Review: Ummi Aminah

written by Rangga Adithia on January 9, 2012 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with 2 comments

Review Ummi Aminah

Ada rasa yang sama di film-film besutan Aditya Gumay, sama seperti “Emak Ingin Naik Haji” dan “Rumah Tanpa Jendela”, filmnya di 2012 ini, “Ummi Aminah”, menawarkan sesuatu bernama “kesederhanaan”, formula mujarab yang membuat film-film Aditya jadi sesederhana itu juga mudah disukai, dicintai, dan “kena” di hati penontonnya. Filmnya sendiri akan bercerita tentang Ummi Aminah (Nani Wijaya), seorang   terkenal yang punya jamaah ribuan, setiap dia datang dari satu lokasi ceramah ke lokasi lain, pasti akan dipenuhi jamaah yang kebanyakan ibu-ibu. Kesibukan Ummi tidak membuat dia melupakan keluarga dan tanggung jawabnya sebagai seorang Ibu dari tujuh orang anak. Umar (Gatot Brajamusti), Aisyah (Cahya Kamila), Zarika (Paramitha Rusadi), Zainal (Ali Zainal), Zubaidah (Genta Windi), Zidan (Ruben Onsu), dan Ziah (Zee Zee Shahab).

Kehidupan berjalan apa adanya, sampai suatu ketika cobaan demi cobaan mulai hinggap di keluarga Ummi, semua cobaan tersebut datang bertubi-tubi, hingga membuat Ummi tidak lagi mau berceramah. “Ummi Aminah” memang akan terlihat klise dengan muatan reliji-nya yang sering ditawarkan oleh televisi, tapi sekali lagi semua ditampilkan sangat tidak berlebihan, konflik demi konflik, dan cobaan demi cobaan yang dihadirkan di film ini bisa datang kepada siapa saja, dan “Ummi Aminah” mengemasnya untuk tidak terlalu menggurui atau menakuti, film ini hanya punya niat baik sederhana untuk mengingatkan, sekaligus berusaha menyentuh hati penonton dengan pesan-pesan Ummi.

Hati, wilayah yang akan banyak “diserang” oleh “Ummi Aminah”, dan Aditya Gumay tahu bagaimana memasuki daerah sensitif tersebut tanpa harus mendobrak dengan paksa, sebaliknya penontonlah yang dengan sendirinya membuka pintu hati-nya untuk dimasuki oleh kehangatan seorang Ummi. Tanpa harus terburu-buru menuju konflik dan tergesa-gesa ingin mengumpulkan air mata penonton, film ini memilih untuk perlahan mengajak kita untuk berkenalan dengan sosok Ummi, yang diperankan dengan hebat oleh Nani Wijaya, menyalami satu-persatu anggota keluarganya, dari Abah (Rasyid Karim) yang bijaksana dan paling lucu, sampai istri Umar, Risma (Yessy Gusman) yang bisa dibilang menyebalkan. Hingga tanpa sadar film ini mengikat emosi penontonnya.

Review Ummi Aminah

Kala hubungan manis sudah terjalin antara penonton dan “Ummi Aminah”, barulah Aditya Gumay menyeret kita ke dalam konflik, tidak juga langsung begitu saja menjejalkan kita dengan berbagai adegan cengeng, konflik pun dibangun tidak untuk asal tempel tapi pas dengan apa yang ingin disampaikan, kita jadi tidak seperti penonton yang dipaksa hanyut dalam konflik dan terbawa arus melodrama tanpa mendapat apa-apa. Film ini justru membuat kita bisa merasakan apa yang Ummi dan keluarganya rasakan, cobaan yang silih berganti menimpa mereka dan bagaimana seorang Ummi menghadapinya jadi bukan hanya sebuah gambar yang disodorkan lalu hanya ditonton, tapi Aditya Gumay pun sanggup membuat adegan-adegannnya mudah “terbaca”, kita tidak saja jadi mengerti tapi hati ini pun dibuat mengangguk-ngangguk.

“Ummi Aminah” bisa dikatakan film serius dengan pembawaan yang santai, ketika film ini terbukti dengan mudah mampu mengaduk-ngaduk emosi penonton, ternyata perut kita pun ikut tergelitik lewat aksi-aksi lucu yang sesekali disajikan para pemainnya, sekali lagi dibuat tidak berlebihan, “pas” untuk sekedar meredakan ketegangan emosi dan saya punya sedikit waktu untuk membasuh pipi yang basah. Oh iya tentu saja saya memangis, walaupun apa yang disodorkan “Ummi Aminah” untuk memancing air mata tersebut tak ada bedanya dengan film-film drama berlinang kesedihan yang sebelumnya muncul, tapi film ini menampilkannya dengan jujur, tanpa memaksa-maksa meminta setetes air mata, mengemis simpati penonton, film ini tidak perlu melakukan itu. Klise? saya tidak lagi peduli ketika “Ummi Aminah” sanggup mengemasnya dengan jujur, alhasil respon balik dari saya pun jujur, menangis, sesederhana itu. Ketika lampu bioskop menyala, saya pun sibuk membersihkan jejak emosi yang terkuras oleh “Ummi Aminah”.

Untuk urusan akting, “Ummi Aminah” memang fokus kepada Nani Wijaya, dan sebagai seorang ustadzah sekaligus ibu, Nani Wijaya mampu melakonkan perannya dengan baik. Letupan emosi yang ditampilkan benar-benar sanggup menusuk ke dalam hati, ketika dia sedang marah, kita seperti sedang ikut dimarahi, dan akan merasakan adem ketika Ummi mulai melontarkan kata-kata bijaksana. Film sederhana dengan tokoh utama yang juga tak muluk-muluk, sama-sama sederhana. Ketika seorang Nani Wijaya sudah memegang kendali komando untuk memimpin paduan suara kesedihan, saya yang tadinya berusaha untuk menahan tangis, sambil teringat oleh Nenek yang baru saja meninggal dunia karena melihat Ummi, tidak bisa membendung luapan emosi dan pada akhirnya membiarkan sisi kiri dan kanan pipi ini dibasahi air mata. “Ummi Aminah” bukan saja film yang sanggup membuat saya menangis dengan kesederhanaan cerita tentang tegarnya seorang Ummi dalam menghadapi ujian, dan keluarga yang selalu ada di sampingnya, film ini pun tidak membiarkan kita keluar dari bioskop tanpa membawa apa-apa, yah tangan kita memang kosong, tapi cobalah tengok hati kita yang sudah terisi penuh oleh pesan-pesan manis dari sebuah film yang sejak awal memang tulus dan punya niat baik untuk “menghibur” hati.

Rating 3 Bintang

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Lights Out
Review - Don't Breat...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Danur (2017...