Review: Abraham Lincoln: Vampire Hunter

written by Rangga Adithia on June 21, 2012 in Action and CinemaTherapy and Fantasy and Hollywood and Horror with no comments

Sekedar iseng saja, saya mencari-cari artikel apakah benar, selain menjadi Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln juga diam-diam menyembunyikan sebuah rahasia kalau dia adalah pemburu vampir. Pencarian bodoh saya tersebut tentu saja tidak menghasilkan apa-apa, jika mesin pencari google bisa berbicara mungkin akan ada suara “bego lo!” ketika saya menekan tombol search, masih ingat dengan gimbot yang acap kali mengejek pemainnya jika melakukan kesalahan, yah seperti itu kira-kira hahahaha. Well “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” toh memang murni sebuah film fiksi, walau terkesan punya kemasan ala film biopik, bagian yang menceritakan sang presiden berkeliaran di malam hari dan membunuh para vampir jelas hanyalah karangan, sedangkan bagian yang menyorot Lincoln menghapus perbudakan adalah fakta. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Seth Grahame-Smith ini, dengan cerdik menyelipkan kisah petualangan perburuan vampir ala Van Helsing di antara deretan fakta dan sejarah yang mengelilingi kehidupan Lincoln. Pondasi ide yang kemudian mencoba mereka-ulang sejarah “semau gw”, saya akui sangat-sangat menarik. Namun ketika film yang disutradarai oleh Timur Bekmambetov (Wanted) ini mulai melangkah lebih maju dalam upayanya membangun cerita, dan bagaimana nantinya sejarah asyik dicampur-adukkan dengan fiksi nyeleneh, saya sudah salah berekspektasi jika “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” memang bakal menarik. Tak ingin berbicara lancang, tapi maaf Pak Presiden, film vampir anda sangatlah bodoh.

“Abraham Lincoln: Vampire Hunter” jelas adalah sebuah film yang dibuat semata-mata untuk hiburan, saya tahu itu dan datang ke bioskop pun karena memang butuh tontonan menghibur yang tak perlu cerita berat. Sayangnya hingga hampir satu jam, Bekmambetov tampak kebingungan ingin membuat film ini menjadi “sok serius dan mendalam” tapi serba tanggung, atau gila-gilaan tanpa memikirkan ceritanya. Sudah bisa ditebak, akhirnya Bekmambetov memilih option “C”, bikin filmnya menjadi sok keren tapi tidak terlalu gila-gilaan dan masih ingin sok bercerita. Sayangnya semua sudah terlambat karena tidak ada cukup waktu, satu jam sudah berlalu dipakai film ini untuk menceritakan semua yang tidak kita lihat di cuplikan trailer-nya, oh dan percayalah semuanya benar-benar membosankan. Tentu saja “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” tidak bisa seenaknya memotong porsi cerita yang sedang sampai pada bagian Lincoln meniti karir sebagai penjaga toko, kemudian pengacara dan politikus. Pencitraan bahwa film ini masih punya cerita harus tetap ada, termasuk menyisipkan kisah romansa antara Lincoln (Benjamin Walker) dan gadis yang kelak akan menjadi istrinya, Mary Todd (Mary Elizabeth Winstead). Mari jangan terlalu banyak bercerita, karena sekali lagi waktu untuk memamerkan porsi “sok keren” Bekmambetov sudah hampir habis, jadi bagian persahabatan, karir dan juga cinta seperti diburu-buru untuk ditampilkan, yang penting ada di layar dan cepat-cepat hilang kemudian dilupakan. Lebih baik tidak ada cerita sama sekali ketimbang harus melihat Lincoln lompat kesana dan kemari, saya seperti ditinggalkan oleh cepatnya waktu berlalu di film ini, tidak merasa diajak dalam cerita, saya memilih untuk tidak lagi peduli bagaimana nasib Lincoln yang justru tampak seperti pemabuk bodoh.

