Review: The Iron Lady

written by Rangga Adithia on January 22, 2012 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Drama with no comments

Review The Iron Lady

Meryl Streep sudah terkenal maksimal jika sudah berurusan dengan akting, itu kembali dibuktikan disini, sebuah film biopik tentang Margaret “The Iron Lady” Thatcher. Walau bukan dipegang oleh orang Inggris sendiri, melainkan aktris kelahiran Amerika, tapi film ini benar-benar berhutang banyak dengan kehadiran Streep, saya tidak tahu apa jadinya jika Margaret Thatcher (MT) tidak diperankan olehnya. Bisa dibilang filmnya sendiri sudah kalah oleh performa satu orang pemainnya, yaitu Streep, bagaimana sempurnanya Streep bermetamorfosis menjadi MT sudah langsung terekspos di awal film. Film dibuka dengan seorang nenek-nenek yang kecewa dengan harga sekaleng susu yang dibelinya di sebuah minimarket, well saya sendiri baru sadar setelah beberapa menit, jika nenek-nenek tersebut adalah MT di masa tuanya, itupun karena seseorang memanggil namanya. Kalau begitu sejak tadi saya sedang melihat seorang Meryl Streep dibalik kulit keriput tersebut, saya benar-benar tidak mengenalinya sama sekali, Streep betul-betul “dipermak” habis-habisan, layaknya dia memakai tubuh Margaret Thatcher, amazing.

“The Iron Lady” pun beranjak dari bagaimana kita melihat Thatcher yang tua renta sudah tidak lagi se-iron selagi dia berkuasa menjadi perdana menteri Inggris, selain menderita dementia, dia seperti dihantui oleh rasa bersalah, hidupnya sekarang seperti hukuman atas ketidakpeduliannya terhadap keluarga, karena terlalu terobsesi dengan politik. MT di film ini memang digambarkan dari berbagai sudut, tidak saja kegigihannya yang mengispirasi tapi kebanyakan memang memotret dia dari sisi “tergelap”, ketika dia masih menjabat sebagai perdana menteri Inggris selama 11 tahun. Thatcher tua pun mengajak penonton ke masa-masa keemasannya, dari hanya seorang wanita yang dicemooh saat pertama kali masuk ke dunia politik, sampai akhirnya menjadi ketua partai, bergelut di dunia laki-laki dan kemudian merebut jabatan perdana menteri, untuk menjadi wanita pertama di Inggris untuk jabatan tersebut. Posisi MT di puncak kekuasaan tentu saja tidak melulu nyaman, karena Inggris pada masa itu sedang berada di masa-masa sulit, dari krisis ekonomi dan juga nantinya perang dengan Argentina memperebutkan pulau Falklands.

Banyak fakta kontroversial yang dikumpulkan “The Iron Lady” menjadi satu, kemudian diproyeksikan dalam potongan-potongan sketsa masa lalu. Sayangnya, film ini sepertinya bermain di zona yang aman dengan menampilkan fakta-fakta yang sudah tersedia gratis di wikipedia. Bayangan saya adalah film ini memperlihatkan cerita dibalik keputusan-keputusan kontroversial yang dibuat Thatcher, mungkin ketika kita merasa geram melihat bagaimana Thatcher begitu dipenuhi oleh ego, perasaan yang sama ketika menonton ibu-ibu jahat di sinetron, kita bisa berbalik bersimpati jika ada “alasan” di balik keputusan-keputusan tersebut, seperti memulai perang dengan memutuskan menembakan misil lebih dulu, mendengarkan bujuk rayu para petinggi militer ketimbang kabinetnya. Jika saja ada “alasan” lain selain ego yang bisa diungkap, mungkin itu bisa membuat saya lebih dekat dengan “The Iron Lady”. Namun nyatanya, film ini menampilkan yang sebaliknya, masa lalu Thatcher ibarat ingatannya di masa tua yang sudah berantakan, potongan-potongan gambar pun disusun tidak terlalu nyaman untuk ditonton, ditambah dengan scoring dan musik yang kadang tidak sejalan dengan adegan yang disuguhkan. Kecuali ketika banyak gambar kerusuhan yang disajikan pas dengan background musik punk rock, itupun bagi saya tidak terlalu pas dengan film yang seharusnya lebih “halus”.

