Review: The Muppets

written by Rangga Adithia on February 2, 2012 in CinemaTherapy and Comedy and Hollywood and Musical with no comments

“I’m gonna shoot straight: You guys aren’t famous anymore.”, itulah pernyataan pedas yang dilontarkan Veronica, seorang eksekutif di sebuah stasiun televisi, kepada Kermit dan kawan-kawan yang sedang susah payah menayangkan acara mereka di televisi untuk menyelamatkan teater Muppet. Apakah betul boneka-boneka “The Muppets” ciptaan Jim Henson ini sudah dilupakan? Well, saya akan menjawab “tidak”, ketika film-film animasi komputer dan film dengan efek super canggih mendominasi layar bioskop, kehadiran “The Muppets” adalah sebuah kejutan bagi saya, dan berterima kasih kepada Jason Segel dan Nicholas Stoller yang sudah mengingatkan saya lagi betapa rindunya saya dengan “The Muppets”, tidak hanya kelucuan mereka yang terkadang liar, tapi kesederhanaan boneka-boneka ini ketika berurusan dengan yang namanya menghibur penonton, yah itu termasuk membuat saya bernyanyi, tanpa saya sadari, mereka mahir melakukan itu, menghipnotis kita untuk hanyut dalam keceriaan yang tidak dibuat-buat.

“The Muppets” tidak akan pernah tua, ukuran, bentuk, dan rupa mereka masih tetap sama seperti saat saya baru pertama kali mengenal mereka sewaktu kecil dulu. Lihat saja Walter, seorang anak yang tumbuh sebagai Muppet, ukurannya yah segitu-segitu saja, berbeda dengan saudaranya, Gary (Jason Segel), yang memang manusia, tumbuh normal. Walaupun begitu, keduanya kompak sejak kecil, tidak melihat perbedaan dan Gary selalu membantu Walter dalam segala hal, termasuk olahraga baseball. Gary dan Walter sama-sama penggemar berat “The Muppets”, sejak kecil sampai mereka dewasa. Mimpi Walter untuk melihat teater Muppet pun akhirnya terwujud ketika Gary mengajaknya pergi berlibur ke Los Angeles bersama Mary (Amy Adams), kekasih Gary. Sesampainya disana, Walter harus kecewa karena teater Muppet berbeda jauh dari apa yang selama ini dia bayangkan. Para Muppet sudah tidak terlihat lagi disana, dan bangunan-bangunan di tempat tur Muppet pun sudah tidak terawat, termasuk kantor yang dulu pernah menjadi “markas”-nya Kermit.

Tur yang menyedihkan tersebut pun bertambah mengerikan ketika Walter tanpa sengaja mengetahui bahwa teater Muppet akan dijual kepada seorang pengusaha minyak, Tex Richman (Chris Cooper). Tex ternyata memiliki rencana jahat untuk meruntuhkan teater Muppet, dan mengambil minyak yang letaknya tepat di bawah teater tersebut. Teater Muppet masih bisa diselamatkan, jika Walter bisa memiliki uang 10 juta dolar, tapi darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu, satu-satunya jalan adalah menemui Kermit dan mengumpulkan “The Muppets” yang sudah tercerai-berai untuk bersatu kembali. Sejak awal, film yang dibesut oleh James Bobin ini sudah piawai mengajak penontonnya untuk larut dalam suasana menyenangkan di kota kecil bernama Smalltown, memperkenalkan kita dengan Gary dan Walter dan kemudian menyajikan yang biasa ada di film-film musikal, nyanyian dan orang-orang yang berdansa, tapi tentu saja “The Muppets” mengemasnya dengan spesial dengan lagu-lagu yang enak didengar.

Jika dilirik dari segi cerita, apa yang ditawarkan oleh “The Muppets” pasti akan terlihat cemen atau sebut saja tidak berbobot, tapi toh saya tidak peduli, karena Jason Segel dan Nicholas Stoller sepertinya memang ingin membuat cerita “The Muppets” seringan mungkin, tapi memberikan hati mereka sepenuhnya ketika menuangkan ide cerita untuk film ini, film yang akan membawa kembali boneka-boneka ini menjadi famous dan diingat lagi. Membiarkan cerita “apa adanya”, tidak membuat “The Muppets” jadi kehilangan chemistry-nya dengan penonton, justru jalan cerita yang kadang dipoles tidak serius tersebut menjadi semacam “nyawa” yang membuat film ini semakin hidup dan liar selama 100 menit. Yah, lagipula ini “The Muppets”, semakin tidak serius cerita, semakin baik, dan film ini melakukannya dengan cara terbaik yang bisa mereka persembahkan. Termasuk memaksa seorang Chris Cooper untuk menyanyikan lagu rap, salah-satu bagian terbaik di “The Muppets” dan masih banyak lagi yang kaya begini.

Perjalanan mengikuti Walter, Kermit, Gary, dan Mary dalam misi mereka untuk mengumpulkan seluruh anggota Muppet yang terpecah kesana-kemari demi menyelamatkan teater Muppet, dibuat benar-benar tidak membosankan, selain kemasannya yang tidak serius, ada saja ocehan lucu dari setiap karakter di film ini yang membuat kita jadi semakin betah, duduk di bangku belakang mobil sang kodok Kermit, yang dikendalikan oleh robot. Setiap lagu yang dinyanyikan selalu bisa membuat mood penonton ikut merasakan emosi yang ada, ketika senang kita pun ikut senang, ketika sedih sajian musikalnya diciptakan sedemikian rupa untuk mengajak kita ikut sedih, ikutan galau bersama Walter. Hubungan baik yang diciptakan film ini dengan penontonnya sejak awal, ditambah juga ingatan manis tentang Muppet yang tersimpan selama ini, membuat saya seperti berada di dalam film, bergandengan dengan para Muppet untuk sekali lagi menghibur dunia dan bernostalgia bersama.  Sebuah arti cinta yang digambarkan dengan cara khas “The Muppets”, sangat-sangat menyenangkan, senang rasanya bisa bertemu lagi dengan Kermit, Miss Piggy, Animal, Fozzie, Gonzo, dan yang lainnya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Lights Out
Review - Train to Bu...
Review - Before I Wa...