Review: Keumala

written by Rangga Adithia on March 6, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia and Romance with 4 comments

“Indah”, itulah respon pertama saya ketika melihat trailer-nya untuk pertama kali, “Keumala” bisa saja jadi film cinta-cinta-an yang beda, walau di sinopsisnya saya lagi-lagi menemukan nama penyakit, kali ini retinitis pigmentosa―sebuah penyakit menurun yang bisa berujung pada kebutaan―apakah film ini sama saja dengan drama romantis kebanyakan, yang seenak-jidatnya mengeksploitasi emosi penonton lewat karakternya yang pesakitan atau sebentar lagi mau mati. Memang tidak ada salahnya, tapi kadang mereka “asal” comot penyakit, tidak pakai riset, lihat saja misalnya film “My Last Love”, apakah orang yang menderita penyakit kanker otak harus tampak seperti apa yang digambarkan film itu. Alih-alih membuat iba, saya justru ketakutan setengah mati melihat Evan Sanders yang berlagak punya penyakit parah, namun sebaliknya terlihat bak psikopat amatiran yang baru mau belajar membunuh. Film cinta yang dikombinasikan dengan penyakit yang sudah salah kaprah, inginnya menguras airmata, lah ini malah mengundang seribu cacian dan lima ratus makian.

Well, “Keumala” untungnya berbeda, bisa dibilang punya niat untuk beda, tidak terjebak dengan film yang mengkomersilkan cinta, sebuah debut yang mantab dari Andhy Pulung, saya tidak melebih-lebihkan. “Love Story” karya Hanny R. Saputra bisa dibilang punya kesamaan dengan “Keumala”, dalam hal mengutarakan dialognya dengan puitis, bedanya film yang ditulis oleh Dirmawan Hatta (The Mirror Never Lies) ini tidak lebay, kalau kata anak sekarang bilang. “Keumala” nantinya akan mempertemukan Langit (Abimana Aryasatya), seorang fotografer sinis, dengan seorang penulis novel tidak menyenangkan bernama Keumala (yah, judul film ini diambil dari nama tokoh di film ini). Senja di sebuah kapal yang sedang berlayar dari Jakarta menuju medan, jadi tempat pertemuan tidak terlalu manis mereka.

Awal pertemuan, mereka berebut senja, Langit ingin memotretnya sedangkan Keumala ingin menggambarnya, tapi keduanya tak mau saling berbagi, ribut seperti anak kecil di tempat yang dilarang untuk penumpang biasa. Dunia itu kecil, apalagi sebuah kapal, Langit pun beberapa kali bertemu lagi dengan Keumala, beberapa kali pula pertemuan tersebut pada akhirnya berujung pada perdebatan, walau sekarang ada senyum yang terselip diantara kata-kata sinis yang keduanya saling lempar. Terlihat musuhan, Langit dan Keumala sebetulnya memendam rasa, hanya tinggal menunggu waktu, menunggu ego masing-masing surut dan ombak cinta menerjang benteng pasir yang selama ini menutup hati mereka. Senja sekarang jadi saksi, cinta bisa datang pada siapa saja dan dimana saja.

Terima kasih kepada Andhy Pulung, filmnya lebih menarik ketimbang sinopsis membosankan yang saya tulis diatas. “Dunia serasa milik berdua”, itulah “Keumala” ketika menterjemahkan setiap baris kalimat tulisan Dirmawan Hatta menjadi potongan-potongan visual yang dilekat manis oleh Andhy. Ceritanya memang sederhana, film pun hanya fokus kepada dua karakter utamanya, Langit dan Keumala, tapi bagaimana Andhy bisa merangkainya untuk tak membuat saya bosan itu lain soal. Lagipula buat apa cerita yang ingin sok rumit jika pada akhirnya akan jadi bumerang sendiri, ending-nya dipaksa untuk jadi mudah, yang punya penyakit akhirnya mati, semua selesai, semua bahagia, tapi tidak dengan penontonnya yang manyun terdiam di bangkunya.

“Keumala”, tampaknya tidak ingin muluk-muluk, dari awal film ini membiarkan ceritanya mengalir begitu saja, pada beberapa bagiannya memang terasa kaku, tapi masih saya anggap tidak mengganggu. Andhy cerdik memanfaatkan semua potensi yang bisa dihasilkan filmnya, tidak saja lokasi syutingnya yang memang indah, namun juga memaksimalkan kedua pemainnya,  Abimana Aryasatya yang sebelumnya kita lihat di “Dilema” dan “Catatan Harian Si Boy” dan Nadia Vega. Film ini punya kekurangan, tapi juga punya kelebihan yang patut serta selayaknya mendapat perhatian, sayangnya “Keumala” memberikan saya memori buruk dalam pengalaman menonton film di bioskop, untuk pertama kalinya saya menonton sendirian. Yah hanya saya saja penonton “Keumala” pada hari itu, sedih.

Jarang-jarang film Indonesia yang bertemakan drama cinta seperti “Keumala” ini sukses bikin saya betah duduk selama 104 menit, biasanya sudah pusing kepala melihat film cinta-cinta-an yang isinya hanya nangis doang, terutama jika Donita si ratu nangis itu yang main. “Keumala” bukan berarti anti cengeng, tanpa adegan menangis, film ini juga menyorot kesedihan, ada air mata yang membasahi pipi Nadia Vega. Bedanya dari kacamata amatir saya, porsi cengeng itu pas tidak berlebihan, tidak untuk jadi ajang lomba siapa yang lebih dulu memenuhi ember dengan air mata. Dialog-dialog puitis yang keluar dari mulut Abimana dan Nadia juga masih terdengar “waras”, lagipula tidak semua dialognya akan berpuisi, masih ada dialog-dialog non-puisi yang mengisi percakapan antara karakter satu dengan karakter lain.

Dengan cerita yang mengalir apa adanya, ditambah kata-kata indah yang tersembunyi dalam dialognya, “Keumala” juga dihiasi gambar-gambar indah, sinematografinya cantik menangkap keindahan pulau yang berada di ujung barat Indonesia, Sabang. Bukan saja pemandangan, “Keumala” juga tak mau menyia-nyiakan momen-momen hangat, romantis, benci dan kesedihan untuk berlalu begitu saja, semua dipotret dengan indah. Gerakan tubuh, mimik wajah, walau tanpa kata dan suara, tapi masih mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Langit dan Keumala. Ya, memang tidak sesempurna itu, Andhy sesekali juga meleset, adakalanya kita butuh bersabar sedikit untuk mencerna apa maksud dari gambar-gambar yang disodorkan Andhy. Sekali lagi kekurangan itu banyak tertutupi oleh keindahan-keindahan lain dari “Keumala”, akting Nadia Vega bisa dikatakan yang paling juara, semua kegalauan yang dia terima akibat cinta dan penyakitnya mampu ia transfer melalui performa aktingnya, sehingga saya pun ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh karakter Keumala. Didukung juga oleh cool-nya Abimana—masih dalam bayang-bayang Andi—yang bermain seirama dengan Nadia, hasilnya adalah chemistry yang manis antara keduanya. Tonton deh “Keumala”, setidaknya saya tidak dikira membual di review ini, salah-satu film cinta yang asyik.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Deathgasm (...
Review - Raksasa Dar...
Review - Lukisan Ber...