Review: Angkara Murka (Amphibious)

written by Rangga Adithia on April 23, 2012 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror and Thriller with no comments

Jika tidak salah ingat, pertama kali mendengar soal proyek “Amphibious”—yang sekarang diberi judul “Angkara Murka”—adalah pada tahun 2008 silam, dari sebuah forum terbesar di Indonesia, tempat saya pertama kali menulis review di salah-satu thread-nya. Sebelum saya curhat lebih panjang, mari kembali fokus ke “Amphibious”, dengan embel-embel 3D, tentu saja film ini ditunggu, apalagi pada waktu itu 3D bisa dibilang masih baru, belum berjamur seperti sekarang ini. Satu lagi yang menyita perhatian saya adalah, film yang disutradarai oleh Brian Yuzna (Beyond Re-Animator, 2003) ini syuting di Indonesia, tidak hanya itu pemain dan krunya juga mengikutsertakan orang-orang lokal, salah-satu aktor yang terlibat di film yang juga di produseri oleh San Fu Maltha (Black Book, 2006) ini adalah Verdi Solaiman (The Raid, 2012). Well, sayang rasa penasaran saya terhadap film ini harus terpendam selama sekitar empat tahun, “Amphibious” yang awalnya direncanakan tayang 2010, hanya rilis di beberapa festival horor kemudian film ini seperti menghilang begitu saja, lalu tiba-tiba muncul lagi di awal tahun 2012, bak posternya yang memperlihatkan gambar ekor kalajengking raksasa yang muncul dari laut. Akhirnya bulan April 2012 baru tayang di Indonesia, dan bukan Oktober 2011 seperti tertera di halaman IMDB. Masih penasaran? tentu saja.

Bisik-bisik dari review di luar sana sih, “Amphibious” katanya jelek, tapi saya tak peduli jika belum menonton sendiri, ternyata ketidakpedulian saya kali ini salah, salah besar tepatnya. Untuk film model “Amphibious” ini, saya memang tak akan meminta banyak, sudah merendahkan ekspektasi dan sangat mengerti apa yang nantinya akan saya tonton, film kelas B yang berisikan monster kalajengking dan semoga menjejalkan mata saya dengan efek-efek konyol lengkap dengan cerita bodoh, itu harapan awal saya. Tapi memang tidak semua film bisa memuaskan apa yang kita inginkan, terlebih “Amphibious” yang tampaknya terlalu memaksa untuk terlihat entahlah, konyol tapi justru saya tidak bisa menikmati kejelekan dari film ini, siapa yang harus saya salahkan? Film ini atau memang mood saya yang pada saat menonton sudah berada di level asyik. Mental saya juga sudah siap disodorkan adegan-adegan bodoh yang biasa lalu-lalang di film sejenis. Duh! tapi tampaknya “Amphibious” tidak bisa diajak berkompromi, saya benar-benar tidak bisa menikmati film ini dengan utuh. Ditambah kebodohan saya yang lebih memilih untuk menonton versi 3D, yang ternyata menambah keburukan film ini.

Bayangkan jika biasanya subtitle untuk film berformat 3D itu dikonversi menjadi yah 3D juga, agar nyaman ketika kacamata tiga dimensi itu dipakai. Film yang juga memasang nama lokal Monica Sayangbati sebagai Tamal ini justru seperti hanya “menempel” bagian terjemahan Bahasa Indonesia, hasilnya adalah ketika menonton bukannya terbaca, subtitle tersebut malah mengganggu kenikmatan saya menonton, yang pada waktu itu mood-nya sudah turun menjadi 45 persen, tulisannya berbayang sulit terbaca, sakit. Alhasil di beberapa bagian yang hanya menampilkan orang-orang bicara, saya lepas kacamata, padahal jika dipakai kan menambah level kegantengan (WTF!). Penasaran bagaimana jadinya kalau saya menonton “Amphibious” dalam versi non-3D, mungkin penilaian saya terhadap film ini bisa jadi berbeda, tapi (lebih baik untuk kesehatan) saya akan lupakan niat untuk menonton lagi, kapok. Untuk film yang diberi judul “Angkara Murka”, film ini seharusnya bisa lebih gila, sayangnya beta malah dibuat murka.

Bercerita tentang seorang peneliti kelautan bernama Skyler Shane yang entah sedang mencari apa, menaiki kapal sewaan milik Jack Bowman, “Amphibious” yang awalnya menjanjikan, apalagi ketika kita dipamerkan setting menarik yaitu sebuah jermal—sebuah “gubuk” di tengah laut yang didirikan untuk menangkap ikan. Kemudian berubah menjemukkan ketika Brian Yuzna mulai melemparkan kekonyolan demi kekonyolannya, Skyler Shane bertemu seorang anak yang ingin ditolongnya di jermal tersebut, Tamal, tapi tertahan tidak hanya oleh bos jahat pemilik jermal, tapi juga oleh sosok kalajengking besar yang “pemalu”. Potensi “Amphibious” untuk menjadi menarik bukannya tidak ada, saya akui potensi itu ada, tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Selain lokasi-nya yang mendukung setiap aksi ketegangan yang nantinya hadir, para pemainnya juga berakting tak jelek-jelek amat, untuk sebuah film yang diniatkan untuk tak serius. Terutama melihat bintang-bintang lokal yang cukup bersinar disini, Sayangbati mampu memerankan Tamal dengan maksimal, walau masih terkesan kaku. Well, semua sisi positif film ini seperti dijungkirbalikkan ketika si monster jelek muncul, oke saya tidak berharap banyak dari efeknya yang ala-kadarnya tersebut, tapi desain kalajengking raksasa pemalu ini memang sudah tidak “merangsang” mata sejak awal pertemuan kita dengannya. Satu lagi, saya berharap ada banyak adegan bersimbah darah dan gore, tapi porsinya kurang greget. “Amphibious” tampil konyol seperti yang saya terka, tapi terlalu membosankan dan terkesan terlalu serius untuk “bagus”, untuk menikmati film ini pun butuh banyak kesabaran, yang pada akhirnya memang tidak ada. Kalajengking rebus satu, Mas!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Raksasa Dar...
Review - Juara (2016...
Review - Dukun Linta...