Review: Contraband

written by Rangga Adithia on January 29, 2012 in Action and CinemaTherapy and Hollywood and Thriller with one Comment

Mark Wahlberg memang tidak terdaftar sebagai anggota “Ocean’s Eleven”, tapi pria kelahiran 5 Juni 1971 ini tercatat dalam kelompok klub mini cooper yang berisikan para pencuri berkelas, bernama “The Italian Job”. Sederet film action, diantara film serius dan komedi, pernah dia mainkan, jadi tampaknya di “Contraband”, Wahlberg bisa memerankan Chris Farraday, seorang mantan penyeludup, sambil tidur. Chris diceritakan sudah lama “pensiun” dari pekerjaan kotornya dan hidup secara normal dengan pekerjaan halal, di bidang jasa pemasangan alarm. Hidupnya bisa dibilang bahagia, dengan istrinya, Kate (Kate Beckinsale), dan dua orang anak laki-laki. Tapi pada suatu hari, Chris mendapat berita buruk jika adik Kate, Andy (Caleb Landry Jones), terlibat penyelundupan obat terlarang. Andy beruntung bisa menghindar dari hukum, namun dia tidak bisa mengelak dari bandar narkoba yang memberinya pekerjaan tersebut, Tim Briggs (Giovanni Ribisi). Andy dipaksa untuk membayar hutangnya, $700,000, dengan jaminan nyawanya, mengetahui Andy tidak akan bisa melunasi hutangnya, Chris pun dengan sangat terpaksa kembali ke dunia yang telah lama ia tinggalkan. Untuk urusan menyelundupkan barang ilegal, Chris bisa dibilang jagonya, dia adalah Houdini dalam dunia penyelundupan.

Tidak ada yang istimewa dalam “Contraband”, kemasannya lebih cocok untuk film yang “seharusnya” ditonton di DVD, di rumah sambil ngemil kacang dan minuman buatan sendiri, ketimbang duduk sampai pegal di bioskop menunggu Wahlberg dan anak buahnya menyelesaikan misinya. Tapi bukan berarti “Contraband” adalah film yang buruk, kata “seru” setidaknya masih bisa saya sematkan dalam film yang di-remake dari film asal Islandia, berjudul “Reykjavík-Rotterdam”. Baltasar Kormákur, yang di film aslinya ikut bermain, sekarang naik pangkat untuk menyutradarai versi Hollywood-nya ini. Sekali lagi ini bukan film yang buruk dan performa Wahlberg pun tidak buruk, hanya saja semua serba “biasa saja”, Wahlberg pun bermain dalam mode yang standar-standar saja. Tampilan yang sering kita lihat di film-film sejenis sebelumnya, tampang sok jagoan Wahlberg akan berkeliaran disini.

“Contraband” tidak hanya menyorot Wahlberg sebagai bintang utama, sebagai bisa dibilang pemanis, ada Kate Beckinsale, walaupun sayangnya porsinya terlalu kecil disini jika dibandingkan performanya yang cukup baik. Bukan hanya Wahlberg yang nantinya dipaksa untuk baku hantam, tapi juga Kate, tapi ia disini hanya berperan sebagai seorang istri biasa, bukan sebagai Selena, jagoan berdarah vampir, jadi yah jangan berharap ada perlawanan yang sengit, semangatnya untuk melindungi diri sendiri dan keluarga sudah lebih dari cukup, nilai plus untuk Kate. Ben Foster yang di film ini memerankan sahabat Chris, Sebastian Abney, juga tampil okay, mampu membuat saya bertanya-tanya tentang karakternya yang berada di daerah abu-abu. Sedangkan Giovanni Ribisi, yang diberikan porsi antagonis, bos narkoba, tidak juga tampil buruk, cukup badass dengan tato dimana-mana, menjadi ancaman serius bagi keluarga Farraday dan sukses membuat saya kesal di sepanjang film.

Baltasar Kormákur tidak memaksakan “Contraband” untuk punya cerita yang rumit dan bertele-tele, ia tahu ingin membawa filmnya ke arah mana, aksi Wahlberg saat menyelundupkan barang demi keluarganya tetap jadi fokus Baltasar, walaupun tak banyak, kita akan beberapa kali berada di posisi yang menegangkan dan itu sudah cukup untuk membuat saya betah berlama-lama di dalam bioskop. “Contraband” memang tidak sepintar itu dalam menyajikan aksi-aksi penyeludupan, tapi tidak pernah membuat saya bosan ketika Wahlberg dan kawan-kawannya sudah mulai mengesekusi rencana “sederhana” mereka. Ditambah makin seru saat rencana yang sepertinya mudah tersebut berbalik tidak berjalan sebagaimana mestinya, yah tentu saja itu sudah bisa ditebak, jika tidak film ini akan punya durasi yang singkat.

Konflik demi konflik pun satu persatu “diselundupkan” oleh Baltasar, walau terlihat agak dipaksakan, tapi tetap bisa membaur dengan cerita yang sedang bergulir. Yah Baltasar memang sanggup membuat filmnya menghindar dari tipikal film sejenis yang membosankan. “Contraband” memang tidak terlalu istimewa dalam usahanya membawakan tema action-thriller tapi tingkat keseruannya dan bagaimana Baltasar beberapa kali sanggup menempatkan penonton dalam ketegangan yang pas, bikin film ini beruntung masih berada di posisi okay bagi saya, sebuah film yang masih bisa menghibur dengan mengedepankan aksi-aksi penyeludupan yang mengejutkan tapi tidak begitu brilian juga. Fans Mark Wahlberg pastinya tidak akan melewatkan filmnya yang satu ini, performa akting yang sekali lagi bisa dia lakukan sambil tidur, tapi jangan berharap banyak pada filmnya sendiri.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
20 Film Indonesia Wa...
Review - Ouija: Orig...
Review - Under the S...