Review: Dark Shadows

written by Rangga Adithia on May 22, 2012 in CinemaTherapy and Comedy and Hollywood and Horror with no comments

Selalu ada keajaiban di film-film Tim Burton, bahkan untuk film yang sepertinya banyak tidak disukai orang, “Alice in Wonderland” (2010), walaupun di penghujung cerita—bahasa kerennya third act—Burton mulai ngawur kemana-mana ditambah petarungan klimaks yang kacangan, saya tetap menyukai film tersebut, disini Burton masih sanggup menyihir penontonnya untuk masuk ke dunia ajaibnya, dunia yang disebut wonderland, berwarna tapi tetap dipoles dengan ciri khas “anehnya”. Baru dua tahun kemudian, Burton akhirnya merilis film terbarunya, “Dark Shadows” yang kembali mengajak Johnny Depp, jika dihitung-hitung sejak “Edward Scissorhands” (1990), ini adalah kolaborasi ke-8 Depp dengan Burton (benarkan saya kalau salah). Keinginan saya untuk melihat Burton versi “Sleepy Hollow” (1999), agaknya oleh Burton diwujudkan di film yang mengadaptasi serial opera sabun tahun 60an ini, ya walaupun tidak keseluruhan film bergaya ghotic, ada percampuran gaya berbusana 70-an disana dan warna-warna terang yang mengingatkan dengan “Charlie and the Chocolate Factory” (2005), tapi tentu saja visual “Dark Shadows” tidak akan ikut-ikutan kekanak-kanakan, rasa “kelam” ala Burton sangat terasa disini.

“Dark Shadows” dibuka dengan hijrahnya keluarga Collins dari Liverpool, Inggris ke Amerika, membuka bisnis perikanan di kota kecil yang mereka bangun sendiri dan diberi nama Collinsport. Hidup keluarga Collins bisa dibilang makmur dan bahagia, lengkap dengan rumah bagaikan istana, Collinwood. Tentu saja kekayaan tersebut sangat dinikmati oleh anak satu-satunya dari pasangan Joshua dan Naomi Collins, Barnabas (Johnny Depp) pun tumbuh pun menjadi playboy terkaya. Namun status bahagia tersebut tidak bertahan lama, “kebodohan” Barnabas menolak cinta wanita pelayan di rumahnya berakibat fatal. Angelique Bouchard (Eva Green) yang patah hati ternyata adalah seorang penyihir, atas nama balas dendam dan dibakar rasa cemburu, Angelique pun membunuh kedua orang tua Barnabas. Kemudian disusul memantra-mantrai Josette du Pres (Bella Heathcote), yang pada akhirnya berakibat kematian tragis kekasih Barnabas tersebut. Belum puas dengan balas dendamnya, kekuatan sihir Angelique mengubah Barnabas menjadi mahkluk penghisap darah, alias vampir. Untuk membuat hidup (atau matinya) Barnabas makin sesangsara, si penyihir Angelique memprovokasi warga kota untuk menangkap Barnabas karena ia seorang vampir. Barnabas pun dirantai, dimasukkan dalam peti mati dan dikubur.

200 tahun kemudian Barnabas bebas, tapi dunia tak lagi sama, begitupula kota dan Collinwood yang sekarang dihuni keturunan Collin yang tidak ia kenali. Bagaimana Barnabas bisa beradaptasi dengan masa depan? Disinilah Burton dengan leluasa mulai memasukkan unsur humor, diantara fantasinya yang bergentayangan, horor yg  mengendap-ngendap dan drama “keluarga”, Burton juga menyisipkan romansa. Wajar jika “Dark Shadows” pada akhirnya terlihat campur-campur, secara langsung menulari ceritanya yang juga tidak fokus. Terlalu banyak yang ingin dimasukkan oleh Burton, dari kisah romansa Barnabas hingga konflik abadinya dengan penyihir yang mengutuknya menjadi vampir, yup Angelique. Walau agak menumpuk, Burton asyiknya mampu menjaga storyline agar tetap menarik, menghindar dari kata bosan dengan caranya sendiri. Cerita yang terlihat kompleks, dengan banyak karakter dan juga konflik sana-sini, sanggup dihadirkan Burton untuk mengalir nyaman, hasilnya “Dark Shadows” pun enak ditonton dan itu penting. Menyenangkan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan film, apalagi ketika Burton sudah mulai mengeluarkan keahlian magisnya menyihir penonton dengan visual-visual “kelam”, aneh, bercampur nuansa gothic yang dikemas dengan nilai artistik berkelas. Untuk visual, sutradara yang satu ini memang patut diacungi jempol werewolf, karena telah sukses membohongi mata dan mengajak fantasi saya untuk hanyut kesana-kemari bersama imajinasi sinting Burton. Saking keasyikan menikmati visual, saya akui trik tersebut akhirnya membuat saya mudah melupakan ceritanya yang agak kusut itu.

“Dark Shadows” pun beruntung dihiasi oleh karakter-karakter menarik, yang makin hidup ketika diperankan oleh pemain-pemain yang tepat pula. Johnny Depp sekali lagi mampu menampilkan karakter “aneh”, seorang vampir yang seharusnya seram tapi justru lucu dan beberapa kali terlihat goblok karena keluguannya. Sekilas saya seperti kembali melihat Edward Scissorhands dalam diri Barnabas, Depp memang jagonya untuk karakter-karakter nyeleneh seperti ini, apalagi jika itu keluar dari visi seorang Burton, tampaknya hanya Depp yang bisa memuaskan kegilaannya. Depp bukan satu-satunya yang menjadi sorotan disini, lawan mainnya, Eva Green tak mau kalah dalam urusan adu akting. Memerankan Angelique, Eva sanggup menghadirkan aura jahat yang setiap kali menyelimutinya kala ia muncul di layar. Seksi, sekaligus menyebalkan dan ketika diperlukan, Eva Green juga sanggup menghadirkan momen horornya sendiri, terlebih dari tatapan matanya itu. Jangan lupakan Michelle Pfeiffer yang juga tampil baik sesuai dengan porsi yang diberikan kepadanya, begitu pula dengan Helena Bonham Carter yang untuk sekian kalinya memukau dengan peran “tidak banyak”-nya sebagai Dr. Julia Hoffman. Jackie Earle Haley, yang walaupun hanya melakonkan seorang pembantu, tapi hadir tidak main-main, Willie Loomis adalah salah-satu karakter unik dan menyita perhatian lebih di film ini. Chloe Grace Moretz, seperti perannya di film-film sebelumnya, disini pun ia tampil “liar”, mulut manisnya itu sekali lagi dibiarkan “kotor”. “Dark Shadows” memang bukan karya terbaik dari seorang Tim Burton, saya rindu dengan film seperti “Big Fish”, tapi film ini pun bukan berarti jelek, seperti yang saya singgung diatas Burton masih mampu menghadirkan perjalanan yang menyenangkan selama 113 menit. Walaupun cerita agak “kabur”, “Dark Shadows” jelas masih bisa menghibur dan dengan visual yang ditampilkannya, Burton membuktikan dia masih sutradara “sinting” yang sama. Di “Dark Shadows”, Burton kembali mengajak mereka yang rindu masuk ke alam liar penuh imajinasi gila, untuk sekali lagi bersenang-senang.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Raksasa Dar...
Review - Lights Out
Review - Telaga Angk...