Review: Negeri 5 Menara

written by Rangga Adithia on March 4, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with 2 comments

Dua film komedi romantis (Aku atau Dia, HeartBreak.com), dua film thriller (The Perfect House, Pencarian Terakhir), sampai sekarang Affandi Abdul Rachman (AAR) bisa dibilang sutradara yang tidak pernah mengecewakan saya. Menggarap komedi romantis, AAR sukses membuat saya galau sekaligus tertawa terpingkal-pingkal dan untuk urusan thriller, AAR juga sanggup mengurung saya dalam ketegangan yang mengasyikan, “asyik” itulah kata yang tepat untuk menggambarkan film-filmnya. So, sekarang kita kembali disuguhkan film yang “asyik” lagi—saya berharap AAR akan membuat film horor—tapi “Negeri 5 Menara” (N5M) yang drama itu pun tak apa-apa. N5M sendiri diangkat dari sebuah novel laris berjudul sama yang terbit pada tahun 2009, karya Ahmad Fuadi, tentu saja seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari novel, akan banyak juga orang yang berharap filmnya akan sama dengan apa yang mereka sudah baca, itu lumrah. Tapi seharusnya untuk bisa “asyik” menikmati film ini, tidak perlu juga terpaku dengan novelnya, karena bagi saya karya visual ya mestinya diperlakukan berbeda dengan tulisan. Namun yang terpenting adalah, AAR sudah bersungguh-sungguh dalam membuat film yang ditulis oleh Salman Aristo (Garuda di Dadaku 2, Sang Penari) dan Rino Sarjono ini, saya bisa melihat itu.

Man Jadda Wajada! kata-kata sakti yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil”, “mantra” inilah yang nantinya menyatukan persahabatan ke-enam murid berbeda asal dan juga mimpi-mimpi mereka. Alif (Gazza Zubizareta) yang berasal dari Padang, awalnya enggan untuk mengikuti keinginan orangtuanya, terutama sang ibu (Lulu Tobing), yang mau Alif melanjutkan sekolah ke sebuah pesantren di Ponorogo, Jawa Timur. Dengan sedikit nasehat dari ayahnya (David Chalik) dan tidak ingin mengecewakan orang tua, pergilah Alif ke Pondok Madani, meninggalkan kampung halaman dan cita-cita untuk kuliah di ITB, menjadi seperti Pak Habibie. Niat setengah hati Alif, lama-lama berubah ketika melihat langsung tempatnya menuntut ilmu, apalagi saat bertemu dengan sahabat-sahabat baru, Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Atang (Rizki Ramdani) dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis ) dari Medan, Dulmajid (Aris Putra ) dari Madura dan Said (Ernest Samudera) dari Surabaya. Berjuluk Sahibul Menara, karena selalu berkumpul di menara Mesjid, Alif dan kawan-kawan akan punya banyak cerita dan pengalaman seru untuk dibagi, berpegang pada “Man Jadda Wajada!”, mereka akan bersungguh-sungguh menggapai mimpi-mimpi mereka.

Untungnya saya belum membaca novelnya (baca nanti karena penasaran), jadi saya tak perlu sibuk untuk membanding-bandingkan isi film dengan sumber adaptasinya, walau mungkin ada perbedaan, semoga saja filmnya ikut “laris”. Jenuh, mungkin tak lagi menggambarkan dengan betul perasaan saya melihat wajah sinema Indonesia, “muak” mungkin lebih tepat. Film bagus memang bertambah, tapi film berniat buruk juga tidak berkurang, justru penontonnya yang semakin “kabur”. Hingga bulan ke-3 ini, jumlah penonton tertinggi masih di seputaran angka 200 ribuan penonton, itupun dipegang oleh film horor idiot “Pulau Hantu 3” dan “Rumah Bekas Kuburan” (sumber: filmindonesia.or.id). Film macam “Republik Twitter” yang dibuat bener dan menarik, lah justru tidak banyak dilirik, kasihan sekali hanya ditonton oleh sekitar 20 ribuan orang. Sakit hati memang jika melihat statistik penonton film lokal, wajar jika saya berharap N5M sanggup menyembuhkan sakit hati saya, novelnya banyak dibaca orang, semoga saja filmnya pun banyak ditonton orang. Senang toh, ketika saya menonton film ini ditemani banyak bangku terisi penonton, berbeda dengan beberapa hari lalu, “Dilema” yang hanya ditonton oleh empat orang, termasuk saya.

