10 Film Indonesia Terbaik di 2011 (Bagian 2)

written by Rangga Adithia on January 3, 2012 in CinemaTherapy and Features and Film Indonesia with 9 comments

Film Indonesia Terbaik 2011

Saya lanjutkan daftar film Indonesia terbaik di 2011 yang terpotong di bagian pertama dimana “Tendangan dari Langit” menurut saya pantas menempati posisi 6 dengan segala keseruan sepakbolanya. Tanpa banyak berbasa-basi lagi dan faktanya saya pun sedang malas menulis (hahaha), mari lanjut ke posisi kelima sampai pertama, tapi sebelumnya ada beberapa judul yang mau lewat, film-film yang tidak masuk 10 besar tapi sangat layak untuk diberi label Special Mention, diantaranya 5 Elang, The Perfect House, Serdadu Kumbang, Rumah Tanpa Jendela, Khalifah, dan Arisan! 2.

Catatan Harian Si Boy

05. Catatan Harian Si Boy | Sutradara: Putrama Tuta | Penulis: Priesnanda Dwisatria, Ilya Sigma | Pemain: Ario Bayu, Carissa Puteri, Poppy Sovia, Abimana, Paul Foster, Albert Halim, Tara Basro | 99 menit | Drama | Rilis: 25 Juni 2011

“Keren banget”, itu kata-kata yang pertama keluar dari mulut saya, ketika credit bergulir menutup perjalanan manis “Catatan Harian Si Boy”, saya kemudian melanjutkan “akhirnya, satu lagi film bagus di tahun ini”.  “Catatan Harian Si Boy” adalah sebuah hiburan yang lengkap, ini adalah contoh film yang nyangkut di otak dan membekas di hati. Sebuah film yang sehabis selesai masih seru untuk dibicarakan dan membuat kita ingin menontonnya lagi, film yang mudah disukai dan dirindukan lebih tepatnya. Cerita menarik, asupan konflik-konfliknya mampu diselesaikan dengan baik, karakter-karakter yang hebat, dan ada balapannya cing! tidak banyak karena ini juga bukan film balapan. “Catatan Harian Si Boy” dengan mudah membuat saya mencintai film ini dengan ceritanya yang juga tanpa basa-basi, layaknya si Satrio. Great job Putrama Tuta!

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

04. 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita | Sutradara: Robby Ertanto | Penulis: Robby Ertanto | Pemain: Jajang C Noer, Marcella Zalianty, Olga Lydia, Hengky Solaiman, Tamara Tyasmara, Happy Salma, Rangga Djoned, Tegar Satria, Verdi Solaiman, Bombom Gumbira, Achmad Zaki, Intan Kieflie | 89 menit | Drama | Rilis: 18 Mei 2011

“7 Hati 7 Cinta 7 Wanita” punya semangat perempuan yang tinggi, berteriak keras untuk berontak dari tradisi film-film Indonesia yang biasanya membatasi ruang gerak mereka, disini kodrat perempuan tidak hanya setia di belakang dapur dan di ranjang saja. Namun diberi kesempatan lebih leluasa untuk bercerita tentang apapun yang ada dihati mereka, bercerita tentang cinta dan juga ketika mereka jadi “korban” cinta itu sendiri. Robby pun menampilkan isu-isu para perempuan disini agar mudah dicerna tanpa harus menggurui penontonnya. Digarap dengan baik, walau masih meninggalkan jejak minus disana-sini dan ending-nya yang agak diakhiri terburu-buru, “7 Hati 7 Cinta 7 Wanita” masih dapat dikatakan berhasil menyampaikan cerita, hiburan, dan sekaligus pesan-pesannya.

The Mirror Never Lies

03. The Mirror Never Lies | Sutradara: Kamila Andini | Penulis: Dirmawan Hatta, Kamila Andini | Pemain: Atiqah Hasiholan, Reza Rahadian, Gita Novalista, Eko, Zainal, Halwiyah, Darsono | 100 menit | Drama | Rilis: 5 Mei 2011

“The Mirror Never Lies”, menyajikan keindahan alam yang begitu eksotik, hamparan laut yang mempesona sepanjang mata memandang, dan kehidupan bawah laut yang tak akan pernah berhenti membuat saya terkesima. Ya inilah “harta karun” milik Indonesia yang jarang terjamah oleh film-film kita. Ceritanya mengalir begitu saja tetapi tidaklah membuat apa yang mau diceritakan menjadi kehilangan arah, cara Kamila bercerita pun bisa dibilang tidak membuat kita menjadi buru-buru ingin meninggalkan Wakatobi, tapi sebaliknya nyaman, betah duduk di kursi penonton sambil mengunyah setiap kisahnya sekaligus menjaring segala keindahan dan juga menyelam untuk mengambil pesan-pesan yang ditawarkan film ini. Apalagi selain mempertemukan kita dengan kehidupan suku Bajo yang tinggal di atas laut, kemudian memperkenalkan kita dengan kecantikan Wakatobi, “The Mirror Never Lies” juga dengan baik hati ikut mengajak penonton untuk melihat kebudayaan asli disana.

