Review: Chronicle

written by Rangga Adithia on February 5, 2012 in Action and CinemaTherapy and Hollywood and SciFi with one Comment

Andrew (Dane DeHaan), Matt (Alex Russell), dan Steve (Michael B. Jordan) tiba-tiba saja memiliki kekuatan super, setelah ketiganya menemukan sebuah lubang berisi batu kristal misterius yang menyala-nyala. Awalnya “bakat” baru mereka tersebut hanya dipergunakan untuk main-main dan direkam oleh kamera Andrew, seperti bocah yang mendapat mainan baru, tentu saja mereka kegirangan menemukan diri mereka sekarang bisa membuat benda-benda melayang. Jika ada peraturan tentang superhero yang tidak memperbolehkan seseorang yang mempunyai kekuatan untuk asal pakai kekuatannya, dan akan jerawatan seluruh wajah (misalnya) jika ada yang melanggar peraturan tersebut, mungkin Andrew dan kawan-kawannya akan segera menggunakan kekuatan supernya untuk menolong sesama.

Tapi ini bukan film yang menceritakan tentang sekelompok “Heroes”, sebaliknya film tentang sekelompok remaja labil yang baru saja punya “mainan” baru dan tidak tahu bagaimana caranya memainkannya dengan benar. Tidak ada yang namanya professor Xavier yang siap membantu membimbing mereka ke jalan yang benar, mereka punya jalan masing-masing untuk menikmati kekuatan mereka. Sekali lagi Andrew, Matt, Steve hanya remaja labil seperti juga Peter Parker ketika baru menemukan kekuatan laba-labanya, beda dengan Peter, mereka tidak punya Paman Ben untuk mengingatkan: “With great power comes great responsibility”. Andrew dan kawan-kawan pun lebih memilih membuat lelucon di sebuah supermarket atau mengerjai seorang ibu-ibu yang kebingungan ketika melihat mobil yang diparkirnya pindah sendiri. Semakin mereka menggunakan kekuatan tersebut ternyata Andrew dan yang lain menyadari kekuatan mereka bertambah besar, hingga bisa membuat mereka melayang… kemudian terbang kesana-kemari. Asyik banget!

Kata “asyik” memang cocok untuk menggambarkan Chronicle di paruh pertamanya, selain kita diajak berlama-lama untuk berkenalan dengan masing-masing karakter, Andrew, Matt, dan Steve, khususnya Andrew dengan masalah keluarganya. Kita juga akan diajak “bermain-main” bersama mereka, melihat semuanya lewat cerita yang diwakilkan oleh kamera milik Andrew. Dari kekonyolan mereka sampai benih-benih konflik yang akhirnya tumbuh menjadi sebuah konflik yang tidak lagi sepele. Naskah cerita yang ditulis oleh Max Landis (anak dari sutradara John Landis) pun diesekusi oleh Josh Trank dengan asyik, cara bercerita Josh yang tidak terburu-buru menjadi semacam jalan untuk mendekatkan kita pada karakter-karakter film ini, seperti apa yang saya katakan sebelumnya film ini punya banyak waktu untuk memberitahukan penonton siapa itu Andrew, Matt, dan Steve. Chemistry betul-betul diperhatikan oleh Josh, persahabatan mereka dibangun dengan menarik dan tidak membosankan dan sesekali diselingi dengan aksi-aksi konyol mereka dengan kekuatan super. Kita bisa merasakan apa yang mereka rasakan, ketika bersenang-senang, kita akan ikut juga senang, seperti digendong kemudian diajak terbang melewati kumpulan awan, dan ketika melihat Andrew dan masalah keluarganya, kita juga akan ikut merasakan ada yang tumbuh dalam diri Andrew. Kita juga akan tertawa lepas, ketika melihat ketiga sahabat ini mulai mempergunakan kekuatan mereka untuk lelucon.

Hubungan kita dengan ketiga karakter utama film ini benar-benar dijaga dengan baik oleh Josh, tidak saja karena fantasi kita ketika berandai-andai mempunyai kekuatan super sudah diwakilkan oleh Andrew, Matt, dan Steve, tapi mereka sejak awal memang karakter yang dibuat untuk dekat dengan penontonnya, bisa dibilang dalam diri kita, disana ada Andrew, Matt, dan Steve yang semangatnya selalu meluap-luap itu. Dengan akting yang real dan tidak dilebih-lebihkan, Dane DeHaan, Alex Russell dan Michael B. Jordan mampu memerankan karakter mereka menjadi karakter yang mudah disukai, ditambah faktor mereka aktor yang kurang dikenal, menjadi nilai plus untuk film yang dikemas dengan gaya mokumenter ini. Semakin tidak terkenal biasanya film berjenis mokumenter lebih asyik untuk dinikmati, yah makin membuat filmnya serasa dokumenter asli.

“Chronicle” tampaknya mengerti bagaimana membuat film mokumenter yang unik, tidak perlu takut keluar dari bioskop pusing, karena toh film ini tidak “segoyang-goyang” film “Cloverfield”. Semua kamera, entah itu kamera personal milik Andrew, kamera cctv, sampai kamera telepon genggam, dan banyak kamera lain akan kedapatan bagian untuk menceritakan kisah persahabatan Andrew, Matt dan Steve, dan menjadi saksi kekuatan besar yang mereka miliki. “Chronicle” pun ditangan duo anak muda berbakat, walau tidak memiliki kekuatan super, Max Landis dan Josh Trank, menjadi sebuah atraksi yang luar biasa menghibur, walaupun mengawali film ini perlahan dengan cerita tipikal film remajanya, ada cinta, di-bully, ingin menjadi populer, melepas keperjakaan, masalah keluarga, cupu, pokoknya sejenis film yang biasa dimainkan oleh Jonah Hill, Michael Cera dan Christopher Mintz-Plasse. Setelah itu, film ini mulai berevolusi menjadi film superhero/sci-fi yang berkelas, yah Josh memang cerdik menahan keseruan film ini, memunculkan berbagai aksi-aksi super sedikit demi sedikit dan tiba-tiba “boom!”, tanpa sadar kita sudah berada di tengah atraksi dahsyat dengan tingkat ketegangan dan keseruan yang mengasyikan. Walau untuk urusan hingar-bingar efek khusus film ini dibatasi bujet 15 juta dolar-nya, hal tersebut tidak menghentikan Max Landis dan Josh Trank untuk menghibur kita, dan “Chronicle” selama 83 menit telah menyuguhkan aksi yang fun-tastic!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Deathgasm (...
Review - Some Kind o...
Review - Ouija: Orig...