu percaya studio yang bermarkas di California tersebut selalu bisa menciptakan film-film yang ajaib dan menyentuh penonton, in Pixar we trust.

Lewat “Brave”, penonton khususnya penggemar Pixar akan diperkenalkan dengan princess pertama yang diciptakan Pixar, diwakilkan oleh sosok putri Skotlandia yang jauh dari kesan charming dan ke-putrian, tapi justru pemberontak, yakni Merida, karakter utama dalam “Brave”. Bukan berarti selama ini Pixar tidak punya karakter perempuan, ada—Eve (Wall-E), Princess Atta (A Bug’s Life), Jessie (Toy Story 2), Sally Carrera (Cars)—namun kehadiran mereka lebih ditonjolkan untuk menjadi karakter pendamping. Inilah yang saya sebut di paragraf awal sebagai perubahan yang dilakukan oleh Pixar. Sekarang lewat Merida, Pixar mengubah tradisinya, bisa dikatakan mengikuti jejak Disney dengan putri-putrinya yang sudah lebih dahulu kita kenal— Snow White, Pocahontas, Belle, Cinderella, Aurora, Jasmine, Ariel—yah bahkan menurut saya Merida adalah percampuran antara Mulan dan Rapunzel, DNA memberontak itu seperti diwariskan kepadanya. Tak bisa semudah itu juga untuk langsung mengatakan Merida adalah bagian dari putri Disney, karena kenyataannya “Brave” bukanlah film Disney, tapi tetap sebuah produksi dari Pixar. Walaupun tak bisa dipungkiri nantinya ketika menonton “Brave”, saya merasakan sentuhan Disney (sebagai pemilik Pixar) di film yang dikeroyoki oleh tiga sutradara sekaligus, Mark Andrews, Brenda Chapman, dan Steve Purcell yang duduk sebagai co-director.

Dengan, segambreng film-film animasi lain yang sudah dan akan hadir, bermacam kualitas dari yang buruk sekali sampai sekedar hanya menghibur doang, atau punya cerita yang dalam dengan visual menggetarkan seperti “Rango” (2011). Tentu saja peta per-animasian tidak hanya milik Pixar seorang, jika dilihat secara sekilas pun kekuatan dari masing-masing studio animasi yang sekarang “merajai” dunia animasi bisa dibilang merata. Bahkan Dreamworks Animation punya animasi jempolan yang tidak boleh dipandang sebelah mata, menunjuk “Kung Fu Panda” dan “How to Train Your Dragon”. Alih-alih membuat “Toy Story” sampai 30 seri, “Brave” muncul untuk menangkis serangan-serangan film animasi dari studio lain, sambil seraya berteriak, “kita tak hanya punya mainan-mainan atau mobil-mobil yang bisa bicara”, tapi kisah baru untuk didongengkan, legenda yang akan memulai petualangan baru, dan sekali lagi Pixar tidak ngasal. Dunia yang membungkus “Brave” memang luar biasa, seperti film-filmnya yang sudah-sudah, lewat tangan-tangan “pesulap” di markas Pixar, kita kembali diajak masuk ke dalam dunia khayalan, walaupun saya duduk anteng dalam tubuh orang dewasa, percayalah jiwa saya melayang dalam bentuk anak-anak. Yah Pixar sanggup melakukan hal-hal ajaib itu kepada saya dan juga kamu.

Untuk urusan visual, “pertanyaan bagus atau tidak” memang tidak perlu ditanyakan lagi. “Brave” dibangun dengan detil menakjubkan, setting serta lanskap pendukung benar-benar dibuat dengan cara terbaik yang bisa dilakukan oleh Pixar, yah untuk urusan visual memanjakan mata Pixar memang tidak perlu diragukan. Pegunungan dan hutan-hutan Skotlandia tak hanya jadi arena petualangan Merida tapi juga mata ikut berpetualang, setiap inci daratan yang di-render sudah sukses menghadirkan pemandangan yang tak membosankan, membuat saya betah berlama-lama di negeri Skotlandia. Tentu saja, “Brave” tak bisa mengandalkan visual saja, Pixar harus bisa “menipu” penontonnya untuk hanyut dalam cerita, sebuah “tradisi” yang membuat kita mencintai film-film mereka. Dengan duduknya Brenda Chapman (The Prince of Egypt 1998) di kursi salah-satu sutradara, “Brave” sudah mengambil langkah yang menurut saya tepat, ketika cerita yang difokuskan pada tokoh utama yang notabene perempuan dan dibumbui oleh hubungan ibu-anak yang secara mengejutkan cukup mendalam, sentuhan perempuan dirasa memang sangat diperlukan, disinilah peran Brenda—yang juga ikut dalam penulisan cerita—untuk memberi sentuhan tersebut.

