The Black Dahlia Murder Cincang Habis Jakarta!

written by Rangga Adithia on February 20, 2012 in Concert Report with 2 comments

“Wah hujaaaan…” tapi itu nga nyurutin niat gw untuk pergi ke daerah Senayan, yup menjenguk teman-teman “The Black Dahlia Murder” yang dijadwalkan manggung di Lapangan Parkir Kolam Renang Senayan (Jum’at, 17 Februari 2012). Kerjaan kantor beres, sekitar pukul 6.30, gw langsung cabut menuju venue, menerjang macetnya Jakarta dan beruntung jam three in one udah habis, jadi gw nga usah pusing-pusing muter buat cari jalan alternatif. Seinget gw, di twitter open gate-nya jam 5 sore dan dibuka dengan band pembuka “Deadsquad”, secara band deathmetal favorit gw, yah mesti tongkrongin mereka main. Jam 7.30, gw nyampe Senayan, nga pake lama cari tempat parkir dan langsung menuju tempat digelarnya konser. “Duh udah berisik aja di dalem”, ternyata Deadsquad lagi asyik menghajar penonton dan gw telat.

Pas sampe area konser, gw agak kecewa liat jumlah penonton, beberapa kali dateng ke konser metal kayanya baru kali ini gw liat penontonnya sedikit, pikir gw mungkin karena hujan, bentar lagi juga rame. Nengok ke arah panggung, Stevie Morley Item (Guitars) Bonny Sidharta (Bass) Daniel Mardhani (Vocals) Andyan Gorust (Drums) dan Coki Bollemeyer (Guitars), nga peduli kayanya liat kebawah penonton masih sedikit, mereka main dengan total, untuk catatan ini kedua kalinya mereka menjadi opening act band luar negeri, sebelumnya mereka membuka konser “Lamb of God” pada 9 Maret, 2009. Band yang baru menelurkan satu album bertajuk Horror Vision ini, benar-benar tahu bagaimana membuat lapangan parkir kolam renang yang pada saat itu dingin, berubah jadi panas, dididihkan oleh nomor-nomor gahar dari Stevie dan kawan-kawan. Deadsquad emang nga dikasih waktu banyak di atas panggung, tapi beberapa lagu mereka sukses jadi “pemanasan” sebelum anak-anak The Black Dahlia Murder nongol dari balik panggung. Seperti biasa, setelah Deadsquad hilang dan panggung tiba-tiba gelap, gantian para kru sibuk setting ini dan itu.

Pikir gw bakal lama, sambil melahap pisang goreng, tiba-tiba gw mendengar intro menakutkan dari panggung, nga sampe setengah jam dan konser kembali dimulai. Ternyata pihak promotor Shownation ngertiin banget penonton udah nga sabar buat guling-gulingan dihentak musik dari band yang dibentuk tahun 2000 itu, kira-kira pukul 8, satu persatu personil The Black Dahlia Murder langsung ambil posisi mantap di atas panggung. Brian Eschbach (rhythm guitar) Trevor Strnad (vocals) Ryan Williams (bass guitar) Shannon Lucas (drums) dan Ryan Knight (lead guitar) tanpa basi-basi langsung “menyapa” penonton dengan “A Shrine to Madness” dari album terbaru mereka, “Ritual”, yang dirilis pada bulan Juni 2011. Tentu saja lagu pembuka tersebut langsung disambut riuh penonton yang malam itu berdandan serba hitam, nama-nama band metal terkenal terlihat di kaos-kaos mereka, nama The Black Dahlia Murder yang beraliran melodic death metal itu juga termasuk. Perkiraan gw nga meleset, penonton makin ramai, walau nga terlalu banyak, kurang dari 1000 orang klo gw itung-itung.

