Review: 30 and Fabulous

written by Rangga Adithia on March 12, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Romance with 2 comments

Soal horor, negeri gajah putih Thailand bisa dibilang salah-satu penghasil film-film pembuat jerit yang sukses di Asia, selain Jepang dan Korea Selatan. Terbukti setiap saya bertanya film horor favorit dari Asia kepada beberapa orang teman yang saya akui demen horor dan kebetulan juga ada yang bertampang horor, mereka pastinya spontan memasukkan film macam “Shutter” di daftar horor favorit tersebut.Namun belakangan Thailand sedang agak males menghasilkan film hantu-hantuan, bukan tidak ada, tapi jarang yang seram, terakhir sih ada “Ladda Land” yang menurut saya lumayan menggetarkan nyali dan membuat bulu kuduk merinding disko. Firasat sih mengatakan para filmmaker Thailand sana tidak ingin terjebak dengan satu genre, melulu bikin horor bosan juga, sukses dengan horor, mungkin Thailand tergiur juga sukses dengan tema-tema lain. Berbeda dengan bioskop lokal sini yang tidak pernah bosan menghantui penontonnya dengan setan-setan berwajah gorengan tempe basi.

“30 and Fabulous”, sama seperti film-film komedi romantis yang telah dirilis Thailand, punya satu hal yang tidak pernah dihilangkan, yaitu menyuapi penonton Indonesia dengan “keunyuan” film mereka. Apapun filmnya, Thailand selalu bisa menyusupi rasa menyenangkan ke dalam filmnya, kita bukannya tidak bisa membuat film kaya gitu, tapi kebanyakan film-film drama-romansa atau komedi-romantis kita terlalu memaksakan dirinya untuk ingin lucu dan romantis, akhirnya justru tidak enak lagi ditonton, apalagi ketika plotnya memasukkan skema cinta pesakitan, salah-satu dari karakternya sekarat dan sebentar lagi mati, penonton juga ikut “mematikan” hati nuraninya jika terus dicekoki cerita yang itu-itu mulu. Bukannya tidak boleh, tapi sekali lagi bikin cerita orang mau mati aja dibuat berlebihan dan tidak manusiawi untuk ditonton. “30 and Fabulous” saya akui juga tidak orisinil, sudah banyak film yang punya tema sama, memakai cerita seperti yang ada di film yang disutradarai oleh Somjing Sirisupab ini, bedanya semua terkemas fresh, terlihat baru, jadi kita tidak akan sungkan untuk menontonnya, sampai akhirnya sadar ini klise.

Klise? biarlah asal hati ini masih bisa terhibur, saya tak akan lagi bawel soal ceritanya yang basi, jika pada akhirnya setelah credit title muncul “30 Fabulous” toh sanggup membuat saya hanyut dengan segala macam gombal yang dilontarkan film ini. Yah untuk kali ini, ego saya yang selalu “menganaktirikan” film-film komedi romantis, termasuk dari Thailand, harus mengalah, saya tidak akan bilang film ini jelek karena saya tidak suka (memilih) film yang berbau romantis, tapi bilang “30 Fabulous” adalah film yang “lumayan” bagus, karena itulah apa yang saya rasakan, perasaan jujur setelah dibombardir kata-kata gombal dan kegalauan selama 110 menit. “30 and Fabulous” akan mengisahkan Ja (Patcharapa Chaichue), seorang wanita cantik yang jika dipandang dari luar, tampak memiliki segalanya; karir yang sukses, sahabat-sahabat yang setia dan punya kekasih yang “sempurna”. Namun kesempurnaan tersebut memang tidak ada, Pada ulang tahun 30 nya, kekasih Ja justru “mundur”, karena tidak siap untuk diajak menikah. Hubungan selama tujuh tahun pun kandas, dan selama satu tahun Ja tidak pernah sembuh dari patah hatinya, ya sampai pada akhirnya ia bertemu laki-laki yang berumur tujuh tahun lebih muda darinya, berhasilkah hubungan mereka?

“30 and Fabulous” itu jenis film yang bikin penonton cewek teriak histeris “lucuuuu…!” atau “so… sweet”, yah seperti ketika saya menonton film ini, penonton-penonton cewek yang duduknya di belakang saya, serentak berteriak ketika adegan-adegan romantis “unyu” ala thailand mulai digombalkan, terlebih ketika Phuphom Phongpanu yang memerankan Porasit (yah namanya mirip-mirip dengan parasit, itu juga jadi bahan ledekan di film ini) muncul dan menebarkan pesonanya ditambah kata-kata gombal yang keluar dari mulutnya. Cerita berjalan serba wajar di “30 and Fabulous”, tidak ada yang kesannya berlebihan di film ini, dari fase “pendekatan” hingga nantinya, seperti juga film-film drama cinta lainnya, akan ada fase “mereka yang tersakiti oleh cinta”. Semua dipoles “manis” oleh sutradara Somjing Sirisupab, yang di film ini juga berperan dalam penulisan cerita, sekali lagi film ini memang klise, namun Somjing setidaknya mampu membuatnya tidak membosankan, ditambah sisipan komedinya yang juga tidak norak. Paket komedi-romantis “30 and Fabulous” pun makin “klop” ketika Patcharapa Chaichue dan Phuphom Phongpanu menampilkan akting yang cukup baik, chemistry itu terjalin dengan manis hingga penonton pada akhirnya larut dalam kisah cinta mereka. Film yang menyenangkan!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Ghost Diary...
Review - Raksasa Dar...
Review - Lights Out