Review: Pacar Hantu Perawan

written by Rangga Adithia on May 24, 2012 in CinemaTherapy and Film Indonesia with 5 comments

Makin hari, sang master-of-syit KKD makin terlihat kehilangan arah, tersesat dalam belantara ambisinya sendiri untuk menjadi yang ter-jelek. Apa karena jutru film-film yang berada dibawah lindungan panji tengko… eh rumah produksi K2K, belakangan anjlok di pasaran, entah pasar yang mana. Mana kesaktianmu KKD? Buktikan sekali lagi kata-kata sakti “Kalau mau laku bikin film jelek”. Pengikut-pengikut loyal KKD pun tampaknya sekarang lebih memilih untuk hijrah mencari sekte pemujaan lain yang jauh dari kesan satanik, atau justru tobat, ketimbang dituduh sebagai pengikut setan. Kasihan KKD, dulu untuk membuat film jelek dia tidak perlu tuh embel-embel aktris film dewasa import, tak perlu bayar mahal mereka hanya untuk nongol tidak lebih dari 5 scene. Sekarang demi ambisinya untuk mengambil tahta perusak sinema lokal, yang mulai diperebutkan oleh produser-produser kacangan dan murahan—sebetulnya mereka hanya bermimpi bisa menyaingi sang master—KKD untungnya punya 1000 jurus untuk menangkal serangan para saingannya.

“Saya kangen film-film macam Genderuwo, jeleknya alamiah” – Ita, salah-satu pasien rumah sakit jiwa. Rasa rindu itu terpaksa harus dikubur dalam-dalam, karena KKD sekarang tak lebih dari produser yang hanya ingin cari untung saja, idealisme yang dulu jadi pegangannya untuk membuat film muntahan, luntur seketika tergerus oleh ambisi jahat untuk lebih memati-rasakan penonton dan memati-surikan perfilman tanah air. Buang jauh-jauh keinginan kalian untuk bisa lagi melihat kembali muaha-kuarya KKD seperti “Darah Janda Kolong Wewe”, “Dendam Pocong Mupeng”, dan “Hantu Binal Jembatan Semanggi”. Sensasi otak mengkerut yang didapatkan dari judul-judul spek-tai-kuler tersebut, tidak pernah lagi bisa dinikmati di film-film KKD sekarang. Filmnya masih jelek tapi terlanjur dipaksakan untuk jelek, daya magisnya untuk menyumbat logika masuk ke otak pun tidak lagi sekuat dulu. Filmnya malah terkesan jadi “bagus”, walaupun level ingin muntahnya tidak berkurang sedikitpun. “Pacar Hantu Perawan” adalah salah-satu contoh betapa KKD terlalu memaksa diri untuk memuntahkan sebuah karya buruk tapi meninggalkan pakem sederhana yang dulu selalu ada di film-filmnya, yang membuat filmnya kacrut luar biasa walaupun tanpa bintang terkenal sekalipun. Originalitas seorang KKD dalam menghasilkan tontonan yang murni idiot, terkubur bersama ambisi yang membutakan kejeniusan produser yang tidak pernah mempan dicaci dan dimaki itu. Ketika KKD tidak lagi peduli pada nilai-nilai orisinil dan lebih memilih menjiplak sana-sini, termasuk main embat saja scoring dari film-film bule, wajar jika sekarang filmnya ditinggalkan oleh penonton, dan mungkin juga oleh bangsa lelembut yang sudah bertahun-tahun jadi penggemar sang baginda KKD. Hei serius banget bacanya. Santai aja.