The Raid

02. The Raid | Sutradara: Gareth H Evans | Penulis: Gareth H Evans | Pemain: Iko Uwais, Pierre Gruno, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman, Ananda George, Eka Rahmadia, R Iman Aji, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian | 101 menit | Action | Tayang di Indonesia International Fantastic Film Festival 2011

Gareth oh Gareth, dia tidak saja tahu bagaimana mengumpankan banyaknya porsi laga di “The Raid”, tangan kosong ayo! main tembak-tembakan juga hayo, tapi juga bagaimana dia sanggup menampilkannya menjadi berkelas. Tidak ada yang tidak spektakuler dalam setiap adegan laga yang ditawarkan ke hadapan mata-mata penonton yang terus meminta lebih banyak bag-big-bug-crot. Semua itu dikemas dengan koreografi fantastis, diarahkan oleh Gareth, Iko Uwais dan Yayan Ruhian, yang di film ini berperan sebagai orang paling badass bernama Mad Dog, dari namanya saja sudah sangar. Mau pertarungan dengan senjata tajam, satu lawan satu, atau satu orang lawan penjahat satu kampung, film ini tak pernah membiarkan penontonnya untuk menoleh ke arah lain, walaupun ada pocong yang melintas, mata kita akan dipaksa atau bahkan dipaku untuk tetap menatap layar, ketika Iko dan Yayan mulai pamer skill “menari” mereka. Iya saya sebut menari, karena gerakan yang ditampilkan oleh “The Raid” memang indah seakan sebuah tarian. Semua disajikan dengan “gemulai”, arah pukulan dan tendangan, dan bagaimana pada akhirnya seseorang terbunuh dalam pertarungan betul-betul disiapkan dengan serius untuk menjadi hiburan.

Sang Penari

01. Sang Penari | Sutradara: Ifa Isfansyah | Penulis: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn | Pemain: Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot | 109 menit | Drama | 10 November 2011

Tatapan mata Prisia Nasution sebagai Srintil ketika menari tidak saja menghipnotis, tapi juga seperti berkata kepada saya yang sedang duduk ter-nganga-nganga takjub melihat film ini, “jangan tertidur, tonton saya sampai selesai, nanti ada hadiah kelambu”. Walau pada akhirnya “kelambu” yang saya tunggu-tunggu tak pernah saya dapati, “Sang Penari” memberikan saya hadiah lain, sebuah kenikmatan yang jarang saya dapatkan dari sebuah film Indonesia. Ifa Isfansyah telah membuat film tentang cinta yang sangat indah, baik dari segi cerita maupun dari gambar yang ditawarkan, belum lagi sajian sinematografi yang digelar oleh seorang Yadi Sugandi, sekali lagi Yadi telah membuat apa yang saya tonton menjadi lebih cantik. “Sang Penari” perlahan mampu menjerat saya, lewat semua gerakan tarian itu, akting mempesona Prisia Nasution dan chemistry apiknya dengan Oka Antara sebagai Rasus, dan tentu saja kisah romansa mereka yang luar biasa. Srintil dan Rasus begitu romantis walaupun selama film bergulir tidak satu kata cinta pun keluar dari mulut mereka, tapi kita tahu mereka saling mencintai, sangat. Kita begitu terikat dengan hubungan mereka, dan film ini sanggup membuat kita merasakan manis dan pahitnya perjalanan cinta Srintil dan Rasus, termasuk melewati masa kelam dari sejarah bangsa ini. Srintil sepertinya enggan melepaskan ikatan selendangnya, begitu juga dengan saya yang memang tidak mau kehilangan satu detikpun, “Sang Penari” telah membuat saya nyaman dan menyentuh hati saya dengan keindahannya, film terbaik yang dimiliki Indonesia.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Indonesia K...
Review - The Wailing...
Review - Blair Witch...
Review - Headshot