Di awal, Lincoln padahal sudah susah payah melatih dirinya untuk menjadi seorang yang heroik, bermodalkan kampak berlapis perak yang siap menebas setiap kepala vampir, kita juga dibuat simpatik pada Lincoln karena niat balas dendam terhadap pembunuh ibunya. Semua potensi untuk membuat film ini menjadi menarik musnah ketika “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” berada pada posisi “tersesat” karena yah kebingungan seorang Bekmambetov yang saya jelaskan di paragraf sebelumnya. Ketika Lincoln memilih untuk “menggantungkan” karirnya sebagai pemburu vampir dan memilih untuk “bertarung” dengan politik, maka saya juga seperti “digantung” oleh cerita yang tidak jelas mau dibawa kemana, masih lompat kesana-kemari dan gilanya tiba-tiba semua karakter yang saya kenal sudah tua, termasuk pak presiden. Sekali lagi saya “ditinggalkan” dan dibuat merasa “asing” oleh film yang saya tonton, walaupun diawal tidak terlalu akrab dengan Lincoln, tapi setidaknya film ini masih baik hati menyediakan waktu untuk “berkenalan” dengannya. Sampai tiba waktunya untuk buru-buru menyelesaikan omong-kosong dan membiarkan jurang pemisah antara penonton dan film berserta karakter-karakternya semakin lebar. Saya tidak lagi tahu apa yang sedang saya tonton, tidak peduli dan berharap cepat selesai, sang Pak Presiden yang diceritakan sudah tua pun dipoles seadanya tanpa ada sepercik karisma yang muncul dari dirinya. Saya hanya melihat orang tua berjenggot dengan ambisinya untuk berperang melawan orang-orang dari selatan yang dibantu bala-tentara vampir. Tidak ada kobaran heroik dalam karakter Lincoln, yang ada hanya gambaran orang tua bodoh bertopi tukang sulap yang “bertarung” hanya dari balik mejanya, sampai akhirnya film ini memberikannya peluang emas untuk beraksi lagi dengan kampak perak. Setelah dikurung dalam cerita  yang membosankan, akhirnya saya dibebaskan oleh banyaknya aksi-aksi menebas kepala vampir (lagi).

Mungkin saya sudah terlalu lelah mengikuti jejak perjalanan Abraham Lincoln yang menyembunyikan “kampak saktinya” terlalu lama, dibalik ceritanya yang giat sekali membuat saya menguap bosan, dangkal dan dipenuhi kebodohan. Setidaknya ketika Bekmambetov mulai merangsang mata saya untuk terbuka kembali menonton film yang juga diproduseri oleh Tim Burton ini, ia melakukannya dengan (sedikit) benar untuk menghadirkan aksi-aksi “sok keren” melempar kampak dibalut slow-motion. Untuk yang satu ini walaupun ter-Wanted, saya acungi jempol untuk Bekmambetov karena sudah sukses menunjukkan taring dari “Abraham Lincoln: Vampire Hunter”, yang sebelumnya “tumpul” dalam usahanya memberikan cerita yang layak. Sayang (lagi-lagi) memang aksi-aksi dalam film ini tidak begitu didukung oleh efek-efek tipuan komputer yang mumpuni, tidak buruk tapi kurang “diasah” untuk bisa benar-benar menipu mata, masih terlihat murahan. Apa yang tidak bisa dimaafkan adalah bagaimana film ini menampilkan para vampir yang terlihat begitu bodoh, dengan polesan make-up digital yang tidak memberikan efek bahwa mereka makhluk yang mesti ditakuti, ngeselin sudah pasti… yah setidaknya tubuh mereka tidak berkilau-kilau seperti… ah sudahlah. Diramaikan juga oleh para pemain yang berakting sesuai dengan porsinya tanpa ada satupun yang istimewa, termasuk Benjamin Walker yang mirip sekali dengan Liam Neeson versi muda, “Abraham Lincoln: Vampire Hunter” tampil tidak sesuai yang saya harapkan, terlalu bodoh untuk diikuti, bisa dibilang juga agak sulit untuk dinikmati. (Sedikit) menghibur dan sangat mudah dilupakan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - Deathgasm (...
Review - Some Kind o...
Review - Cipali KM 1...