“Kita semua disini teman dan kita disini akan bersenang-senang”, sapa Trevor sang vokalis, yup walaupun kedatangan The Black Dahlia Murder untuk yang kedua kali-nya ini—setelah sukses menghibur masyarakat metal di tahun 2007 lalu—agak sepi penonton tapi band asal Michigan ini tetap tampil gila-gilaan. Efek totalitas Trevor  dan kawan-kawan pun langsung terlihat dari penonton yang tidak henti-hentinya berteriak, bernyanyi bersama, dan seperti biasa moshpit menghiasi konser bertajuk “Ritual World Tour 2012” tersebut, The Black Dahlia Murder gila dan penonton pun ikutan sinting, keren. Karena ini konser untuk mempromosikan album baru, dari 17 lagu yang  The Black Dahlia Murder dendangkan pada malam itu, emang banyaknya dari album “Ritual”. Lagu-lagu baru seperti Moonlight Equilibrium, Conspiring with the Damned, On Stirring Seas of Salted Blood, Carbonized in Cruciform, Den of the Picquerist, Malenchanments of the Necrosphere dan Blood in the Ink, sukses jadi mantra ampuh yang menyihir penonton untuk semakin menggila.

Kepalan tangan dan devil’s horn tidak hentinya menghiasi langit yang kala itu masih berselimut mendung, bercampur bau ketek, asap rokok dan alkohol. Konser yang berlangsung kurang dari 2 jam itu pun tidak melulu diisi suara bising yang keluar dari tumpukan sound system, The Black Dahlia Murder bukan band sombong yang asyik sendiri di atas panggung. Sesekali Trevor yang sudah membuka baju sejak dari lagu ketiga dan memamerkan tato di perut gendutnya itu, dengan berbaik hati mau menyapa para fansnya yang sudah mandi keringat. “gw senang bisa kembali ke sini dan kalian masih saja gila seperti dulu”, dilanjut “siapa yang dulu juga datang ke konser kita”, pertanyaan Trevor tersebut langsung direspon oleh acungan tangan, tidak termasuk saya, karena emang nga dateng ke konser pertama mereka. Trevor pun tersenyum dan kembali mengajak penontonnya bernyanyi bersama sambil juga menyuruh mereka untuk membuat lingkaran besar, atau biasa disebut circle pit.

The Black Dahlia Murder tidak hanya maiinin lagu baru, tapi juga nyodorin lagu-lagu hits lama mereka ke muka penonton, ada “Necropolis” dan juga “I Will Return” dari album Deflorate (2009), ada “Deathmask Divine”, “Everything Went Black” dan “What a Horrible Night to Have a Curse “ dari album ketiga mereka Nocturnal (2007). Ikut “memanaskan” Senayan pada malam itu, “A Vulgar Picture” dan juga “Miasma” dari album Miasma (2005) tidak lupa dimainkan oleh Trevor yang suara serak-serak basahnya, eh kok maksud saya growl­s-nya itu memandu penonton yang sedang asyik senggol kiri dan senggol kanan, diiringi gebukan dahsyat drum Shannon Lucas, sayatan sangar kedua gitaris Brian dan Ryan, dan betotan gahar bass Ryan Williams yang malam itu pake kaos tanpa lengan. Semua aman terkendali malam itu, seperti biasa walau saling senggol, kena gebuk, kena tendang, nga ada yang marah, semua bersenang-senang seperti suruhan Trevor di awal konser. The Black Dahlia Murder pun mengimbangi dengan bermain “bersih”, sama sekali tidak ada kesalahan dan konser akhirnya berjalan lancar sampai selesai. “Funeral Thirst” yang diambil dari album pertama Unhallowed (2003) pun jadi lagu yang mengiringi personil band menghilang ke balik panggung. Tentu saja masih ada encore, dan gw sama penonton tahu itu, teriakan “we want more” langsung menggema. Tidak lama Trevor dan kawan-kawan muncul lagi, “ini lagu terakhir dan gw mau lo semuanya habisin sisa tenaga lo”, teriak Trevor. “Statutory Ape” jadi lagu penutup sekaligus salam perpisahan dari The Black Dahlia Murder, konser yang “membunuh” energi.