Review: Paranormal Activity 3

written by Rangga Adithia on January 15, 2012 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with no comments

Review Paranormal Activity 3

Bohong kalau saya bilang tidak penasaran dengan setiap seri “Paranormal Activity” yang muncul setelah film pertama sukses besar, tidak saja dalam soal meraup keuntungan tapi membuat penontonnya jantungan. “Paranormal Activity 2” walau tidak lagi menawarkan sesuatu yang baru, dengan dosis menakut-nakutinya yang di-dobel—seakan franchise ini tahu benar apa yang diinginkan penonton tapi tidak mau kehilangan trademark dari film pertama, sekuelnya tetap mampu menciptakan ketegangan di setiap momen menakutkan yang terekam. Ketika tulisan “Night #1” dan seterusnya muncul di layar, ada semacam pemberitahuan di awal yang mengisyaratkan: bersiaplah untuk lompat dari kursi. Setelah semua berakhir, “Paranormal Activity 2”, sama seperti predesesornya pun dengan cerdik meninggalkan setumpuk pertanyaan kepada penontonnya. Jawaban dari tanda tanya yang selama ini tersimpan akhirnya akan dijawab oleh “Paranormal Activity 3” (PA 3).

Saya tahu PA 3 akan menjejalkan kita dengan kemasan film “rumah hantu” yang sama: rekaman-rekaman video dari berbagai sudut yang berisi benda-benda bergerak, bayangan, suara-suara aneh, dan bla-bla-bla, biarlah “sesuatu” yang sudah ditampilkan film pertama akan tetap disana, saya tidak akan banyak ngomel, karena yang saya inginkan adalah ditakuti dan dibuat melompat dari kursi, dan setahu saya “Paranormal Activity” sanggup melakukan itu, percayakan jantung kalian kepada film ini. PA 3 kembali mengajak kita untuk mundur, tidak di tahun 2000-an seperti film pertama dan kedua, tetapi tahun 1988, dimana dua kakak-beradik, Katie (Chloe Csengery) dan Kristi (Jessica Tyler Brown), pada saat itu diceritakan masih kecil. Kehidupan Katie, Kristi, dan keluarganya begitu normal, yah itu awalnya, sampai suatu ketika rumah mereka mulai “tidak nyaman”, ditambah Kristi yang sering berlaku aneh dengan teman khayalannya. Dennis, kekasih Julie, ibu Katie dan Kristi pun mengambil inisiatif untuk meletakkan kamera di berbagai sudut rumah, tujuannya untuk menangkap segala aktivitas ganjil di rumah mereka. Kita tahu apa yang akan terjadi selanjutnya… basi? saya tidak peduli.

Seperti keinginan saya yang tidak muluk-muluk, hanya ingin ditakuti, PA 3 juga ternyata tidak muluk-muluk dalam soal bercerita, dari segi cerita memang tidak banyak yang akan dieksplor oleh film yang kali ini disutradarai oleh duo Henry Joost dan Ariel Schulman (Catfish). Misteri yang dijejalkan sudah cukup untuk membuat saya betah nongkrong di ruang tamu rumah keluarga Katie dan Kristi, menunggu dengan sabar penampakan apa yang akan disuguhkan film ini. Isi cerita memang “begitu doang”, toh bagi saya paling penting bagaimana cerita tersebut nyambung dengan film pertama dan kedua, dan film ketiga ini saya akui masih terbilang cukup cerdik dalam soal meracik ceritanya, sanggup membuat bengong dengan fakta-fakta baru seputar keluarga Katie dan Kristi, walaupun dari awalnya sudah bisa ditebak tapi saya tidak mau kelihatan sok pintar. Cerita yang kali ini ditulis oleh Christopher Landon, yang juga ikut andil dalam penulisan cerita di film kedua, pun bisa menjawab tanda tanya besar yang ditinggalkan film sebelumnya.

Review Paranormal Activity 3

84 menit tentunya tidak akan dihabiskan PA 3 untuk bercerita saja, dengan kadar cerita secukupnya, selanjutnya film ini punya banyak waktu untuk bermain dengan penonton, menantang mental, menggenjot adrenalin dan mengencangkan volume jerit mereka. PA 3 sanggup melakukan itu semua hanya dengan beberapa kamera yang terpasang di kamar tidur utama dan anak-anak, oh satu lagi kamera bergerak ciptaan Dennis—salah satu hal terkeren dari film ini, yang belum pernah ditawarkan film-film sebelumnya. Beberapa kamera video yang dipasang oleh Dennis inilah yang akan menjadi mata dan telinga kita, menjadi saksi bahwa rumah tersebut memang berhantu. Untuk membuktikan jika rumah tersebut ada penunggunya, Henry Joost dan Ariel Schulman tidak lagi banyak basa-basi dengan video-video yang hanya menampilkan pintu bergerak atau suara langkah kaki, bisa dibilang film ini tidak lagi membiarkan kita punya waktu untuk “pemanasan”. PA 3 lebih memilih untuk langsung menjambak rambut penonton dan menyeret mereka dalam teror demi teror yang level kengeriannya lebih meningkat ketimbang film kedua.

Saya suka sekali ketika film ini mulai bermain dengan setiap kamera yang dipasang, seperti juga pendahulunya, PA 3 juga bisa mempermainkan rasa penasaran dan antisipasi penontonnya. Sebelum ada penampakan, film ini sudah lebih dahulu menghantui dengan apa yang belum ada di layar, keseruan ditakuti-takuti makin bertambah asyik, pada saat film ini dengan cerdik dan pas bisa menempatkan momen-momen mengagetkannya di waktu-waktu yang tidak diprediksi, kadang saya tahu kapan film ini akan mulai “iseng”, tapi tetap saja kesiapan saya untuk dikagetkan tidak berhasil, karena toh film ini tetap saja bisa membuat saja mencari-cari jantung saya yang jatuh ke bawah kursi. Semua hal menakutkan di PA 3 pun makin real ketika ditopang oleh akting hebat para pemainnya. Ketika mereka merasa takut, dengan akting yang tidak berlebihan, ketakutan tersebut langsung menjalar ke setiap kursi penonton, termasuk kursi saya yang berada di deretan paling tengah. “Paranormal Activity 3”, bisa dikatakan punya level mengerikan setingkat lebih seram dengan film kedua tapi tidak akan se-original film pertama, Henry Joost dan Ariel Schulman punya waktu 84 menit untuk membuat saya kencing di celana, dengan rasa malu saya katakan mereka berhasil melakukan itu, tapi saya senang karena film ini sudah mengabulkan keinginan saya di awal, yaitu untuk ditakuti-takuti.

Rating 3.5 Tengkorak

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Munafik (20...
Review - Ouija: Orig...
Review - The Girl wi...