Review: Dilema

written by Rangga Adithia on March 1, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

Walau diberi label omnibus, terdiri dari lima cerita dan digarap oleh sutradara yang berbeda, “Dilema” dipresentasikan agak berbeda dengan film berjenis sama seperti “Jakarta Maghrib”, yang setiap segmennya diceritakan satu-persatu, disertai dengan judul juga, satu segmen selesai baru pindah ke segmen lain, tetap akan ada benang merah yang mengikat semua segmen. Sedangkan “Dilema” memilih untuk melebur kelima segmennya menjadi satu cerita yang utuh, tidak dipisah-pisah tapi ditumpuk. Awalnya memang sulit dicerna, tapi lama-kelamaan “Dilema” bisa menemukan titik fokus apa yang mau diceritakan, saya tentu saja mulai nyaman menonton, berilah film ini kesempatan untuk berbicara, tidak perlu dipotong. Menonton film ini di jam terakhir penayangannya di bioskop yang letaknya berdekatan dengan sebuah hotel, saya kecewa ketika melihat hanya ada dua titik merah diantara banyaknya warna biru, yang artinya baru dua orang saja yang membeli tiket film ini. Film dimulai, ah ternyata “Dilema” hanya ditonton tiga orang, termasuk saya, seperti sebuah private screening saja. Tapi itu tidak mengendurkan niat saya menonton, satu penonton pun datang menambah jumlah kami menjadi 4 orang. Semangat!

Film dibuka dengan adegan sekelompok orang yang sedang melakukan aksi serang terhadap kelompok agama lain yang mereka anggap sesat, kericuhan tak terhindari, polisi berusaha melerai kedua pihak yang bertikai tapi aksi lempar dan adu jotos tetap saja terjadi. Kisah ini masuk dalam segmen berjudul “Garis Keras” disutradarai oleh Robby Ertanto Soediskam (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita). Seperti yang saya utarakan di paragraf pembuka, segmen tersebut akan berbaur dengan segmen lainnya, nanti kita juga akan disuguhkan oleh kisah seorang perwira polisi bernama Bayu Sustoyo (Ario Bayu) yang ditugaskan berpatroli bersama seniornya, Bowo (Tio Pakusadewo) di hari pertamanya, kisah yang mirip-mirip “Training Day”-nya Denzel Washington ini akan ber-cap “The Officer”, disutradarai oleh Adilla Dimitri. Kita pun nanti akan melihat Bayu dan Bowo menyelip masuk ke segmen “Garis Keras” , berada di tempat kejadian kerusuhan antara kelompok agama. Semua saling terkait, tidak saja oleh lokasi tapi juga karakter yang hilir mudik di film ini.

Di segmen lain, “The Big Boss”, seorang arsitek muda yang sukses bernama Adrian (Reza Rahadian), tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang tidak dikenal tapi tampaknya “berkuasa”. Wanita paruh baya yang belakangan diketahui bernama Hetty (Jajang C. Noor) tersebut meminta Adrian untuk datang menemui seseorang yang disebut “Bapak”, sambil meninggalkan kartu nama berinisial SW. Kemudian ada segmen “Rendezvous”, menceritakan seorang gadis bernama Dian (Pevita Pearce) yang ingin sendirian tetapi terganggu oleh pesta di sebelah cottage-nya. Seorang cowok sempat mengundangnya untuk join di pestanya, tetapi Dian yang sedang asyik berjemur, berharap kegalauannya hilang dibakar sinar matahari, menolak mentah-mentah ajakan tersebut. Lalu muncullah sosok wanita ramah dan terlihat “ada apa-apanya” menghampiri Rima (Wulan Guritno), yang akhirnya bisa membuat Dian datang ke pesta dan membuka diri. Di tempat lain, segmen yang juga berbeda, “The Gambler”, Sigit (Slamet Rahardjo) mengunjungi tempat lama biasa dia kumpul dengan teman-temannya. Sayang, teman-teman lama sudah tidak kesana, di tempat judi bawah tanah yang ramai dengan orang-orang yang buang-buang uang ini Sigit ingin berjudi sekali lagi untuk menebus arloji warisan keluarga.

Jika film ini terlihat seperti lima cerita berbeda yang dibuat oleh orang yang beda, wajar karena “Dilema” memang dibuat seperti itu, walau sudah dibuat berbaur dari segmen ke segmennya, layaknya satu cerita film yang utuh, tetap saja saya melihat sebuah ketimpangan dari segi bercerita masing-masing segmen. Belum lagi, ketika film ini sudah bermain-main dengan tumpukan scene-nya, cara “Dilema” membagi dan memotong masih saya rasakan agak kasar, jadi ketika saya sedang asyik untuk memahami segmen yang satu, tiba-tiba film ini pindah ruang menyoroti segmen lain dan begitu seterusnya. Saya sedikit agak malas ketika film yang diproduseri oleh Wulan Guritno ini kembali menceritakan Adrian dan kaitannya dengan karakter SW yang juga mengikat benang merah dengan karakter lain di film ini. Bukan karena segmen ini yang paling lemah menurut saya tetapi juga dipresentasikan dengan kaku, saya tidak merasakan emosi yang hadir ketika Adrian dan SW “berhadapan”. Jika ditanya mana segmen yang paling menarik, saya akan menjawab “Garis Keras” dan “The Officer”, tapi keduanya pun sama-sama berbagi kekurangan dalam hal pendalaman karakter, setiap segmen mengikat tapi tidak berusaha mengikat emosi dan simpati dengan penontonnya, setiap adegan muncul sekedar “numpang lewat” dan jujur tidak banyak yang membekas setelah saya keluar dari bioskop.

Ok “Dilema” tidak lepas dari kekurangan ini dan itu, tapi saya tidak buru-buru juga langsung men-cap “film jelek”, “Dilema” masih berada di posisi yang aman, sanggup menghibur dengan caranya sendiri membangun cerita, lengkap dengan beberapa kejutan yang sengaja disimpan, untuk pada akhirnya saya berkata “Oh… begitu ya” dan “Ternyata ada hubungannya…”. Well, “Dilema” ini pun sanggup mengumpulkan banyak pemain yang secara mengejutkan Reza Rahadian dan kawan-kawan mampu menampilkan performa akting yang bagus, setiap pemain sanggup memaksimalkan porsinya masing-masing untuk melebur ke dalam cerita. Itu termasuk Pevita Pearce yang mampu menghidupkan karakternya yang galau tidak karuan, dan kemudian sukses membuat saya terkejut dengan aktingnya yang “berani”. Setiap segmen yang dileburkan menjadi satu dalam “Dilema” punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menarik melihat cara film ini berusaha dengan kreatif menghubungkan satu segmen dengan segmen lainnya, walaupun kurang nyaman ketika mengajak saya berpindah ruang untuk melihat segmen berikutnya, serasa diseret. Sederet pemain untungnya mampu mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik, “Dilema” pun hadir menjadi semacam ajang pamer akting-akting aktor dan aktris yang tidak lagi asing di mata kita. Tidak istimewa, tapi “Dilema” tetap wajib ditonton.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Indonesia K...
Review - Munafik (20...
Review - The Wailing...