Review: Republik Twitter

written by Rangga Adithia on February 18, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia and Romance with one Comment

Sebelum menulis review #republiktwitter pun, saya menyempatkan tongkrongin isi linimasa, memandangi ocehan 140 karakter dari akun-akun yang saya follow, tentu saja isinya beragam, ada yang curhat, ada yang ngobrol, ada yang kasih link-link yang bermanfaat, ada yang galau, ada yang kultwit, yang tidak jelas isi kicauannya juga ada, itulah twitter—semua bebas untuk berkicau apa saja, tinggal kitanya saja yang harus pandai-pandai memilah-milih mana yang “pas”, mana yang pantas untuk kita respon dengan serius dan mana yang tidak. Sebagai pengguna kanal media sosial yang satu ini sejak 2009, dengan akun @adithiarangga (numpang eksis,lol), sudah banyak yang saya dapatkan dari twitter, termasuk teman-teman baru (kepingin juga sih dapat pacar dari twitter, hahaha). Kebanyakan memang, akun-akun yang masuk daftar “teman saya” ini punya kesukaan yang sama, apalagi jika bukan “suka film”. Nah pas waktu kopdar pertama kali pun saya dan teman-teman baru dari dunia 140 karakter ini pun dipertemukan di sebuah acara nonton bareng, atau festival film.

Ada yang lucu, dan benar kata film ini, di dunia nyata @seseorang belum tentu sama dengan bayangan kita ketika melihat tweet-tweet-nya atau foto profile-nya. Dari apa yang saya alami, orang yang di timeline-nya “bawel” ternyata ketika diberi waktu untuk ngomong tanpa batasan 140 karakter, aslinya pendiam sekali. Ada juga yang ternyata lebih cantik, lebih bawel, lebih kocak, lebih “cool” seperti saya #pencitraan, atau lebih hancur, yah tapi mereka semua seru di dunia nyata. Dunia maya memang tidak pernah lepas dari “topeng”, tempat kita bisa menyembunyikan diri kita yang sebenarnya, termasuk juga twitter, sekali lagi kita dihadapi sebuah pilihan: jadi diri sendiri atau memakai topeng. Jujur, saya pernah memakai “topeng” itu tapi memang lebih enak jadi diri sendiri saja. Banyak cerita, banyak fenomena, banyak kisah, dan banyak pengalaman seru, semuanya itu coba dirangkum oleh #republiktwitter. Film ini tidak hanya akan berkicau tentang cinta-cinta-an, namun dalam 100-an menit durasinya, politik-politik-an akan diajak ikut nimbrung oleh Kuntz Agus.

Tidak perlu dijelaskan lagi kenapa @lorosukmo (Abimana Aryasetya) ngebet sekali untuk ke Jakarta menemui @DyahHanum (Laura Basuki)—jurnalis bawel yang dia kenal lewat twitter, sampai-sampai rela numpang di bagasi mobil milik sahabatnya, Andre (Ben Kasyafani), yang juga kuliah di Jogjakarta. Semua karena “cinta”, sayang ketika sampai di Jakarta, cowok yang foto profile-nya bergambar komodo (komodo apa cicak yah, apa kadal) dan juara dalam urusan mengolah 140 karakter ini tidak jadi bertemu Hanum di sebuah cafe, tempat mereka janjian, karena Sukmo langsung ciut ketika melihat si jurnalis bawel lebih cantik dari yang dia bayangkan, apalagi ia didatangi cowok yang Jakarta banget. Pertemuan kedua Sukmo dan Hanum pun tak berjalan manis, karena Sukmo sok bergaya dan Hanum lebih suka dia apa adanya, slengean seperti di twitter. Gagal sudah rencana Sukmo untuk mengejar komitmen cinta, tapi keberuntungan lain datang, saat dia mendapatkan pekerjaan dari orang yang dia kenal juga dari twitter, Bang Belo (Edi Oglek). Sukmo bertanggung jawab untuk mengurus akun orang-orang penting, salah-satu tugasnya menjadikan nama orang penting itu jadi trending topic. Hmm trending topic boleh berganti datang dan pergi tapi nama Hanum sepertinya akan selalu jadi trending di hati Sukmo, sambil mencari uang, Sukmo belum menyerah mendapatkan Hanum… cayo Sukmo!