Review The Iron Lady

Sebagai cara film ini untuk menarik simpati, setelah dibuat melongo dengan urutan fakta kontroversial MT, termasuk “meninggalkan” keluarga demi karir, satu-satunya fakta lain yang ditampilkan untuk meng-counter semua kejelekan MT adalah gambaran prihatin MT pada masa tuanya, yang menurut saya terlalu dipaksa oleh Phyllida Lloyd untuk jadi bagian menyedihkan di film ini, tapi tetap saja belum terlalu banyak membuat saya jadi terikat kuat dengan film ini. Walaupun bagian MT yang selalu terlihat ngomong sendiri dengan suaminya yang sudah meninggal itu selalu mampu membuat saya tersentuh, yah memperlihatkan betapa berat beban yang dipikul MT, dan ketidaksiapannya menerima kenyataan, termasuk suaminya yang konyol itu tidak lagi ada disampingnya. Bagaimana pun “The Iron Lady” tampaknya tidak bisa dilihat sebagai film yang menginspirasi, toh walaupun MT mendobrak dunia pria dengan kegigihannya, tapi nilai positifnya justru kalah jika dipaksa untuk berduel dengan ego MT ketika masih berkuasa. Tidak menjadi film yang inspiratif, saya tidak peduli, karena toh saya menonton film ini tidak untuk mencari-cari nilai moral atau sesuatu untuk dijadikan inspirasi, sebatas untuk mengenal lebih dekat dengan MT, inspirasi dan moral cerita akan muncul sendiri tanpa dicari, kita ambil nanti setelah film selesai, disimpulkan, jadi tidak mengganggu kenikmatan pada saat menonton karena sibuk mencari-cari pesan moral blablabla.

Akting sempurna Meryl Streep tidak kemudian jadi sia-sia, Phyllida Lloyd, sutradara yang sebelumnya juga berkolaborasi dengan Streep di “Mamma Mia!” tidak serta merta langsung saya cap membuat film biopik gagal. “The Iron Lady” hanya kekurangan cara bercerita yang membuat saya nyaman menontonnya, tumpukan sketsa tentang perjalanan MT masih tetap bisa menghibur dan memberi pengetahuan baru, walau sayangnya masih banyak yang belum diungkap dari film ini. “The Iron Lady” ditopang oleh banyak fakta sejarah sebagai latar belakang bangkitnya seorang MT, dari seorang anak pengusaha toko hingga dia sukses terpilih menjadi perdana menteri Inggris, namun saya tidak melihat ada keinginan film ini untuk fokus pada keluarga MT, hubungannya dengan Denis Thatcher, yang diperankan dengan sangat baik oleh Jim Broadbent, diceritakan separuh-paruh, dan tidak meninggalkan kesan apa-apa. “The Iron Lady” memang film tentang Thatcher dan film ini tahu bagaimana “menyeret” kita ke dalam banyak kisah dalam hidupnya, yang terkumpul menjadi semacam mozaik masa lalu, susunannya yang agak berantakan itulah yang membuat saya agak bosan dan dengan durasi 100 menitan, film ini sangat terasa panjang. Akting jagoan Meryl Streep-lah yang menyelamatkan film ini, tidak hanya dia mampu bertransformasi menjadi Thatcher secara fisik, dibantu departemen make-up yang menurut saya sinting, tapi Streep sekali lagi bisa memberi nyawa pada wujud Thatcher yang sudah sempurna itu, dengan menambahkan suara yang juga sempurna. Seperti apa yang pernah ia lakukan pada karakter Julia Child dalam “Julie & Julia”. Bravo Streep!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Ada Apa Den...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Ouija: Orig...
Review - Before I Wa...