Review: Men in Black 3

written by Rangga Adithia on May 28, 2012 in Action and CinemaTherapy and Comedy and SciFi with no comments

Menonton “Men in Black 3”, sama dengan plotnya yang menghadirkan time travel, saya serasa disedot oleh portal dan kembali ke masa lalu, tepatnya 15 tahun silam, tepatnya tahun 1997, yup di tahun inilah saya diperkenalkan—melalui media vcd—sebuah organisasi yang semua member-nya berpakaian hitam-hitam. Awalnya saya pikir mereka sekte pemuja setan atau grup penggemar musik black metal, ternyata organisasi rahasia ini punya tugas untuk memonitor segala aktivitas alien di bumi, sama seperti judul filmnya, mereka dinamakan “Men in Black” atau lebih mudah jika disingkat “MIB” saja. Mungkin perlu diralat, saya tidak benar-benar menontonnya di tahun 1997, saya tidak ingat tapi yang yang jelas memang lewat vcd (bajakan) dan saya langsung jatuh cinta dengan film ini, dengan segala pernak-pernik lucu tentang alien dan gadget-gadget super-canggih. Yup saya menyukai “MIB”, dan saya bukan satu-satunya di bumi yang memberikan jempol untuk Will Smith dan kawan-kawan, terbukti film ini laris manis tidak saja dari segi komersil, perolehan box office, tetapi juga mendapat respon sangat positif dari para kritikus.

Sayang sekuelnya yang rilis di tahun 2002 tidak diperlakukan dengan baik oleh kritikus, walaupun begitu “MIB2” tetap sukses mengantongi banyak uang, mungkin dibantu dengan neuralyzer. Saya tentu masih suka dengan sekuel tersebut, walau seingat saya, dulu ketika nonton saya ketiduran. Franchise “MIB” bisa dibilang masih berada di zona menyenangkan, masih menguntungkan dan di akhir sekuelnya ada petunjuk jika “MIB” mungkin saja akan melanjutkan aksinya. Dunia “MIB” memang bisa diperlebar lagi lewat sekuel-sekuel berikutnya, tapi tidak disangka butuh 10 tahun bagi “MIB” untuk kembali beraksi di film ketiga, jarak yang cukup lebar dari film keduanya. Terpikir sekilas, apakah orang-orang masih peduli dengan “MIB” dan ulah para alien nakal yang biasanya diplotkan untuk menghancurkan bumi. Well jika pertanyaan tersebut ditunjukkan pada saya, jawabannya sederhana, saya peduli dan penasaran sejauh apa Barry Sonnenfeld mampu membawa “MIB” ke level yang lebih menarik dari pendahulunya, tanpa harus terlihat memaksakan filmnya seperti yang dia lakukan di film kedua. “Men in Black 3” ternyata tidak mengecewakan.

Di awal film saya sudah dibuat excited, melihat alien bermuka jelek, mirip-miriplah sama si undertaker dari acara gulat WWE, bedanya alien gondrong bernama Boris the Animal (Jemaine Clement) ini bisa mengeluarkan semacam sumpit tajam dari telapak tangannya, tentu saja bukan untuk makan mie ayam tapi membunuh lawan-lawannya. Boris yang merupakan salah-satu napi di cipinang, maksud saya penjara LunarMax yang letaknya di bulan (ngeri banget), diceritakan berhasil melarikan diri dan berniat membunuh Agen K (Tommy Lee Jones). Rekannya, Agen J (Will Smith) tentu saja uring-uringan ditambah untuk menyelamatkan “K”, “J” harus melakukan perjalanan ke masa lalu, tepatnya ke tahun 1969. Tidak saja nyawa rekannya yang jadi pertaruhan, jika Boris tidak ditangkap, bumi bisa jadi dalam bahaya. “MIB 3” menambahkan sesuatu yang belum pernah dilakukan di film-film sebelumnya, yakni time travel, dan saya akui perjalanan “J” ke tahun 60-an jelas sudah membuat film ini lebih menarik ketimbang melawan alien di tempat yang itu-itu saja.

Sekali lagi “MIB 3” mampu memberikan kejutan, sesuatu yang melebihi ekspektasi saya dengan memasukkan unsur time travel tersebut. Tidak saja menambahkan sisi hiburan film ini, bayangkan aksi-aksi yang pernah ditawarkan di film sebelumnya tapi sekarang dengan latar belakang tahun 60-an, dengan segala peralatan yang yah tetap canggih tapi terasa old school. Sisi artistik film pun terangkat berkat keahlian departeman art-nya untuk membangun nuansa jadul dengan sangat baik, ditambah dengan tempelan-tempelan budaya yang sedang happening dan momen historik yang kala itu benar-benar terjadi, seperti peluncuran Apollo 11. Semua “tempelan” tersebut bekerja dengan baik bersama alur cerita yang sedang berusaha keras untuk menampilkan hiburan yang terbaik untuk penonton. Sayangnya Sonnenfeld tampak terlalu memaksakan “MIB 3” untuk lebih lucu, hasilnya hanya 40 persen leluconnya yang sukses membuat saya tertawa. Will Smith masih tetap seperti dulu, bacotnya masing juara. Tommy Lee Jones sekarang berbagi porsi tampil dengan Josh Brolin, yang tak saja sangat mewakili Tommy versi muda tapi juga berakting asyik. “MIB 3” memang diakui tak asal bercerita tapi juga memberikan warna baru pada karakter-karakternya. Action-nya memang menghibur tapi saya pikir porsi drama yang kali lebih ditonjolkan punya tempat yang spesial di hati para penontonnya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Turbo Kid (...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Blair Witch...