Review: Mother Keder: Emakku Ajaib Bener

written by Rangga Adithia on January 23, 2012 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with no comments

Seharusnya saya menonton “Mother Keder: Emakku Ajaib Bener” terakhir, ketimbang “Xia Aimei” yang justru membuat saya depresi pulang kerumah. Jadi urutannya adalah, nonton “Xia Aimei”, baru “Mother Keder”, well nasi sudah menjadi bubur, setidaknya dari dua film yang saya tonton pada hari yang sama, tidak semuanya menghasilkan muka kecut, “Mother Keder” jadi terlihat lumayan menghibur ketimbang film sailormoon itu. Untuk sebuah film yang dari awal memang niat untuk ngelawak, “Mother Keder” yang merupakan debut Eko Nobel ini sudah melakukan start yang benar, dengan tanpa basa-basi menampilkan beberapa kekonyolan lewat karakter Vivi (Qory Sandioriva) dengan beberapa tambahan grafis yang juga tidak kalah konyol.

Jadi ceritanya, si Vivi ini baru saja memutuskan untuk berhenti dari kantornya karena sudah tidak tahan dengan bos-nya, kita bisa melihat kekonyolan film ini ketika Vivi diceramahi oleh sang bos, dari sudut pandangnya si bos justru terlihat lucu dengan visual-visual menggelikan, cukup kreatif  walau lama-kelamaan jadi cukup mengganggu juga. Tidak hanya itu, ketika Vivi sedang galau ada saja kelakuan film ini untuk menambahkan suasana komedi, misalnya sebuah papan iklan rokok yang tiba-tiba hidup, nilai plus untuk “Mother Keder”, karena bisa membuat saya tersenyum dengan detil sekecil itu, jarang film komedi Indonesia melakukan itu. Tentu saja “Mother Keder” tidak berhenti dengan usahanya untuk membuat penonton tertawa hanya sampai disitu, Vivi yang tidak saja kehilangan pekerjaan tapi juga kekasih, akhirnya memutuskan untuk kembali tinggal di rumah orang tuanya, disinilah Vivi yang juga agak ajaib, harus beradaptasi lagi dengan keluarganya yang super-ajaib, termasuk ibunya yang paling esentrik.

“Mother Keder” pun melanjutkan aksinya menggelitik saya…lucu? nga semuanya. Film ini jelas terselamatkan oleh Ira Maya Sopha si putri cinderela, berperan sebagai ibu yang “tidak normal”, Ira seperti begitu lepas berakting, tidak terlihat kekauan dalam wajahnya pada saat melihat dia melancarkan aksi-aksi lawakannya, sekalipun harus melibatkan segala keteklah ke dalam beberapa dialognya yang sekali lagi diniatkan untuk konyol. Ya anggota keluarga lainnya juga dihadirkan untuk lucu, tapi tetap saja ibu yang satu ini jadi yang paling stand out karena sesuai judul filmnya, Eko Nobel memang fokus menjadikan Ira untuk “ajaib”, dan Ira sendiri melakukan pekerjaan rumahnya dengan baik. Entah itu dibantu oleh pemain lain atau sedang melawak sendirian, Ira mampu menghasilkan sisi komikal dalam dirinya, hasilnya saya akui berhasil, walau beberapa kali saya anggap juga terlalu garing untuk dilahap, apalagi ketika saya melihat cerita sudah mulai berada dalam titik membosankan. Tapi sekali lagi Ira sukses menampar saya untuk bangun dari “tidur” dengan deretan kekonyolan yang dijejalkannya dalam “Mother Keder”.

Film yang diadaptasi dari novel karya Viyanthi Silvana, berjudul sama ini tidak jadi milik Ira Maya Sopha, disana masih ada Qory Sandioriva, Puteri Indonesia tahun 2009, yang berperan sebagai Vivi, karakternya disini benar-benar jauh dari kesan anggun, dan Vivi saya akui mampu untuk ikut-ikutan konyol, walaupun tidak diberi porsi sekonyol ibunya. Sebagai yang paling tua, Vivi nantinya juga tidak saja jadi orang yang membawa masalah ke rumah tetapi juga menjadi penengah ketika konflik demi konflik sederhana dihadirkan di film ini. Tidak kalah ajaib dari Ira, Pong Hardjatmo juga tampil konyol disini, sebagai bapaknya anak-anak yang kadang bisa jadi bijaksana dan nyeleneh. Ada satu hal yang paling menakutkan dari Pong dalam film ini, yaitu jus sayurannya, tidak saja jadi mimpi buruk bagi anak-anaknya tetapi juga saya yang menonton, eww jus sayuran hahaha.

Dari banyaknya tampilan komedi yang ingin disajikan, “Mother Keder” sebetulnya juga adalah film tentang sebuah keluarga, walaupun dikemas dengan presentasi konyol. Ada juga tempelan drama yang menghiasi panggung komedi di “Mother Keder”, sayangnya porsi drama tersebut tidak semenarik yang saya harapkan, apalagi jika Ira Maya Sopha tidak dilibatkan didalamnya. Bukan berarti jelek secara keseluruhan, beberapa memang kurang memberi dampak yang signifikan dalam cerita tetapi ketika film ini sudah mulai memainkan emosi penonton dan sebentar menjauhkan kekonyolannya, “Mother Keder” secara tiba-tiba berubah menjadi film yang menyentuh, masih dalam ruang lingkup tema keluarganya. Ajaibnya, saya akui Eko Nobel mampu menggiring penonton sebentar ke suasana “serius” tersebut, tanpa harus dipaksakan, sepertinya walaupun saya beberapa kali dikecewakan oleh lawakannya yang garing, tapi lambat laun tanpa saya sadari sendiri keluarga ini diam-diam sukses mengikat benang tak terlihat bernama chemistry. Mungkin itulah yang membuat saya masih bisa bertahan, selagi dihajar berbagai kekonyolan emak dan penghuni rumah di “Mother Keder”.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Wailing...
Review - Before I Wa...
Review - The Eyes of...
10 Film Indonesia Te...