Negeri 5 Menara

Ngelantur kemana-kemana, kembali ke N5M, film ini tentu ingin memotivasi para penontonnya, lengkap dengan mantra Man Jadda Wajada-nya, dan menariknya AAR melakukannya dengan cara yang asyik, seasyik filmnya. Saya benci sekali jika dalam film yang “menjual” motivasi, akan ada karakter utama yang diperlihatkan sangat sempurna, selalu bisa mengatasi masalah sendiri dan bisa segalanya, layaknya anak keturunan dewa. Sebuah contoh tidak harus sesempurna itu, berbuat salah justru lebih manusiawi, dan ke-enam sahabat di N5M untungnya punya “cacat” itu, yang memberitahu kita bahwa mereka masih manusia biasa, bukan malaikat atau anak dewa, mereka masih makan nasi jadi kita juga bisa seperti mereka. Lihat saja si Alif, diceritakan pintar tetapi selalu goyah dengan niatnya belajar di Pondok Madani, dia juga pemalu, apalagi ketika diberi porsi “cinta monyet” di film ini. Kekurangan dari masing-masing karakter di film ini justru membuat saya lebih dekat dengan mereka, kita bisa belajar bersama mereka, belajar dari kesalahan dan belajar untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. N5M mengajak kita belajar tapi bukan berarti ini adalah film yang serius, semua dikemas dengan menyenangkan, masuk ke Pondok Madani kita tidak saja diajak melihat kehidupan pondok tetapi juga akan bersenang-senang dengan Sahibul Menara, melihat persahabatan itu terajut dengan kuat.

Persahabatan antara Alif, Baso, Atang, Raja, Dulmajid dan Said tentunya juga tidak sempurna, adakalanya muncul konflik, tetapi AAR tidak terlalu ingin konflik melulu jadi pengikat antara film ini dengan penontonnya, nyatanya konflik yang benar-benar bisa dibilang konflik justru nongol ketika film ini mendekati ujung durasinya. Ikatan emosi dalam N5M terjalin bukan dari konflik atau ribut-ribut kaya sinetron, dari hal-hal lucu yang terjadi dalam kehidupan pondok sehari-hari, macam lomba pidato dalam bahasa Inggris atau membetulkan genset, nyatanya lebih ampuh untuk mengikat emosi, tidak saja pada Alif dan kawan-kawan tetapi juga mereka yang dari menit pertama duduk berperan sebagai penonton. Keterbatasan durasi tampaknya menjadi penghalang film ini untuk menceritakan semua, termasuk memperkenalkan lebih jauh masing-masing karakter, tidak hanya ke-enam sahabat, tapi karakter lain yang hilir mudik dan hanya numpang lewat, tapi setiap porsi yang disodorkan pada masing-masing pemainnya ditampilkan dengan baik. Begitu pula akting para aktor-aktor muda yang memerankan para Sahibul Menara, bisa dibilang sukses menjadi pusat perhatian, mereka bermain dengan gemilang. Didukung dengan polesan apik tampilan tata gambar, suara dan musik, AAR sukses menambahkan sesuatu yang kadang dilupakan film-film sejenis, yaitu membuatnya menjadi “asyik”, tidak perlu banyak menggurui tetapi membiarkan penonton mencari apa yang mereka cari. Ya sebuah film yang menyenangkan… Man Jadda Wajada!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Deathgasm (...
Review - Ouija: Orig...
Review - Before I Wa...