Saya akui ekspektasi saya untuk #republiktwitter cukup tinggi, setelah saya melihat cuplikan trailer-nya yang “unyu” dan posternya yang cukup kreatif itu. Saya bukan kecewa dan film ini tidak jelek, setelah menonton saya hanya berharap lebih dari Sukmo dan Hanum, politiknya dikesampingkan mungkin akan lebih oke. Well, saya tidak anti film dengan kandungan politik, tapi sudah bosan dengan film yang ingin menyentil politik negeri ini. Ah, sudahlah toh apa yang disodorkan Kuntz Agus juga bukan film politik serius, disana ada cinta dan juga komedi, dan tulisan ES Ito saya anggap sudah pas dalam menceritakan soal twitter, eh maksud saya soal bermacam fenomena sosial dengan latar belakang situs jejaring sosial. Setidaknya film ini tidak terjebak dengan cerita yang itu-itu saja, misalnya film yang “memanfaatkan” situs facebook, “I Know What You Did on Facebook”, yang lagi-lagi mengandalkan kasus selingkuh dan selingkuh, ya lewat facebook, capek. Lebih bodoh lagi ketika “Setan Facebook” muncul mengguncang dunia per-facebook-an, setannya eksis di jejaring sosial buat bunuh orang, cakep. #republiktwitter itu masih bisa dibilang film yang menyenangkan, apalagi bagi yang punya twitter pasti beberapa kali tersentil dengan kalimat-kalimat juara film ini, “Hidup itu pilihan, follow, unfollow, block.

Hanya karena di-unfollow, ujungnya bisa jadi twitwar, persahabatan hancur karena tidak lagi saling follow, lucu saya pernah mengalami itu tapi sekarang sudah baikan lagi dan jadi bahan ledekan kalau ketemu, kaya ababil aja. Kasus norak macam itu juga jadi bahan kicauan di #republiktwitter diwakili oleh karakter Nadya, anak SMA labil yang masuk kategori “generasi menunduk”, diperankan dengan unyu oleh Enzy Storia. Sayangnya tidak seperti cerita si anak SMA dengan pacarnya Andre yang bisa dibilang kisahnya lebih menarik, chemistry romansa antara Sukmo dan Hanum di mata saya kurang dibangun dengan baik, masih tetap manis tapi agak dipaksakan. Porsi cinta si Pangeran Samberkata dan si Jurnalis Bawel masih tetap digarap lucu, buktinya saya bisa tertawa melihat mereka, ditambah asupan lawak dari Edi Oglek. Tapi sekali lagi, saya tidak merasakan cinta yang real, terlalu cepat, secepat visual tweet-tweet mereka yang ditampilkan sekelebat, kan saya mau baca juga #kepo. Terlalu banyak yang ingin disuguhkan ke mata penonton, akhirnya harus ada yang mengalah, antara cinta dan politik, film ini lebih memilih untuk berpolitik “manis”. Semanis akting Laura Basuki yang bermain cantik di film ini, sedangkan Abimana, hmm sulit sekali untuk tidak membandingkan performanya di film “Catatan Harian Si Boy”, karena Sukmo tidak jauh beda dengan Andi. Oh saya suka sekali bagaimana #republiktwitter dengan kreatif menyempilkan grafis-grafis bertema twitter dalam filmnya, makin membuat saya betah dan tidak buru-buru meng-unfollow film ini.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - 3 Srikandi
Review - Warkop DKI ...
10 Film Indonesia Te...
Review - The Devil's...