Tak mengapa jika cerita terajut begitu sederhana, “Brave” dari awal memang sudah saya harapkan untuk tidak menyajikan cerita complicated tapi berujung “memaksa”. Bolehlah Pixar ingin adanya perubahan, tapi mereka juga mengerti ada sebuah “tradisi” yang tidak boleh hilang dari film-film Pixar, yaitu cerita yang terlihat biasa atau sederhana tapi menyentuh hati dengan luar biasa. Merida yang tidak ingin lagi diatur oleh tradisi keluarga, khususnya oleh Ibunya, Ratu Elinor, akhirnya berbuat sesuatu yang justru berujung pada bencana. Untuk membuat semuanya kembali ke normal, Merida harus memperbaiki hubungannya dengan sang Ibu. Sesederhana itu nantinya “Brave” tidak akan lagi muluk-muluk, tapi fokus pada menyorot aksi-aksi Merida dalam usahanya membayar kesalahan yang dia lakukan. Tak perlu banyak konflik yang diselipkan, “Brave” punya kesempatan untuk tidak saja membangun karakter Merida, yang dari awal jadi sorotan dan mudah dicintai, tapi juga tanpa ada paksaan membiarkan saya merasakan chemistry “hangat” antara ibu dan anak yang berusaha dibangun oleh Mark, Brenda dan Steve di setiap adegan demi adegan.

Seindah rambut keriting-complicated-merah Merida, hubungan antara ibu dan anak yang dibangun oleh “Brave” memang nyatanya seindah itu, dan satu-satunya senjata yang digunakan untuk “memanah” sisi tersensitif penonton, termasuk saya. Walau saya akui ini adalah film Pixar yang “aman”, dalam artian tidak sesedih adegan akhir di “Toy Story 3” misalnya. “Brave” yang sejak awal memang fokus memperkenalkan sang “putri” dan lanjut menyorot aksi-aksinya, tidak begitu saja melupakan karakter pendukungnya, selain Ratu Elinor, kehadiran karakter-karakter lain, termasuk Raja Fergus dan tiga adik Merida yang kembar memberikan hiburannya tersendiri untuk “Brave”, yang kebagian porsi untuk membuat saya ngakak tak terkendali. Berlagak lucu dan dibuat dengan detil fantastis, bukan satu-satunya yang membuat karakter-karakter “Brave” begitu lovable, tapi bagaimana karakter-karakter tersebut berhasil “dihidupkan” dengan baik oleh para bintang yang mengisi suaranya. Termasuk juga Kelly Macdonald yang memang kelahiran Skotlandia, sukses menghadirkan sosok pemberontak dan pemberani dalam diri Merida. Tapi suara Emma Thompson-lah yang membuat hati ini tunduk pada “Brave”, suaranya berhasil mengeluarkan aura keibuan, kelembutan serta kasih sayang yang pas untuk membentuk Elinor menjadi sosok yang sangat dicintai.

Sebagai film pertama Pixar yang berisi kisah fairy-tale, “Brave” yang juga mengambil tema sebuah “perubahan”, menjadi momen yang sangat tepat bagi Pixar untuk mengatakan “kami juga ingin berubah”. Untuk permulaan, saya tidak akan terlalu memaksa Pixar terlalu keras berusaha, “Brave” sudah berhasil menghadirkan kisah yang menurut saya “not bad” untuk langkah pertama, walaupun kali ini agak terlalu biasa dan terasa “Disney”-nya. Kualitas animasinya memang tak perlu diragukan lagi, “Brave” sekali lagi sukses menghadirkan visual yang amazing, dengan sentuhan magis tangan-tangan animator Pixar. Didukung dengan karakter-karakter yang juga mudah dicintai, dijamin “Brave” tidak akan pernah membuat penontonnya bosan di 93 menit durasinya. Apalagi ditemani oleh iringan musik yang dikomposisikan oleh Patrick Doyle, suara bagpipes dan alat-alat musik khas Skotlandia menyatu bekerja sama menghadirkan permainan apiknya, yang membuat kita semakin betah di dunia “Brave”. Walaupun tidak ada rasa “wah” yang biasa saya rasakan setiap kali nonton film-film Pixar, perubahan yang diwakilkan oleh “Brave” setidaknya masih membuat saya percaya, Pixar masih mampu melakukan keajaiban.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - 3 Srikandi
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Ouija: Orig...