“Skandal Cinta Babi Ngepet adalah film favorit saya sepanjang masa” – Tidak mau menyebutkan nama, temen nonton bareng dan sekamar Ita di rumah sakit jiwa, dia juga mengaku pernah diculik alien. “Pacar Hantu Perawan”, mungkin bukan karya terbaik yang dimiliki KKD tapi ramuan idiotik tetap dicampurkan ke dalam adukan film yang berdurasi 70 menitan tersebut. Hasilnya film yang sanggup menjungkir-balikkan semua logika, mengecilkan volume otak sampai 47 persen dan selama kira-kira setengah jam, saya merasa tubuh saya berubah menjadi ikan duyung berwarna emas. “Pacar Hantu Perawan” mengaku punya cerita, tapi percayalah KKD ahlinya dalam menipu, termasuk menyebarkan sinopsis yang tampak seru, padahal seperti juga film-filmnya terdahulu, KKD tidak memerlukan cerita untuk menyambungkan adegan yang satu dengan adegan yang lainnya. Di film yang menghadirkan Dewi Perssik sebagai Mandy ini, KKD hanya perlu menyantolkan adegan-adegan mesum-nanggung ciri khasnya, itu pun random, termasuk adegan mandi ter-epik yang saya pernah saksikan di film KKD, mandinya sih biasa tapi latar musiknya seperti orang yang sedang maju ke medan perang, megah dan wah hanya untuk adegan mandi.

Kebodohan nan idiot sudah jadi hal yang lumrah dalam film KKD, imajinasinya yang tak terjamah oleh manusia normal memang terkadang akan sulit untuk dicerna, dan semua itu akan banyak ditemui di “Pacar Hantu Perawan”. Dewi Perssik diceritakan punya dua saudara yang tinggal di (katanya) Amerika, Vicky (Vicky Vette) dan Misa (Misa Campo), saya tidak perlu menyebutkan siapa mereka dan tidak perlu bergosip berapa harga yang dibayar KKD, untuk mendatangkan dua pemain yang di film ini hanya ditampilkan mungkin 7-8 kali (mungkin juga kurang dari itu). Tak perlu juga menyinggung logika bagaimana Vicky dan Misa bisa jadi kakak-beradik dengan Mba Dewi Perssik, ketiganya jauh berbeda. Vicky dan Misa tentu saja hanya tempelan di film ini, bergantian hadir dengan setumpuk keidiotan film yang disutradarai Yoyok Dumring ini, setiap kali nongol diwajibkan untuk hanya memakai bikini saja, sudah barang tentu untuk “mengobral” keseksian mereka dan sekaligus menjual jiwa-jiwa penontonnya kepada iblis KKD. Diberikan porsi sedikit, KKD memaksimalkan dua pemain “penting”-nya tak hanya dalam soal pamer “barang”, tapi juga memberikan mereka dialog-dialog yang tak kalah idiot, termasuk menyuruh Dewi yang sedang galau untuk pergi kemping, sebuah twist yang hanya dipunyai KKD, film cemen lain sih biasanya kalau galau yah ke klub, minum sampai mabuk (melirik Nayato).

Normal untuk seorang KKD ketika diceritakan Opanya Dewi, Vicky dan Misa tiba-tiba meninggal karena pipis dicelana, kok bisa? yah pipisnya tak sengaja mengenai kabel penyedot debu dan menyetrum sang Opa. Semua adegan di “Final Destination” mah lewat. Normal juga ketika Vicky dan Misa tidak datang ke Indonesia tapi lebih memilih melanjutkan aksi berbikini-ria. Masih normal ketika Dewi mulai joget-joget selama ratusan jam di pancuran yang katanya bisa ngasih jodoh. Masih normal kok, ketika tiba-tiba Dewi dapat jodoh di tengah hutan, Romy (Jonathan Frizzy), kita tahu dia bukan manusia, tak perlu kecerdasan untuk menebak dia hantu, cara aktingnya yang buruk luar biasa sudah memberitahu kita. Tetap akan terlihat normal, ketika Dewi lagi-lagi joget ratusan jam “menggoda” Romy yang tampaknya tidak tergiur dengan goyangan Dewi, pikirannya ada di tempat lain atau dia menyesal sudah main di film KKD. Normal dan normal ketika tiba-tiba muncul Olga Syahputra. Sangatlah normal “Pacar Hantu Perawan” digentayangi pocong bencong dan kuntilanak muka gosong, film KKD tak lengkap dengan kehadiran hantu-hantu tersebut. Tidak normal ketika ada yang masih bisa ketawa ngeliat keidiotan “Pacar Hantu Perawan”, tidak normal juga ketika pagi buta, lo malah nulis review tidak penting semacam ini. Well, KKD sampai kapan lo terus bikin film jelek?

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Bone Tomaha...
Review - Juara (2016...
Tujuh Film Horor Fav...
Review - Telaga Angk...